Unri-FK2PT Dorong Kolaborasi Global untuk Perikanan dan Ekonomi Biru Berkelanjutan pada ISFM XV 2026

Herianto Baserah • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 16:30 WIB
Para pimpinan Unri dan FPK, narasumber dan peserta foto bersama usai pembukaan ISFM XV, Senin (7/9/2026).(FPK Unri untuk Riau Pos)
Para pimpinan Unri dan FPK, narasumber dan peserta foto bersama usai pembukaan ISFM XV, Senin (7/9/2026).(FPK Unri untuk Riau Pos)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Riau (Unri) kembali memperkuat perannya dalam pengembangan ilmu perikanan dan kelautan melalui The 15th International and National Seminar on Fisheries and Marine Science (ISFM XV). 

Seminar internasional yang digelar bekerja sama dengan Forum Kemitraan Konsorsium Perikanan Tangkap (FK2PT) tersebut berlangsung di Pangeran Hotel Pekanbaru, Senin (7/9).  Mengusung tema “Safeguarding Aquatic Ecosystems towards Sustainable Fisheries and Marine Management for Blue Economy Growth and SDGs,” ISFM XV menjadi ruang pertemuan akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, serta pemangku kepentingan untuk membicarakan masa depan sumber daya perikanan dan kelautan di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem perairan.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Universitas Riau Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistem Informasi, Dr Ir Sofyan Husein Siregar MPhil, yang hadir mewakili Rektor Universitas Riau. Dalam sambutannya, Sofyan menegaskan pentingnya seminar ilmiah seperti ISFM dalam memperkuat jaringan akademik dan kerja sama lintas negara.

 Baca Juga: Diduga Jadi Lokasi Transaksi Narkotika, Polisi Grebek Pondok Kayu di Dusun Simpang Mahang

Menurutnya, berbagai persoalan di bidang perikanan dan kelautan tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi atau satu disiplin ilmu. Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi semakin penting untuk menghasilkan solusi yang berbasis ilmu pengetahuan. Melalui ISFM, Universitas Riau terus mendorong lahirnya gagasan dan inovasi yang mendukung pengelolaan perikanan dan kelautan berkelanjutan, ekonomi biru, serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Jadi Ruang Pertemuan Ilmu Pengetahuan dan Kebijakan

Ketua Panitia ISFM XV, Dr Eko Prianto MSi, mengatakan seminar tersebut dirancang sebagai ruang berbagi pengetahuan, hasil penelitian, pengalaman lapangan, hingga gagasan kebijakan dari berbagai disiplin ilmu.

“Seminar ini menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, serta pemangku kepentingan untuk berbagi pengetahuan, hasil penelitian, dan gagasan dalam mendukung pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan yang berkelanjutan,” kata Eko.

Baca Juga: Peringatan Hari Pramuka Ke-65 di Pekanbaru, Wako Agung Ajak 3.500 Anggota Jadi Pelopor Aksi Nyata

Hal ini diperkuat oleh Prof Dr Ir Deni Efizon MSc selaku Wakil Ketua yang menyatakan, luasnya persoalan perikanan dan kelautan membuat pembahasan ISFM XV tidak hanya berfokus pada produksi perikanan. Seminar juga mengangkat berbagai persoalan ekologis, teknologi, sosial, ekonomi, hingga kebijakan. 

Sementara itu, Ketua FK2PT Prof Dr Budi Wiryawan M.Sc menyambut baik pelaksanaan ISFM XV 2026 sebagai forum strategis yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan dalam membahas berbagai tantangan perikanan dan kelautan.

“Kami berharap seminar ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran ilmu pengetahuan, tetapi juga melahirkan kolaborasi, rekomendasi, dan inovasi yang dapat diterapkan untuk memperkuat pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan, menjaga ekosistem perairan, serta mendukung pengembangan ekonomi biru dan pencapaian SDGs,” ujarnya.

