PEKANBARU (RIAUPOS.CO) -- Hampir sebagai besar daerah di Provinsi Riau, Selasa (15/9/2026), masih diselimuti kabut asap dengan ketebalan yang berbeda-beda.
Salah satunya di Kota Pekanbaru. Ibu Kota Provinsi Riau ini, masih diselimuti kabut asap cukup pekat yang membuat jarak pandang terbatas dan kualitas udara kian memburuk.
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru melalui laman pemantauan kualitas udara Pekanbaru, PM2.5 merupakan partikel halus berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Karena itu, ketika konsentrasinya meningkat, kualitas udara menjadi kurang baik dan berpotensi memberikan dampak kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan maupun jantung.
Baca Juga: Kualitas Udara Sangat Tak Sehat, Siswa Dipulangkan dari Sekolah, Disdikbud Pelalawan Perpanjang PJJ
Pantauan BMKG menunjukkan kondisi udara Pekanbaru sebenarnya telah berada pada level tidak sehat sejak pergantian hari. Pada pukul 00.00 WIB, BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 226 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dengan kategori Sangat Tidak Sehat.
Pada pukul 01.00 WIB, konsentrasi PM2.5 mulia alami penurunan dan tercatat sekitar 18,6 µg/m³, kemudian meningkat lagi sekitar 2000,7µg/m³ dengan indikator berwarna merah.
Selanjutnya, konsentrasi partikulat alami sedikit penurunan menjadi 121,6 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB dan berada pada kategori tidak sehat.
Baca Juga: Kabut Asap Masih Bertahan, PJJ Murid Rohul Diperpanjang hingga 16 September
Kondisi ini masih bertahan pada pukul 09.00 hingga 11.00 WIB, konsentrasi PM2.5 berada di kisaran 112,7 µg/m³, kemudian 120µg/m³ dan kembali naik sedikit sekitar 147,5 µg/m³.
Pukul 17.00 WIB, PM2.5 naik menjadi sekitar 189,8µg/m³ dan kembali masuk kategori sangat tidak sehat yang menandakan kualitas udara Pekanbaru kembali memburuk akibat kabut asap karhutla.
Menurut Prakirawan BMKG Pekanbaru Bella R Adelia, buruknya kualitas udara disebabkan masih tingginya jumlah titik panas (hotspot) wilayah Sumatera yang melonjak menjadi 4.028 dari sebelumnya yang masih kisaran 2.000 titik panas saja.
Baca Juga: Karhutla Terjadi di Dekat Kantor Bupati Kampar, ISPU Tercatat Tidak Sehat
Ribuan titik panas ini tersebar di berbagai daerah diantaranya Provinsi Sumatera Selatan yang menyumbang setengah jumlah titik panas di Sumatera dengan 2.994 titik panas.
Disusul Provinsi Bangka Belitung dengan 354 titik panas, Provinsi Jambi dengan 319 titik panas, Lampung 269 titik panas, Bengkulu 32, Sumatera Barat 13, Sumatera Utara 2, Kepulauan Riau 5, dan Provinsi Riau 40 titik panas.
Sedangkan untuk titik panas terbesar di Provinsi Riau masih didominasi Kabupaten Indragiri Hulu dengan 24 titik, Kota Dumai 1, Kabupaten Kuantan Singingi 4, Pelalawan 3, Rokan Hilir 1, dan Kabupaten Indragiri Hilir 7.
Baca Juga: Kembali, Polres Inhu Tangkap Terduga Pelaku Karhutla, Beralasan Ingin Bersihkan Lahan
"Untuk jarak pandang (visibility) di Pekanbaru yang diselimuti asap yakni 3 kilometer, Rengat (Inhu) 3 kilometer, Pelalawan 2,5 kilometer dan Tambang (Kampar) 4 kilometer dengan kategori diselimuti kabut asap yang berbeda setiap daerahnya," katanya.
Editor : Rinaldi