PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti Pekanbaru, Ahad (6/9). Kualitas udara Kota Bertuah, sebutan Pekanbaru pun kian memburuk. Bahkan, polusi udara Pekanbaru tertinggi ketiga di Indonesia setelah Jambi dan Pontianak Kalimantan Barat.
Berdasarkan https://www.iqair.com (platform pemantau polusi (AirVisual), menyediakan data indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) secara langsung dari ribuan kota di seluruh dunia), pukul 20.00 WIB, kualitas udara (AQI) di Pekanbaru 171, masuk kategori Tidak Sehat. Polutan utama PM 2.5 berada di kisaran 117.9 µg/m³.
Di Pekanbaru, kualitas udara dua daerah yakni Panam (Kecamatan Binawidya dan Kecamatan Tuah Madani) serta Tenayan Raya masuk kategori Berbahaya. Polutan utama PM2.5 berada di kisaran 304 µg/m³. Di Tenayan Raya, polutan utama PM2.5 berada di kisaran 244,6 µg/m³.
Baca Juga: Hotspot Riau Tersisa 156 Titik di 10 Daerah, Terbanyak di Kabupaten Inhu
Di atas Pekanbaru yakni Jambi kualitas udara (AQI) berada di kisaran 196 juga masuk kategori Tidak Sehat. Sementara kualitas udara (AQI) Pontianak yang udaranya paling tercemar polusi akibat karhutla berada di kisaran 342, masuk kategori Berbahaya.
Forecaster on Duty Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Sanya Gautami menjelaskan, kualitas udara di Kota Pekanbaru, Ahad (6/9, berada pada kategori Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat akibat tingginya konsentrasi partikulat halus (PM2.5).
Berdasarkan pemantauan BMKG, konsentrasi PM2.5 sempat tercatat mencapai 81,9 µg/m³ pada sore hari pukul 15.00 WIB, masuk pada kategori Tidak Sehat. Namun konsentrasi PM2.5 kembali mengalami perubahan yang cukup signifikan tercatat mencapai 199.3 µg/m³ pada malam hari pukul 19.00 WIB, masuk kategori Sangat Tidak Sehat.
Baca Juga: Dosen dan Mahasiswa FPK Unri Kembangkan Pento Ramah Lingkungan
Masih fluktuatifnya angka ISPU di wilayah Pekanbaru ini menunjukkan masih tingginya sebaran kabut asap dari titik panas (hotspot) di sebagian wilayah Riau dan wilayah sekitarnya. “Jika dilihat dari jumlah titik panas dan citra sebaran asap, kualitas udara yang menurun dapat disebabkan oleh kabut asap yang terjadi di wilayah Riau dan asap dari wilayah Selatan,” katanya.
Terpantau di pos pengamatan BMKG Pangkalankerinci Pelalawan, Tambang, Pekanbaru, Japura Inhu) memang terjadi fenomena asap dengan jarak pandang 3-5 kilometer (km). Kondisi ini juga diperkuat dengan arah angin yang masih berasal dari Tenggara-Selatan menuju Barat Laut-Utara.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, tetap waspada terhadap kondisi cuaca dan kualitas udara, serta terus memantau informasi resmi dari BMKG. Jika harus beraktivitas di luar ruangan saat kualitas udara menurun, jangan lupa gunakan masker,” tegasnya.
Baca Juga: Ribuan Penumpang SSK II Batal Terbang ke Jakarta, 33 Penerbangan Cancel Akibat Erupsi Anak Krakatau
BMKG juga mendeteksi 156 titik panas muncul di Riau, Ahad (6/9). Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru lainnya Mari Frystine menjelaskan, berdasarkan pantauan radar citra satelit sejak pukul 17.00 WIB, Titik panas tersebut tersebar di 10 kabupaten/kota.
Yakni Indragiri Hulu 54, Bengkalis 25, Indragiri Hilir 20, Dumai 19, Siak 12, Pelalawan 11, Kepulauan Meranti 7, Kuantan Singingi 4, Rokan Hilir 2, dan Rokan Hulu 2. “Melihat masih tingginya jumlah titik panas di Provinsi Riau, sejumlah kota masih diselimuti kabut asap dan jarak pandang yang juga terbatas,” ujarnya
Secara keseluruhan BMKG Pekanbaru juga masih menemukan 2.199 titik panas di Pulau Sumatera yang tersebar di Sumatera Selatan 1.379, Jambi 260, Bangka Belitung 189, Lampung 135, Kepulauan Riau 29, Sumatera Utara 28, Sumatera Barat 14, Aceh 5, dan Bengkulu 4.
Baca Juga: Update Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, 19 Penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru Ini Dibatalkan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mencatat, saat ini titik api karhutla mengalami peningkatan dan tersebar di 11 titik. Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, jumlah titik api saat ini tersebar di empat kabupaten yakni, Indragiri Hilir (Inhil), Indragiri Hulu (Inhu), Bengkalis, dan Kepulauan Meranti.
Titik api akibat karhutla ini bertambah dari sebelumnya hanya sembilan titik. “Titik api karhutla di Riau saat ini bertambah. Bahkan di Kabupaten Inhil dari sebelumnya hanya tiga titik bertambah menjadi enam titik,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, saat ini Inhil menjadi daerah yang paling banyak titik api di Riau. Kemudian disusul Bengkalis dengan tiga titik. Sementara Inhu yang sebelumnya tiga titik kini tinggal satu titik api. Kemudian Meranti juga ada satu titik api.