Berbagai topik strategis yang dibahas meliputi perikanan tangkap, akuakultur, bioteknologi kelautan, ekowisata bahari, oseanografi dan iklim laut, ekologi perairan, konservasi keanekaragaman hayati, sosial-ekonomi dan kebijakan perikanan, serta pengelolaan berkelanjutan ekosistem pesisir dan laut.

Rangkaian tema tersebut memperlihatkan bahwa tantangan sektor perikanan saat ini semakin kompleks. Peningkatan pemanfaatan sumber daya harus berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem, penguatan ekonomi masyarakat pesisir, pemanfaatan teknologi, serta kebijakan yang berbasis data dan hasil penelitian.

Baca Juga: Padamkan Karhutla di 6 Provinsi, BNPB Perkuat OMC dan Operasi Darat

Hadirkan Pakar dari Berbagai Negara

Nuansa internasional ISFM XV semakin kuat dengan hadirnya pakar dari sejumlah negara. Seminar menghadirkan Prof Emeritus Neil R. Loneragan dari Centre for Sustainable Aquatic Ecosystems–Harry Butler Institute, Murdoch University, Australia, sebagai keynote speaker.

Selain itu, sejumlah invited speakers turut hadir dari institusi nasional dan internasional, di antaranya Dr. Windarti, M.Sc dari Universitas Riau; Kim Nam-hoon MM dari Marine Technology Cooperation Research Center, Korea Selatan; Prof Kumudu Radampola Gamage dari University of Ruhuna, Sri Lanka; Prof Ts Dr Seow Ta Wee dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia; serta Takamasa Osawa dari Kanazawa University, Jepang. Kehadiran para pakar tersebut membuka kesempatan bagi peserta untuk melihat persoalan perikanan dan kelautan dari berbagai perspektif dan pengalaman negara berbeda.

Pertukaran ilmu semacam ini menjadi semakin penting ketika dunia menghadapi tantangan perubahan iklim, degradasi habitat, tekanan terhadap biodiversitas, peningkatan kebutuhan pangan, serta tuntutan pembangunan ekonomi yang tetap menjaga daya dukung lingkungan.

Dari Forum Ilmiah Menuju Solusi Nyata

Penyelenggaraan ISFM yang telah memasuki edisi ke-15 juga menunjukkan konsistensi FPK Universitas Riau dalam menjadikan forum ilmiah sebagai jembatan antara penelitian, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat.

Pada ISFM XV, Dekan FPK UNRI Prof Dr Rifardi menekankan bahwa seminar tersebut merupakan bagian dari komitmen bersama untuk membangun masa depan perikanan sekaligus menjaga lingkungan agar sumber daya laut tetap tersedia bagi generasi mendatang.

Selanjutnya menurut beliau, semangat itu berkembang semakin luas melalui pendekatan blue economy dan SDGs. Dengan demikian, keberhasilan pembangunan sektor kelautan tidak lagi hanya diukur dari besarnya produksi atau nilai ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga kesehatan ekosistem dan keberlanjutan manfaatnya bagi masyarakat.

Melalui pertemuan ilmiah ini, FPK Universitas Riau berharap diskusi yang berkembang tidak berhenti di ruang seminar. Hasil penelitian, ide, dan rekomendasi yang muncul diharapkan dapat memperkuat kolaborasi lintas institusi serta menjadi referensi bagi pengembangan kebijakan dan praktik pengelolaan sumber daya perikanan dan kelautan yang lebih adaptif dan berkelanjutan. 

ISFM XV pada akhirnya membawa satu pesan kuat: menjaga ekosistem perairan bukan hanya agenda konservasi, tetapi investasi untuk ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat pesisir, ekonomi biru, dan masa depan generasi berikutnya.(nto/c)

 

Editor : Edwar Yaman
FK2PT Ekonomi Biru Berkelanjutan ISFM XV 2026 kolaborasi global Unri