Luasan Karhutla di Riau 18 Ribu Ha Lebih

Tim Redaksi • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 11:29 WIB
Tim Manggala Agni Siak melakukan pemadaman karhutla di Desa Dayun, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Sabtu (5/9/2026). (Manggala Agni untuk Riau Pos)
Tim Manggala Agni Siak melakukan pemadaman karhutla di Desa Dayun, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Sabtu (5/9/2026). (Manggala Agni untuk Riau Pos)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan Damkar) Provinsi Riau mencatat luas lahan terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah terus bertambah. Berdasarkan laporan harian terdapat penambahan 87,9 hektare lahan terbakar. Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, penambahan luasan terbesar terjadi di Kabupaten Pelalawan, yakni 64,4 hektare. Dengan tambahan tersebut, total luas lahan terbakar di Pelalawan sudah mencapai 6.705,39 hektare. 

“Kemudian di Indragiri Hilir (Inhil) mengalami penambahan 10,5 hektare, sehingga total luas lahan terbakar mencapai 1.044,52 hektare. Kemudian Indragiri Hulu (Inhu) bertambah 10,5 hektare, dengan total mencapai 615,52 hektare,” kata M Edy Afrizal, Sabtu (5/8).

Penambahan lainnya terjadi di Rokan Hulu (Rohul) mengalami tambahan 0,5 hektare, dengan total luas lahan terbakar mencapai 34,46 hektare. Meranti bertambah 1 hektare total 218,45 hektare, sedangkan Kuantan Singingi (Kuansing) bertambah 1 hektare, total 70,87 hektare. Namun untuk wilayah Siak, Bengkalis, Rokan Hilir (Rohil), Dumai, Pekanbaru, Kampar dilaporkan nihil penambahan lahan terbakar. 

“Laporan harian ini terus berubah sesuai situasi lapangan setiap harinya. Dari data kita terima kemarin, penambahan lahan terbakar sebanyak 87,9 hektare,” ujarnya.

Adapun berdasarkan total luasan lahan terbakar di Riau terhitung 1 Januari 2026 hingga sekarang, Bengkalis masih menjadi daerah dengan luasan terbesar, yakni 8.454,40 hektare. Disusul Pelalawan 6.705,39 hektare, Inhil 1.044,52 hektare, Inhu 615,52 hektare, dan Dumai 556,01 hektare. 

Kemudian, Rohil tercatat 452,53 hektare, Siak 373,06 hektare, Kampar 141,66 hektare, Pekanbaru 103,33 hektare, Meranti 218,45 hektare, Kuansing 70,87 hektare, serta Rohul 34,46 hektare. Total lahan terbakar tercatat mencapai 18.770 hektare.

“Ini data keseluruhan terhitung awal Januari 2026,” papar Edy. 

Hotspot Menurun, Riau Masih Dikepung Kabut Asap 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) Pekanbaru kembali menurunkan penurunan jumlah titik panas di Provinsi Riau, Sabtu (5/9).

Menurut Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru Yasir Prayuna, berdasarkan pantauan radar citra satelit BMKG Pekanbaru sejak pukul 16.00 WIB, total titik panas (hotspot) wilayah Sumatera mulai mengalami perubahan dari sebelumnya 4.000 lebih kini hanya tersisa sebanyak 2.253 titik panas. Ribuan titik panas ini masih tersebar di sejumlah daerah di Pulau Sumatera di antaranya Provinsi Sumatera Selatan yang mendominasi jumlah titik panas sebanyak 1.379, disusul Provinsi Bangka Belitung 200, Provinsi Jambi 188 , Provinsi Riau 191 titik panas, Provinsi Lampung 145 titik. Kemudian ada Provinsi Aceh dengan 11 titik panas, Bengkulu 36, Sumatera Barat 39, Sumatera Utara 9, dan Provinsi Kepulauan Riau 55 titik panas.

Untuk sebaran titik panas di Provinsi Riau terdapat sepuluh daerah yang ikut menyumbang hotspot. Di antaranya Kabupaten Indragiri Hulu yang sebelumnya tidak mengalami tanda peningkatan jumlah titik panas kini ikut alami lonjakan yang cukup signifikan menjadi 76 titik panas, disusul Kabupaten Indragiri Hilir dengan 42 titik panas, Kabupaten Siak 38 titik panas, Kabupaten Bengkalis 5, Kabupaten Kepulauan Meranti 9, Kabupaten Kuantan Singingi 4, Kabupaten Pelalawan 4 Kabupaten Rokan Hilir 1, Kabupaten Rokan Hulu 5, dan Kota Dumai 7.

“Masih tingginya jumlah titik panas di Provinsi Riau membuat sejumlah kota di Riau masih diselimuti kabut asap dan jarak pandang yang juga terbatas. Jarak pandang di Pekanbaru tercatat 3,5 kilometer, Rengat jarak pandang hanya tersisa 5 kilometer, Pelalawan 5 kilometer, dan Tambang 4 kilometer dengan masih diselimuti kabut asap tipis hingga tebal,” tegasnya.

