PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau belum berjalan maksimal. Bahkan, kabut asap semakin tebal di beberapa daerah, terutama di Pekanbaru, Selasa (15/9). Dampaknya dirasakan di sektor pendidikan. Sekolah pun kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau dalam jaringan (daring).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Pekanbaru mendeteksi pergerakan kabut asap lintas wilayah ikut memperburuk kualitas udara di Provinsi Riau. Fenomena tersebut terjadi akibat dorongan angin dari arah tenggara dan barat daya yang membawa asap kebakaran hutan dan lahan dari wilayah selatan Sumatera.
Berdasarkan pemantauan citra satelit, pergerakan massa udara secara signifikan membawa polutan dari luar daerah menuju wilayah Riau. Kondisi ini menyebabkan konsentrasi asap di atmosfer Riau meningkat meski sebagian titik api lokal telah terkendali.
“Berdasarkan pola angin dan citra sebaran asap yang kami pantau, terdapat potensi kiriman asap dari wilayah di sebelah selatan Riau. Karena asap bergerak mengikuti arah angin, kondisi yang terpantau di Riau tidak hanya dipengaruhi sumber yang berada di dalam wilayah Riau,” kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Warjono pada Selasa (15/9).
Data BMKG mencatat sebanyak 4.127 titik panas tersebar di Pulau Sumatra dengan jumlah terbanyak berada di Sumatera Selatan yakni 2.878 titik. Sementara itu, pembaruan data hingga pukul 14.00 WIB menunjukkan wilayah Riau terdeteksi memiliki 29 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang.
Sebaran titik panas di Riau mendominasi wilayah Kabupaten Indragiri Hulu 19 titik, Kuantan Singingi 4, Pelalawan 3, Dumai 1, Rokan Hilir 1, dan Indragiri Hilir 1. Pemantauan lintasan massa udara regional turut mengidentifikasi pergerakan asap dari kawasan Kalimantan menuju Kepulauan Riau, Singapura, dan Malaysia. Hal ini menunjukkan bahwa sebaran kabut asap merupakan permasalahan lintas daerah yang sangat bergantung pada dinamika atmosfer.
“Asap dapat terbawa angin dan bergerak melintasi wilayah. Karena itu, untuk mengetahui kondisinya secara utuh kita harus melihat secara bersamaan titik panas, citra sebaran asap serta arah dan kecepatan angin,” ujar Warjono.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Provinsi Riau menegaskan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan di tingkat lokal tetap menjadi prioritas utama. Seluruh personel Satgas Karhutla dikerahkan secara konsisten untuk menyisir dan memadamkan setiap titik api yang muncul.
“Kami tidak menutup mata bahwa masih terdapat karhutla di Riau. Setiap titik api tetap menjadi tanggung jawab kita untuk ditangani. Namun, penjelasan BMKG juga memberikan gambaran bahwa kondisi kabut asap saat ini dipengaruhi dinamika atmosfer dan pergerakan asap lintas wilayah,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Damkar Riau Edy Afrizal.
“Tidak perlu saling menyalahkan dari mana asap berasal. Fokus kita adalah memastikan setiap kebakaran di Riau ditangani, mencegah munculnya titik api baru dan melindungi masyarakat dari dampak asap. Karhutla adalah persoalan bersama karena asap tidak mengenal batas wilayah,” kata Edy.
Berdasarkan pantauan BMKG Pekanbaru, pukul 17.00 WIB, PM2.5 di Pekanbaru naik menjadi sekitar 189,8µg/m³ dan masuk kategori Sangat Tidak Sehat. “Untuk jarak pandang (visibility) di Pekanbaru yang diselimuti asap yakni 3 kilometer, Rengat (Inhu) 3 kilometer, Pelalawan 2,5 kilometer dan Tambang (Kampar) 4 kilometer dengan kategori diselimuti kabut asap yang berbeda setiap daerahnya,” jelas Prakirawan BMKG Pekanbaru Bella R Adelia.
