Diego Gajah Sumatera Usia 17 Tahun Mati di PLG Minas, Gajah Kelima Mati di Riau Sepanjang 2026

Hendrawan Kariman • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 22:32 WIB
Gajah jinak berusia 17 tahun mati diduga akibat infeksi saluran pencernaan kronis di PLG Minas, Siak, Riau pada Rabu (16/9/2026). (BBKSDA Riau untuk Riaupos.co)
Gajah jinak berusia 17 tahun mati diduga akibat infeksi saluran pencernaan kronis di PLG Minas, Siak, Riau pada Rabu (16/9/2026). (BBKSDA Riau untuk Riaupos.co)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kematian Gajah Sumatera kembali terjadi di Riau. Kali ini gajah jinak yang diberi nama Diego. Gajah binaan yang baru berusia 17 tahun itu tutup usia di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Siak, Riau pada Rabu (16/9/2026).

Kematian Diego merupakan kematian gajah kelima di Riau sepanjang tahun ini. Rentetatan kematian pada 2026 ini dimulai pada 2 Februari 2026 dimana gajah liar  jantan berusia 40 tahun mati ditembak.

Bangkainya ditemukan tanpa gading di areal konsesi PT RAPP Distrik Ukui, Kabupaten Pelalawan.

Baca Juga: Tim Mabes TNI Turun ke Inhil, TNI-Polri Perkuat Barisan Hadapi Ancaman Karhutla

Dalam hitungan kurang dari satu bulan, pada  26 Feb 2026, gajah liar jantan berusia 5 tahun yang mati. Bangkai anak gajah ini ditemukan terjerat di kebun perambah, di Resort Lancang Kuning, Taman Nasional Teso Nilo (TNTN),  Pelalawan.

Lalu pada 29 Juni 2026 giliran gajah jinak jantan bernama Indro mati di TNTN. Gajah dewasa berusia 45 tahun mengalami penurunan kesehatan pasca pembiusan di Camp Elephant Flying Squad (EFS) TNTN.

Pada pekan yang sama, menyusul Jovi, gajah jinak jantan berusia 46 tahun yang mati pada 3 Agustus 2026. Ia tutup usia setelah mengalami sakit komplikasi pencernaan dan gangguan otot berat. Jovi sempat dirawat selama 34 hari di PLG Minas, Siak, sebelum dinyatakan mati.

Baca Juga: Penjaringan Calon Ketua Golkar Kampar Dibuka Besok, Musda Digelar 21-22 September

Adapun kasus terbaru, kematian kelima tahun ini, yaitu gajah Diego, diduga mati akibat infeksi saluran pencernaan yang bersifat kronis pada 16 Agustus 2026 lalu.

Plh Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Ujang Holisudin menjelaskan, gajah diego mulai terlihat  sakit sejak tanggal 10 September 2026. Ia mengalami penurunan kondisi kesehatan dengan kotoran mencret dan nafsu makan berkurang. 

Hasil diagnosa awal tim medis, sebut Ujang,  gajah mengalami cacingan. Karena ditemukan beberapa cacing dalam kotoran yang dikeluarkan. Gajah Diego kemudian diberi antibiotik, antiradang antiinflamasi, dan pemberian obat cacing.

Baca Juga: Kalahkan Stella Gracia di Semifinal, Putri SMAN 1 Pekanbaru Melaju ke Final

''Setelah beberapa hari pengobatan secara intensif gajah diego mulai meningkat nafsu makan, dan kotoran sudah berbentuk,'' kata Ujang.

Namun, hasil pemeriksaan feses di Laboratorium PPS Yayasan Arsari Djodjohadikusumo di Pekanbaru dan dinyatakan negatif dari cacing. Kemudian pada tanggal 15 September 2026 gajah Diego kembali jatuh sakit.

''Gejala klinisnya, tidak mau makan sama sekali, diare dengan frekuensi sering dengan bentuk hanya cairan yang keluar, dan kondisi fisik sangat lemah. Aktivitas minum sangat minim dimana minum pagi hari 5 tegukan, siang hari ketika mau diberi obat 3 tegukan, sore ketika dimandikan 1 tegukan,'' lanjut Ujang.

Baca Juga: Didakwa Lakukan Suap Demi Jabatan, Mantan Sekda Kuansing Tak Ajukan Eksepsi

Atas kondisi itu, tim medis BBKSDA Riau langsung memberikan cairan infus, obat obatan supportif, antiradang serta antiinflamasi. Namun pada keesokan harinya, sekitar pukul 12.00 WIB siang, nyawa gajah Diego tidak tertolong. Ia dinyatakan mati.

Berdasarkan hasil nekropsi (bedah bangkai), kata Ujang, penyebab kematian gajah muda ini diduga akibat infeksi saluran pencernaan kronis. 

Editor : M. Erizal
diego gajah 17 tahun mati di plg minas gajah sumatera mati di riau sepanjang 2026 kematian gajah plg minas gajah mati