437 Kasus Gangguan Kesehatan Muncul di Kampar
Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar mencatat 437 kasus gangguan kesehatan yang masuk dalam laporan pemantauan dampak kesehatan selama 1–4 September 2026. Dari jumlah tersebut, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi yang paling banyak ditemukan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar, Zulhendra Das’at, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Elfian, mengatakan data tersebut merupakan hasil pemantauan laporan harian dari sejumlah puskesmas di Kabupaten Kampar. Pemantauan dilakukan di tengah kondisi kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Pada 1 September 2026 tercatat 122 kasus ISPA, kemudian 125 kasus pada 2 September. Selanjutnya, terdapat 79 kasus pada 3 September dan 88 kasus pada 4 September,” ujar Elfian, Jumat (4/9).

Berdasarkan laporan tersebut, total kasus ISPA selama empat hari mencapai 414 kasus. Jumlah itu menjadi kelompok penyakit yang paling dominan dibandingkan penyakit lain yang turut dipantau. Selain ISPA, Dinas Kesehatan Kampar juga mencatat 5 kasus pneumonia, 5 kasus konjungtivitis, 14 kasus iritasi kulit, dan 4 kasus asma.

Jika seluruh kelompok penyakit tersebut dijumlahkan, total kasus yang tercatat selama periode 1–4 September 2026 mencapai 437 kasus. Data tersebut dihimpun dari laporan sejumlah puskesmas di Kabupaten Kampar. Beberapa wilayah yang mencatat kasus ISPA cukup menonjol antara lain Tambang, Sibiruang, Pandau Jaya, Kuok, Tanah Tinggi, Air Tiris, dan Pulau Gadang.

Kebakaran Lahan Dayun Proses Pemadaman 
Di Kabupaten Siak, titik api di Kecamatan Mempura telah padam, Sungai Mandau memasuki tahap pendinginan, sementara dua firespot di Kecamatan Dayun masih dalam proses pemadaman. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Siak merilis indeks standar pencemaran udara (ISPU) yang diolah dari ispu.kemenlh.go.id, Sabtu (5/9) pukul 15.00 WIB, Kecamatan Bungaraya kondisi udaranya sangat tidak sehat, 13 kecamatan lainnya tidak sehat.

Adapun 13 kecamatan lainnya yang tidak sehat karena terpapar asap adalah, Siak, Mempura, Sabak Auh, Sungai Apit, Pusako, Dayun, Koto Gasib, Sungai Mandau, Tualang, Lubuk Dalam, Kerinci Kanan, Minas dan Kandis.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Ardhayani mengimbau warga untuk menggunakan masker saat di luar rumah. Perbanyak aktivitas di dalam ruangan untuk menjaga kesehatan.

“Mari sama-sama menjaga lingkungan agar situasi ini kembali semula,” kata Ardhayani.

Sementara Bupati Afni Z, meski mengikuti Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Lemhannas Angkatan IV Tahun 2026 di Jakarta, namun tetap memantau perkembangan dan kondisi daerah. Afni tetap memantau dan memimpin pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kualitas udara di Kabupaten Siak. 

20 Ha Lahan Terbakar, Penyebab Masih Diselidiki
Kebakaran melanda sekitar 20 hektare lahan di Desa Kayu Raja, Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Jumat (4/9). Hingga api berhasil dipadamkan, penyebab kebakaran belum diketahui dan masih dalam penyelidikan petugas.

Kebakaran diketahui setelah ditemukan lima titik api di kawasan tersebut. Petugas gabungan kemudian bergerak ke lokasi untuk melakukan pemadaman dan pendinginan. Pemadaman melibatkan personel Polri, TNI, BPBD dan masyarakat. Petugas mengerahkan 12 unit mesin mini track serta sekitar 100 gulung selang untuk mendukung penanganan di lokasi. Api berhasil dipadamkan. Namun, asap masih ditemukan di sejumlah bagian lahan sehingga pendinginan dan pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

Kapolres Inhil AKBP Donny Eko Listianto mengatakan, penyebab kebakaran masih didalami. Petugas melakukan penelusuran untuk mengetahui titik awal api dan aktivitas yang kemungkinan menjadi pemicu kebakaran.

“Penyebabnya masih dalam penyelidikan. Kami masih melakukan pendalaman di lapangan untuk mengetahui dari mana awal api dan apa yang menjadi penyebab kebakaran,” ujar Donny, Sabtu (5/9).

Menurutnya, petugas juga masih menelusuri pemilik lahan serta pihak yang berada atau beraktivitas di sekitar lokasi sebelum kebakaran terjadi. Kesimpulan terkait penyebab kebakaran akan ditentukan setelah proses penyelidikan selesai.

Penanganan di lapangan terkendala akses menuju lokasi yang cukup sulit. Keterbatasan jaringan komunikasi di sekitar kawasan kebakaran juga menjadi kendala dalam proses koordinasi dan pemantauan.(sol/ayi/kom/mng/*2/dac/muh) 

Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru

Editor : Arif Oktafian
karhutla riau bpbd