Dengan kondisi ini, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mengambil langkah antisipasi terhadap dampak kesehatan kabut asap terhadap anak-anak. Wali Kota Pekanbaru H Agung Nugroho memutuskan seluruh aktivitas pembelajaran tatap muka terbatas untuk jenjang PAUD, TK, SD dan SMP yang dilakukan sejak Senin (14/9) dialihkan menjadi PJJ.
Kebijakan tersebut mulai diberlakukan Rabu (16/9) dan akan berlangsung hingga Sabtu (19/9). Keputusan ini diambil Agung setelah dirinya menggelar rapat bersama Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta dokter spesialis paru.
“Seluruh masyarakat Pekanbaru yang kami hormati dan banggakan, khusus kepada orang tua yang selalu menanyakan tentang keadaan anak-anaknya,” kata Agung saat menyampaikan kebijakan tersebut, Selasa (15/9). “Kami memutuskan kepada seluruh jajaran kami tentunya juga untuk menyampaikan agar mulai besok (hari ini, red) untuk seluruh sekolah SD dan SMP, TK dan juga tentunya PAUD untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh selama waktu 2-3 hari ke depan,” jelasnya.
Kualitas udara di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) juga kembali memburuk. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dalam beberapa hari terakhir terus berfluktuasi dan mencapai angka 215. Sejumlah sekolah yang terdampak diminta menerapkan PJJ.
“Kita menginstruksikan sekolah untuk memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan,” ujar Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Inhil H Abdul Rasyid, Selasa (15/9). “Kalau kondisi cuaca membaik, sistem pembelajaran kembali dilaksanakan secara tatap muka,” tambahnya.
Demikian juga di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Pemkab Rohul tetap mengambil langkah memperpanjang PJJ bagi siswa PAUD, SD dan SMP negeri maupun swasta hingga Rabu (16/9). Kebijakan itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Rohul Nomor 28 Tahun 2026 tentang Kewaspadaan dan Langkah Antisipasi Dampak Kabut Asap bagi Satuan Pendidikan di Kabupaten Rohul, tertanggal 15 September 2026.
Kadisdikpora Rohul Alreza Ahyu mengatakan, SE Bupati tersebut telah disampaikan kepada Koordinator Pendidikan (Kordik) Kecamatan dan seluruh kepala satuan pendidikan PAUD, SD dan SMP negeri maupun swasta se-Rohul. “PJJ atau daring dari rumah yang diterapkan Selasa (15/9) diperpanjang hingga Rabu (16/9) dan tidak diperkenankan menghadirkan siswa ke sekolah,” katanya.
Di Pelalawan, sempat menjalani sekolah melalui tatap muka, Senin (14/9), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), kembali mengambil kebijakan untuk PJJ atau daring seluruh sekolah. Pasalnya, ISPU di Pelalawan telah masuk dalam level Sangat Tidak Sehat, kemarin.
PJJ ini dilakukan hingga Kamis (17/9) mendatang. Pantauan Riau Pos, di sejumlah sekolah di Kecamatan Pangkalankerinci, para pelajar dipulangkan saat tengah menjalani belajar tatap muka, tepatnya pada pukul 09.00 WIB.
“Ya, mengingat kabut asap kian menebal di Pelalawan yang menyebabkan kualitas udara semakin memburuk, maka kami mengeluarkan surat edaran untuk menerapkan PJJ bagi seluruh sekolah di Pelalawan,” terang Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Pelalawan Leo Nardo SPd didampingi Sekretaris Fenjli Harmasni, Selasa (15/9).
“Artinya, bisa saja Rabu (16/9) atau Jumat (18/9) mendatang kembali aktif belajar tatap muka semua sekolah, jika kualitas udara membaik. Atau bahkan akan kembali diperpanjang PJJ ini, apabila kualitas udara tetap memburuk,” paparnya.
