PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Kebakaran hutan dan lahan di Riau belum tertangani secara maksimal. Bahkan, titik api baru muncul di Kecamatan Bantan, Bengkalis. Lokasi yang terbakar tersebut berada di dekat lokasi kebakaran yang sebelumnya sudah berhasil dipadamkan.
“Ada muncul titik api baru di Bengkalis. Lokasinya berada di dekat yang sebelumnya terbakar. Saat ini masih dilakukan pemadaman oleh tim gabungan,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau M Edy Afrizal, Senin (14/9).
Selain mengarahkan tim darat, dua helikopter water bombing juga sudah dikerahkan ke lokasi untuk melakukan pemadaman. Pihaknya juga melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sekitar wilayah Bengkalis. “OMC juga kami laksanakan karena ada potensi awan,” ujarnya.
Baca Juga: Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat, Hotspot Melonjak di Riau
Untuk membantu penanganan karhutla, pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengirimkan bantuan helikopter water bombing. “Kita mendapatkan bantuan empat unit helikopter water bombing. Dua di antaranya kemarin masih maintenance, tapi sekarang sudah selesai dan kembali bisa digunakan,” katanya.
Kabut Asap Rohul Diduga Kiriman
Kabut asap kembali menyelimuti Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) dan udara mulai memburuk. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rohul pun kembali menghentikan sementara pembelajaran tatap muka (PTM) di seluruh satuan pendidikan. Mulai, Selasa (15/9) siswa PAUD/TK, SD, dan SMP negeri maupun swasta tidak mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring dari rumah.
Kebijakan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran (SE) Bupati Rohul Nomor 26 Tahun 2026 tentang Kewaspadaan dan Langkah Antisipasi Dampak Kabut Asap bagi Satuan Pendidikan di Kabupaten Rohul. “Untuk sementara mulai besok (hari ini, red), seluruh siswa mengikuti PJJ atau daring dari rumah. Untuk selanjutnya akan dievaluasi melihat perkembangan kualitas udara,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Rohul Alreza Ahyu, Senin (14/9) petang.
Baca Juga: Jarak Pandang 1,600 M, Pesawat Citylink Berputar-Putar 15 Menit Sebelum Landing di Bandara SSK II
Dalam pelaksanaan PJJ, kepala sekolah dan guru diminta memastikan proses pembelajaran tetap efektif. Materi dan tugas yang diberikan juga harus disesuaikan dengan kondisi peserta didik agar tidak menambah beban siswa. Sementara itu, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan tetap bekerja sebagaimana mestinya untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan.
‘’Kami meminta seluruh warga satuan pendidikan serta orang tua atau wali murid menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) secara ketat. Orang tua diminta memastikan anak-anak tetap berada di dalam rumah dan menghindari aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara belum membaik,’’ ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Rohul Zulhendri menyebutkan, kabut asap yang kembali menyelimuti wilayah Rohul diduga merupakan kiriman dari kabupaten/kota lain yang saat ini terdeteksi memiliki titik api akibat karhutla.
Baca Juga: Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi Pekanbaru, DPRD Riau Harap Jadi Barometer Ekonomi di Semua Daerah
“Ya, sejak Ahad (13/9) malam hingga Senin (14/) petang, kabut asap terlihat kembali tebal. Kita menduga ini kabut asap kiriman dari kabupaten yang terdeteksi titik api,” ujarnya. ‘’Berdasarkan informasi kualitas udara IQAir wilayah Pasirpengaraian, pada pukul 13.00 WIB, tercatat Air Quality Index (AQI) 97 atau kategori sedang dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 33,9 µg/m³,’’ tambahnya.
Kuansing Tidak Sehat
Kualitas udara di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Senin (14/9) masih bertahan di level tidak sehat. Kabut asap masih terlihat dengan jelas, meski belum menganggu jarak pandang. “Masih bertahan di level Tidak Sehat. Angkanya masih naik turun. Ini hasil pemantauan kami lewat http://www.meteored.com,” ujar Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kuansing, Dody Fitrawan.
Di Kampar juga demikian. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di wilayah Kabupaten Kampar, khususnya Kota Bangkinang mencapai angka 193. Kondisi tersebut masuk dalam kategori Tidak Sehat dan menunjukkan adanya peningkatan pencemaran udara yang perlu mendapat perhatian masyarakat.
Baca Juga: PCR Dorong UMKM Binaan CSR Pertamina Patra Niaga Dumai Naik Kelas
Kalaksa BPBD Kampar Azwan melalui Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Adi Candra Lukita mengatakan, berdasarkan pemantauan, kualitas udara di Kota Bangkinang berada pada level yang tidak sehat. “ISPU di Kota Bangkinang tidak sehat karena dipengaruhi asap kiriman dari Jambi, Pelalawan, dan Inhu,” jelas Adi Candra, Senin (14/9).
Demikian juga di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Kualitas udara berada pada kategori Tidak Sehat. Berdasarkan data pengukuran Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP), ISPU tercatat di angka 140. Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Inhil Udin Syafriudin mengatakan, penggunaan masker dan pembatasan aktivitas luar ruangan menjadi langkah pencegahan yang perlu dilakukan.
“Kalau kondisi ini terus seperti ini, dampaknya tidak baik. Makanya dianjurkan menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan,” ujar Udin. Ia mengimbau sekolah untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan, seperti upacara dan olahraga. Jika memungkinkan, kegiatan tersebut sementara ditiadakan hingga kondisi kualitas udara membaik.