Baca Juga: Luasan Karhutla di Riau 18 Ribu Ha Lebih
“Selain titik api yang sedang dipadamkan, ada juga titik asap yang sedang didinginkan oleh Satuan Tugas (Satgas) Karhutla. Ada 14 titik asap yang sedang didinginkan. Di Inhil ada lima titik, Bengkalis tiga titik, Siak dua titik, Inhu dua titik, Kampar satu titik, dan Pelalawan satu titik,” ujar Edy.
Di sini lain, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membuat hujan buatan tidak bias dilakukan dalam beberapa hari terakhir karena tidak ada awan potensial untuk penyemaian garam. “OMC ini selama ada awan potensial akan terus kita lakukan. Awan potensial dipantau selama tiga jam sekali. Namun belakangan ini belum ditemukan awan potensial,” sebutnya.
Edy mengatakan perkembangan karhutla di setiap daerah terus menjadi perhatian dan penanganan dilakukan sesuai kondisi di lapangan. Baik oleh tim udara mau pun tim darat dari berbagai unsur gabungan TNI, Polri, BPBD Riau, kabupaten/kota, Manggala Agni. “Kami terus memantau perkembangan karhutla di setiap daerah dan penanganan dilakukan sesuai kondisi serta kebutuhan di lapangan,” ujar Edy.
Baca Juga: KOMDA APHI Riau: Inpres 11/2026 Perkuat Pemberdayaan Masyarakat Cegah Karhutla
Kabut Asap di Bengkalis dan Rohul
Kualitas udara di Kabupaten Bengkalis juga masih berada dalam kategori Tidak Sehat. Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bengkalis, Marngatin mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. “Udara di Bengkalis, tepatnya dalam radius sekitar lima kilometer dari alat pemantau yang terpasang di Kantor Dinas Lingkungan Hidup, berada dalam kategori Tidak Sehat,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena nilai ISPU saat ini sudah berada di angka 200 dan mendekati kategori kualitas udara yang lebih buruk. “Ini tinggal satu poin lagi akan menuju posisi Sangat Tidak Aehat. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah,” katanya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bengkalis bersama tim gabungan juga masih berjibaku melakukan pendinginan dan pemadaman di beberapa kecamatan. Bahkan satu titik Karhutla baru kembali muncul di Kecamatan Siak Kecil, sejak Jumat (4/9) lalu.
Baca Juga: Melonjak, 205 Titik Panas Tersebar di Riau
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bengkalis Rony Afriadi mengatakan, titik karhutla baru tersebut terjadi di Desa Bandar Jaya Kecamatan Siak Kecil. Luas lahan terbakar diperkirakan sekitar lima hektare dengan vegetasi semak belukar dan tanaman sawit. ‘’Saat ini beberapa titik masih ada asap dengan kondisi angin bertiup kencang,” jelasnya.
Sejak pagi hingga pukul 17.30 WIB, kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Ahad (6/9). Kondisi tersebut membuat jarak pandang dari kejauhan terbatas, udara terasa panas dan gerah serta aroma asap mulai tercium di daerah yang dijuluki Negeri Seribu Suluk.
Salah seorang warga Pasirpengaraian, Sunardi, mengaku mulai merasakan perubahan kondisi udara yang dihirup. Menurutnya, udara terasa lebih panas dan gerah disertai aroma asap. “Asap mulai terasa, udara panas dan gerah bercampur bau asap. Kalau keluar rumah cukup lama, terasa kurang nyaman untuk bernapas. Kami berharap kondisi ini segera membaik dan tidak semakin tebal,” ujarnya, Ahad (6/9).
Baca Juga: DPP Tunjuk Parisman Ikhwan Ketua Harian DPD Golkar Riau
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas masyarakat masih berlangsung seperti biasa. Sejumlah warga dan anak-anak masih terlihat bermain maupun beraktivitas di luar rumah tanpa menggunakan masker. Pengendara sepeda motor dan pejalan kaki juga masih banyak yang tidak mengenakan masker saat melintas di Jalan Diponegoro, Jalan Tuanku Tambusai hingga Jalan Lingkar Pasirpengaraian.
Sunardi berharap pemerintah daerah meningkatkan langkah antisipasi, terutama dengan memastikan setiap informasi hotspot segera ditindaklanjuti di lapangan. “Kami minta pemerintah Kabupaten Rohul mengantisipasi kabut asap ini dengan melakukan pemadaman apabila ditemukan titik api. Masker juga perlu dibagikan kepada masyarakat dan anak sekolah untuk mengantisipasi meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),” harapnya.
Hal senada disampaikan warga Desa Pematang Berangan, Mardiana. Ia berharap karhutla yang dapat memicu kabut asap segera diantisipasi. “Kalau asap semakin tebal tentu mengganggu aktivitas. Sebaiknya warga yang keluar rumah menggunakan masker, terutama anak-anak mengurangi aktivitas di luar. Mudah-mudahan hotspot yang ada segera ditangani agar asap tidak semakin parah,” katanya.
Baca Juga: Sumatera Membara dengan 2.671 Hotspot, Provinsi Riau Sumbang 234 Titik Panas
Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Rohul Zulhendri menegaskan, proses verifikasi lapangan diperlukan untuk memastikan apakah titik panas yang terdeteksi merupakan titik api atau anomali panas lainnya.
‘’Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya deteksi dini dan pencegahan karhutla. Jika hasil verifikasi menemukan adanya titik api, petugas dapat segera melakukan penanganan agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan kabut asap yang lebih tebal,’’ ujarnya.(ayi/sol/ksm/epp/das)
Laporan TIM RIAU POS, Pekanbaru
Editor : Arif Oktafian