Sedangkan surat edaran terkait pembelajaran di tengah kondisi kabut asap, bersifat tentatif dan akan disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara. “Surat edaran yang sudah dikeluarkan itu sifatnya tentatif. Kalau kondisi asap mencapai level sangat tidak sehat, maka secara otomatis pembelajaran dilakukan melalui PJJ,” ujarrnya.
Karhutla Dekat Kantor Bupati Kampar
BPBD Kabupaten Kampar melaporkan dua kejadian kebakaran lahan yang terjadi di kawasan Jalan Lingkar Kantor Bupati Kampar, Selasa (15/9). Kedua titik kebakaran tersebut masing-masing berada di Sungai Hijau, Desa Salo, Kecamatan Salo dan di samping Sirkuit Balap, Kecamatan Bangkinang Kota, dekat kantor Bupati Kampar.
Kalaksa BPBD Kabupaten Kampar, Azwan melalui Kepala Pusdalops PB Adi Candra mengatakan kedua titik kebakaran tersebut telah berhasil dipadamkan oleh tim gabungan. “Tim Satgas Karhutla Kampar yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Damkar dan MPA melakukan pemadaman, pemblokiran sekaligus pendinginan di lokasi kebakaran lahan. Saat ini api sudah padam,” ujar Adi.
Kuansing Masih Berasap
Wilayah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) hingga Selasa (15/9) masih di kepung asap yang diprediksi berasal dari kabupaten tetangga. “Yang dekat atau berbatasan dengan Riau dan Kuansing itu adalah Tanjung Jabung Barat satu titik, Tebo dua titik, Bungo satu titik,” ujar Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kuansing Dody Fitrawan.
Sementara Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Bencana, Koko Mahyudi juga menyebutkan asap muncul dikarenakan beberapa titik api di kabupaten tetangga yang masih ditemukan. Di tambah arah angin yang memang bergerak dari timur ke barat. “Asap ini berasal dari kabupaten tetangga dan pergerakan arah angin dari timur ke barat,” ujarnya.
Plt Bupati Kuansing Muklisin memimpin rapat bersama Forkopimda, Selasa (15/9) siang. Ia meminta seluruh stakeholder meningkatkan koordinasi, terutama camat dan kepala desa. “Masyarakat setempat juga harus dilibatkan karena pencegahan karhutla membutuhkan kerja sama kita semua,” tegasnya.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto mengatakan, di Kabupaten Bengkalis, Daops Siak menurunkan satu tim untuk menangani karhutla di Desa Teluk Lancar, Kecamatan Bantan.
Sementara di Inhu, Daops Rengat mengerahkan dua tim ke Desa Pulau Jumat, Kecamatan Kuala Cenaku. Kedua tim tersebut masih melakukan penanganan di lokasi pada Selasa siang. “Selain dua lokasi yang masih ditangani, Manggala Agni Daops Pekanbaru sebelumnya juga mengerahkan satu tim ke Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar,” katanya.
Edy menegaskan tim OMC tetap dalam posisi siaga dan akan segera melakukan penyemaian apabila terdapat potensi awan yang memungkinkan. Hal itu guna pembahasan lahan gambut agar tidak ada lagi titik api baru. “Begitu ada yang bisa segera disemai, tidak menyia-nyiakan potensi sekecil apa pun yang bisa membasahi lahan gambut supaya tidak terbakar,” tegasnya.
Edy Afrizal mengatakan, mengatakan berdasarkan arah angin dan kondisi titik panas di wilayah sekitar, asap yang terpantau di Riau diduga berpotensi berasal dari provinsi tetangga. “Karena Riau beberapa hari ini dengan firespot nihil, asap kemungkinan besar dari tetangga, karena menurut BMKG, angin berhembus dari selatan ke utara,” jelas Edy.(ayi/sol/ali/*2/epp/amn/kom/dac/kas/azr)
Editor : Arif Oktafian