Baca Juga: Kemenkum Riau Dorong Pelindungan Produk Unggulan Inhil lewat Indikasi Geografis
Udin menambahkan, apabila kondisi udara semakin memburuk, Diskes bersama Disdik, dan DLHP akan memberikan rekomendasi kepada Satgas untuk mempertimbangkan penghentian sementara pembelajaran tatap muka. “Apabila kondisinya semakin memburuk, melalui Dinas Pendidikan dan DLHP akan merekomendasikan kepada Satgas untuk bisa meniadakan pembelajaran langsung atau tatap muka,” katanya.
Warga Tetap Diminta Patuhi Protokol Kesehatan
Meskipun saat ini Kota Pekanbaru telah mengalami penurunan jumlah titik panas hingga zero hotspot. Namun Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru tetap mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi karhutla yang masih bisa terjadi.
Menurut Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, saat ini pemerintah kota juga telah mengambil langkah kesiapsiagaan dengan menerapkan pembelajaran tatap muka terbatas. Walaupun untuk titik api di Pekanbaru nihil, namun arah angin mengarah dari Utara ke Selatan atau dari daerah lain yang mengalami karhutla ke Pekanbaru sehingga menimbulkan dampak asap yang dapat menganggu kesehatan.
Baca Juga: Kapolda Riau Membersamai Ribuan Mahasiswa Baru UHTP
Itu sebabnya, Pemerintah Kota Pekanbaru mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, namun jika harus beraktivitas di luar rumah pakai masker. “Kami tentu meminta masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan dengan mewajibkan masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas diluar ruangan agar meminimalisir dampak asap,” katanya
Titik Panas Meningkat
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 76 titik panas di Provinsi Riau, Senin (14/9). Forecaster BMKG Pekanbaru Putri S menjelaskan, pantauan radar citra satelit BMKG Pekanbaru sejak pukul 16.00 WIB, titik panas tersebut tersebar hampir merata di seluruh daerah Riau.
Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) masih tertinggo dengan 56 titik panas. Dikuti Dumai 5, Kampar 3, Pelalawan 2, Indragiri Hilir (Inhil) 2, Siak 2, Kepulauan Meranti 1, Rokan Hulu 1, dan Bengkalis 1. “Keseluruhannya berada di level confidence tingkat kepercayaan sedang,” ucapnya.
Baca Juga: Kanwil DJP Riau Tanamkan Kesadaran Pajak pada Pelajar SMP di Pekanbaru
Sementara itu, untuk titik panas di Pulau Sumatera juga mengalami kenaikan menjadi 3.144, didominasi Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dengan lonjakan ke angka 2.235. Kemudian Lampung 275, Bangka Belitung 263, Jambi 239, Riau 76, Bengkulu 23 titik, Kepulauan Riau 14, Sumatera Barat 12, dan Sumatera Utara 7.
Tingginya titik panas di Riau membuat kondisi udara di Pekanbaru turut alami perubahan atau fluktuatif sejak pukul 01.00 WIB. Hingga pukul 15.00, particullat matter (PM 2.5) berada di angka 97,5 yang menunjukkan grafik tidak sehat.
Pemantauan Konsentrasi Partikulat (PM2.5) BMKG berada pada angka 186 µg/m³ dengan kategori Sangat Tidak Sehat pada pukul 18.00 WIB. Kondisi ini masih bertahan hingga pukul 19.00WIB, di mana pemantauan Konsentrasi Partikulat (PM2.5) BMKG berada pada angka 226,9 µg/m³ dengan kategori Sangat Tidak Sehat dengan indikator berwarna merah.
Baca Juga: Poltekkes Kemenkes Riau Dorong Alumni Kembangkan Usaha Camilan Bebas Terigu dan Susu Sapi
“Untuk jarak pandang atau visibility di Pekanbaru yang diselimuti asap yakni 3,5 kilometer, Rengat (Inhu) 3 kilometer, Pelalawan 3,5 kilometer, dan Tambang (Kampar) 5 kilometer dengan kategori diselimuti kabut asap yang berbeda setiap daerahnya,” katanya.
Pelaku Pembakaran Lahan di Langgam Diringkus
Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pelalawan berhasil mengungkap dan menangkap pelaku tindak pidana kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kecamatan Langgam. Penangkapan dilakukan berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/A/25/IX/2026/SPKT tanggal 10 September 2026.
Tersangka yang diamankan bernama GDS, (24) beralamat di Dusun IV Kelurahan Senama Nenek Kecamatan Tapung Hulu Kabupaten Kampar. Setelah dilakukan penyelidikan, tim melakukan pemantauan keberadaan tersangka. Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara SIK melalui Kasi Humas Polres Pelalawan AKP T Siahaan mengatakan, pihaknya mengapresiasi kerja cepat Tim Tipidter Polres Pelalawan dan anggota Polsek Langgam.
Baca Juga: PT HMK Dukung Penuh Pembangunan Tol Trans Sumatera, Tegaskan Beroperasi Secara Legal
“Pelaku sudah di amankan dan saat ini dalam proses penyidikan. Kami imbau kepada masyarakat Langgam untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar karena selain merugikan diri sendiri juga melanggar hukum dan bisa dipidana,” ujar Thomas.
Ditambahkan Thomas bahwa, atas perbuatannya tersangka disangkakan melanggar Pasal 50 ayat (2) huruf b Jo Pasal 78 Ayat (4) UU RI Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perpu Cipta Kerja yang mengubah UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. “Saat ini penyidik masih melengkapi administrasi dan barang bukti telah diamankan,” tuturnya. (sol/epp/dac/kom/*2/ayi/amn)
Editor : Arif Oktafian