PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Tim dosen Poltekkes Kemenkes Riau membekali alumni dengan keterampilan mengembangkan usaha makanan selingan tanpa tepung terigu dan susu sapi.
Produk tersebut dikembangkan sebagai alternatif camilan bagi anak-anak maupun masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus dalam pemilihan bahan pangan, termasuk mereka yang sensitif atau alergi terhadap gluten dan protein susu sapi.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mengangkat tema “Wirausaha Alumni di Bidang Pengolahan Pangan Makanan Selingan Tanpa Terigu dan Susu Sapi bagi Anak-Anak yang Sensitif/Alergi terhadap Gluten dan Kasein”.
Baca Juga: Kabut Asap Makin Pekat, Selasa Besok Siswa Rohul Tak ke Sekolah, Wajib PJJ
Program dilaksanakan oleh tim dosen Poltekkes Kemenkes Riau yang terdiri atas Ketua Roziana, S.ST., M.Gz bersama dua anggota Lily Restusari, M.Farm., Apt. dan Aslis Wirda Hayati serta melibatkan mahasiswa dan alumni yang berminat mengembangkan usaha pengolahan pangan.
Menurut Ketua Tim Dosen Poltekkes Kemenkes Riau Roziana, S.ST., M.Gz menjelaskan rangkaian kegiatan diawali dengan pengenalan berbagai bahan pengganti tepung terigu, seperti tepung beras, tepung ketan hitam, mocaf, tepung sagu, tepung jagung, tepung tapioka, dan tepung almond. Peserta juga memperoleh informasi mengenai bahan alternatif pengganti susu sapi dalam formulasi makanan selingan, Selasa (14/9/2026).
Kebutuhan makanan selingan tanpa terigu dan susu sapi dapat menjadi peluang usaha bagi alumni.
“Melalui kegiatan ini, alumni tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga memahami proses membangun usaha pangan, mulai dari pemilihan bahan, produksi, penghitungan biaya, pengemasan hingga pemasaran,” jelasnya.
Baca Juga: APBN Harus Sehat Jadi Arahan Khusus Prabowo ke Menkeu Suahasil Nazara usai Reshuffle Kabinet
Sebagai tindak lanjut FGD, tim melaksanakan praktik pengolahan pangan pada 16 Juli 2026 di Laboratorium Penyelenggaraan Makanan Poltekkes Kemenkes Riau. Peserta didampingi secara langsung mulai dari menimbang bahan, mencampur adonan, mengolah, mengevaluasi hasil, hingga mengemas produk.
Sejumlah makanan selingan berhasil dipraktikkan, di antaranya pancake sugar free, bolu ketan hitam kukus, fudgy brownies, kukis cokelat, crispy almond, kue kacang, dan brownies ketan hitam. Produk dikembangkan menggunakan bahan pengganti tepung terigu dan tanpa menggunakan susu sapi.
Pengembangan camilan ini tidak hanya ditujukan bagi konsumen yang menghindari terigu, tetapi juga dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan diet tertentu, seperti mereka yang perlu menghindari gluten atau protein susu sapi.
Baca Juga: Tim Gabungan Lanjutkan Pemadaman dan Pendinginan Karhutla di Teluk Lancar Bengkalis
Namun, produk untuk konsumen dengan alergi perlu memperhatikan pemilihan bahan dan proses produksi untuk mencegah kontaminasi silang. Produk tanpa terigu juga tidak selalu berarti bebas gluten sehingga klaim pada label perlu disesuaikan dengan bahan dan proses pembuatannya.
Pemanfaatan pangan lokal menjadi salah satu perhatian utama dalam kegiatan ini. Tepung ketan hitam, beras, mocaf, sagu, jagung, dan berbagai jenis kacang memiliki peluang untuk diolah menjadi makanan selingan yang menarik, bergizi, dan memiliki nilai jual.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi alumni Poltekkes Kemenkes Riau untuk merintis dan mengembangkan usaha makanan selingan yang inovatif. Segmen pangan khusus tersebut dinilai memiliki peluang karena pilihan makanan bagi konsumen yang harus menghindari bahan tertentu masih relatif terbatas.
Melalui perpaduan pengetahuan gizi, keterampilan pengolahan pangan, dan kewirausahaan, alumni diharapkan mampu menghasilkan produk yang aman, bermutu, dan memiliki nilai ekonomi.
"Program ini sekaligus memperkuat peran Poltekkes Kemenkes Riau dalam mendampingi alumni menciptakan peluang usaha berbasis keilmuan dan kebutuhan masyarakat," katanya.(ayi/c)
Editor : Edwar Yaman