PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Tim peneliti dan pengabdian kepada masyarakat dari Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau (FPK Unri), menghadirkan inovasi baru dalam pengembangan alat tangkap kepiting bakau yang lebih ramah lingkungan.
Tim dosen dan mahasiswa yang terdiri atas Dr Ir Arthur Brown MSi, Dr Muhammad Natsir Kholis SPi MSi, Ir Irwan Limbong SPi MSi, Muhamad Yogi Prayoga SPi MSi, Friska Anggriani Br Pandiangan, Sri Wahyuni, Pulungen Pinem, dan Maria Veronika mengembangkan modifikasi alat tangkap pento melalui penambahan celah pelolosan (escape gap) untuk memberikan kesempatan bagi kepiting berukuran kecil agar kembali ke habitatnya.
Inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya pengembangan teknologi penangkapan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil tangkapan, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan sumber daya perikanan. Melalui pendekatan sederhana berbasis kebutuhan nelayan, tim FPK Unri berupaya meningkatkan selektivitas pento agar mampu menangkap kepiting bakau dengan ukuran yang lebih sesuai sekaligus mengurangi tertahannya kepiting muda yang belum layak tangkap.
Baca Juga: Ribuan Penumpang Pekanbaru Batal Terbang, 33 Penerbangan Cancel Akibat Erupsi Anak Gunung Krakatau
Sebelumnya, berbagai modifikasi terhadap alat tangkap perangkap (trap) untuk penangkapan kepiting bakau telah banyak dilakukan dan memberikan hasil positif terhadap keberlanjutan perikanan. Namun, berbeda dengan jenis perangkap lainnya, pento sebagai alat tangkap tradisional masyarakat pesisir Sumatera belum banyak mengalami rekayasa desain untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan selektivitasnya.
Pento (trap) merupakan istilah lokal masyarakat pesisir di Pulau Sumatera, Indonesia, untuk menyebut alat tangkap berupa bubu yang digunakan dalam menangkap kepiting bakau. Alat tangkap ini bersifat pasif dan umumnya dibuat menggunakan bahan-bahan sederhana seperti bambu, rotan, kawat, jaring, kayu, dan plastik.
Sebagai alat tangkap pasif, pento memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi alat tangkap yang lebih ramah lingkungan. Namun, prinsip keberlanjutan tetap membutuhkan desain yang selektif agar mampu mengurangi hasil tangkapan kepiting berukuran kecil (undersize) dan tangkapan sampingan (bycatch).
Baca Juga: Empat Petinju Kuansing Maju ke Partai Puncak Kejurprov di Kampar
Salah satu wilayah utama penggunaan pento untuk menangkap kepiting bakau di Indonesia adalah Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Indragiri Hilir. Aktivitas penangkapan kepiting bakau di kawasan ini menjadi bagian penting dari mata pencaharian masyarakat pesisir.
Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh tim pada tahun 2025 menunjukkan bahwa masih banyak ditemukan kepiting bakau berukuran kecil yang tertangkap. Pada Scylla serrata, hanya sekitar 12 persen hasil tangkapan berada dalam ukuran legal, sedangkan 88 persen lainnya masih tergolong undersize. Pada Scylla paramamosain, sekitar 46 persen telah mencapai ukuran legal dan 54 persen masih berukuran kecil. Sementara itu, Scylla tranquebarica memiliki proporsi 67 persen ukuran legal dan 33 persen undersize.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pada tahun 2026 tim peneliti FPK Unri melakukan rancang bangun pento dengan penambahan celah pelolosan. Hasil pengujian awal menunjukkan bahwa inovasi tersebut mampu meloloskan sekitar 70 persen kepiting bakau muda, sehingga memberikan peluang bagi individu yang belum mencapai ukuran konsumsi untuk tetap hidup dan berkembang di alam.
Selain pengembangan celah pelolosan, tim juga melakukan modifikasi konstruksi pento, seperti pengaturan sudut lintasan pintu masuk, pengujian ukuran bukaan mulut perangkap yang ideal, serta pengujian kualitas umpan hasil ekstraksi untuk meningkatkan efektivitas penangkapan.
Inovasi ini kemudian diperkenalkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada 27–30 Agustus 2026 di Desa Sapat, Kabupaten Indragiri Hilir sebagai lokasi percontohan penerapan teknologi. Dalam kegiatan tersebut, tim memberikan edukasi kepada nelayan mengenai pentingnya penggunaan alat tangkap yang lebih selektif serta memperkenalkan desain pento dengan sistem pelolosan kepiting muda.
Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau Muntahkan Abu Vulkanik Setinggi 15 Km, Jepang Pantau Potensi Dampak Tsunami
Salah seorang nelayan peserta kegiatan mewakili nelayan lainnya bernama Andi menyampaikan ketertarikannya terhadap inovasi tersebut karena dinilai sederhana dan mudah diterapkan. Modifikasi ini tidak mengharuskan nelayan mengganti seluruh alat tangkap yang telah digunakan, tetapi cukup melakukan penyesuaian konstruksi agar hasil tangkapan menjadi lebih berkualitas.
Melalui pengembangan pento ramah lingkungan ini, Unri menunjukkan kontribusinya dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang aplikatif bagi masyarakat pesisir. Inovasi sederhana berupa celah pelolosan menjadi langkah nyata untuk menjaga keberlanjutan populasi kepiting bakau sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan nelayan di wilayah pesisir Riau.(nto/c)
Editor : Edwar Yaman