PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Tim dosen Poltekkes Kemenkes Riau mensosialisasikan hasil penelitian mengenai potensi tanaman Maman (Cleome gynandra L.) kepada 20 kader dari sejumlah desa di wilayah kerja Puskesmas Ujungbatu, Kabupaten Rokan Hulu, Senin (31/8/ 2026) lalu.
Kegiatan bertajuk “Berdayakan Kesehatan dan Gizi dengan Tanaman Maman di Tanah Rokan Hulu” ini bertujuan memperkenalkan kandungan gizi, cara pengolahan yang aman, teknik budidaya, serta potensi pengembangan Maman sebagai pangan lokal.
Ketua tim pengabdian masyarakat, Lily Restusari, M.Farm., Apt., menjelaskan bahwa Maman merupakan tanaman pangan lokal yang telah lama dimanfaatkan masyarakat Rokan Hulu dan Rokan Hilir. Daun dan batang mudanya biasa diolah menjadi makanan fermentasi tradisional yang dikenal sebagai Joruk Maman.
Baca Juga: FIK Universitas Pahlawan Perkuat Kolaborasi Internasional melalui 1st PI-CARE 2026
Namun, keberadaan tanaman Maman serta pengetahuan masyarakat mengenai cara pengolahannya mulai berkurang. Selama ini, Maman lebih banyak diperoleh dari tanaman yang tumbuh liar di bantaran sungai maupun lahan bekas pembakaran. Tanaman tersebut belum banyak dibudidayakan secara khusus di pekarangan atau kebun masyarakat.
“Maman dan Joruk Maman merupakan bagian dari warisan pangan masyarakat Rokan yang perlu diperkenalkan kembali kepada generasi muda agar tidak hilang,” ujar Lily.
Berdasarkan penelitian tim, tanaman Maman mengandung sejumlah komponen gizi, antara lain protein dan serat. Sementara itu, proses fermentasi Joruk Maman melibatkan bakteri baik yang dikenal sebagai bakteri asam laktat. Bakteri tersebut membantu berlangsungnya proses fermentasi secara alami.
Baca Juga: SHACMAN X5000 Hybrid Dump Truck Masih Jadi Primadona di Mining Indonesia
Selama ini, pemanfaatan tanaman Maman di tengah masyarakat masih terbatas sebagai bahan baku pembuatan Joruk Maman. Keterbatasan variasi olahan menyebabkan Maman kurang dikenal dan kurang diminati, terutama oleh generasi muda. Kondisi tersebut juga membuat masyarakat belum terdorong untuk membudidayakannya secara berkelanjutan.
Padahal, Maman berpeluang dikembangkan menjadi berbagai variasi pangan yang lebih menarik. Pengembangan olahan tidak dimaksudkan untuk menghilangkan Joruk Maman sebagai makanan tradisional, melainkan memperluas pemanfaatan tanaman Maman agar dapat diterima oleh lebih banyak kelompok masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, para kader memperoleh edukasi mengenai cara mengenali tanaman Maman, kandungan gizinya, teknik budidaya, keamanan pangan, serta cara mengolah Joruk Maman secara lebih bersih dan terukur.
Baca Juga: Pakar Internasional Kesehatan Tampil pada 1st ICPHDI 2026 FKM UHTP
“Kami ingin masyarakat tidak hanya mengenal Maman sebagai bahan baku Joruk Maman. Tanaman ini juga dapat diolah dengan berbagai cara sehingga lebih menarik, mudah diterima, dan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk pangan lokal,” jelas Lily.
Untuk mendukung hal tersebut, tim membagikan buku pengolahan tanaman Maman kepada seluruh peserta. Buku tersebut berisi informasi tentang Maman serta berbagai variasi cara mengolahnya. Kehadiran buku diharapkan dapat memberikan ide dan panduan kepada kader dan masyarakat untuk mengembangkan olahan Maman sesuai kebutuhan dan kebiasaan pangan keluarga.
Pengenalan berbagai variasi olahan juga diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menanam Maman. Apabila tanaman ini dapat dimanfaatkan menjadi beragam makanan, masyarakat akan memiliki alasan yang lebih kuat untuk membudidayakannya dan tidak lagi hanya bergantung pada tanaman yang tumbuh liar.
Baca Juga: Diduga Jadi Lokasi Transaksi Narkotika, Polisi Grebek Pondok Kayu di Dusun Simpang Mahang
Sebagai langkah nyata, tim pengabdian masyarakat turut membagikan bibit tanaman Maman kepada para peserta. Bibit tersebut diharapkan dapat ditanam di pekarangan dan dikembangkan kembali di lingkungan masing-masing.
Para kader selanjutnya diharapkan menjadi penggerak dalam menyebarluaskan pengetahuan mengenai budidaya dan pengolahan Maman kepada keluarga serta masyarakat di desa masing-masing.
"Melalui kolaborasi Poltekkes Kemenkes Riau, Puskesmas Ujungbatu, kader, dan masyarakat, Maman diharapkan semakin dikenal, dibudidayakan, serta dikembangkan menjadi pangan lokal yang memiliki nilai gizi, budaya, dan ekonomi serta menjaga agar tanaman Maman dan Joruk Maman tetap lestari di Bumi Lancang Kuning, khususnya di Kabupaten Rokan Hulu dan Rokan Hilir," tuturnya.(ayi/c)
Editor : Edwar Yaman