Antre sejak Subuh demi Bio Solar

Tim Redaksi • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 12:37 WIB
Pengelola kompleks ruko memasang tanda batas kendaraan antre solar pada  pintu masuk tak jauh dari SPBU Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru, Rabu (23/9/2026). (DENNI ANDRIAN/RIAU POS)
Pengelola kompleks ruko memasang tanda batas kendaraan antre solar pada pintu masuk tak jauh dari SPBU Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru, Rabu (23/9/2026). (DENNI ANDRIAN/RIAU POS)

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Demi untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis bio solar, para sopir truk rela antre hingga berjam-jam. Seperti yang terlihat di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dengan nomor 14.282.6113 di Jalan Soekarno-Hatta Pekanbaru. Puluhan kendaraan jenis truk tampak antre hingga kepinggir jalan di luar area SPBU. Kondisi ini juga memicu perlambatan kendaraan. Pasalnya, kondisi truk yang berukuran besar dan berhenti di pinggir jalan cukup memakan badan jalan. 

Tidak hanya pengguna jalan, masyarakat di sekitar SPBU yang berjualan juga merasa terganggu, karena antrean kendaraan tidak jarang menutup lokasi usaha mereka. Kondisi antrean panjang di SPBU tersebut juga sebenarnya tidak diinginkan para sopir truk. Pasalnya, untuk mendapatkan BBM jenis bio solar mereka harus antre berjam-jam. Bahkan ada sopir yang mengaku pernah antre hingga 4 jam.

Iksan, sopir truk ini mengaku pernah antre dari pukul 04.00 pagi agar bisa mendapatkan bio solar. Pasalnya, jika telat datang untuk antre di SPBU, maka antrean akan lebih panjang dan bisa saja bio solar akan habis.

“Pernah antre dari jam 4 subuh, itupun baru dapat jam 8 pagi,” katanya.

Baca Juga: Antre Solar sampai Bawa Bekal Nasi, DPRD Riau Segera Surati Plt Gubernur
Dengan kondisi seperti ini, ia berharap ada kebijakan dari pemerintah sehingga mereka tidak lagi perlu antre berlama-lama untuk mendapatkan BBM subsidi jenis bio solar. 

“Pemerintah tolonglah. Biar kami tidak harus antre lama-lama lagi di SPBU, habis waktu untuk itu saja,” harapnya. 

Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), telah mengajukan penambahan kuota BBM jenis bio solar dan pertalite. Pengajuan penambahan kuota tersebut dilakukan melihat saat ini banyak antrean kendaraan di SPBU untuk pengisian BBM terutama jenis bio solar.

Kepala Dinas ESDM Riau Ismon mengatakan, untuk kuota bio solar penambahan kuota yang diajukan sebanyak 99.700 kilo liter (KL). Sedangkan penambahan kuota pertalite sebanyak 99.556 KL. 

Baca Juga: Antre 4 Jam hingga Menginap untuk Dapatkan Solar

“Pemprov Riau telah mengajukan kuota BBM jenis bio solar dan pertalite. Tapi hingga saat ini masih tinggal menunggu persetujuan dari pusat dalam hal ini BPH Migas,” katanya.

Terkait pengajuan penambahan kuota tersebut, pihaknya saat ini masih terus berkoordinasi dengan pihak BPH Migas. Pasalnya untuk penambahan kuota tersebut juga perlu persetujuan dari pemerintah pusat.

“Pengajuan penambahan kuota BBM bersubsidi ini kan ada kaitannya dengan APBN juga. Makanya kami masih menunggu sembari terus berkoordinasi, informasi yang kami dapatkan pembahasan usulan tersebut baru akan dilakukan akhir bulan ini,” ujarnya. 

Sopir Rela Menunggu Berjam-jam

Antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di SPBU Kampa, Kabupaten Kampar, masih berlangsung hingga Sabtu (26/9/2026). Sejumlah kendaraan, terutama angkutan, terlihat rela mengantre untuk mendapatkan BBM yang dibutuhkan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Kondisi tersebut membuat para sopir harus meluangkan waktu lebih lama di SPBU. Mereka memilih tetap mengantre karena solar masih tersedia di SPBU Kampa. Bagi sopir angkutan, ketersediaan solar menjadi hal penting karena berkaitan langsung dengan kelancaran operasional kendaraan.

Salah seorang sopir angkutan, Febri, mengatakan dirinya memilih mengisi solar di SPBU Kampa karena BBM jenis tersebut masih tersedia. Menurutnya, para sopir dapat memperoleh solar asalkan bersedia mengikuti antrean yang ada.

“Asal mau mengantre, kapan saja, 24 jam, bisa mengisi BBM solar di SPBU Kampa ini. Karena itu banyak sopir yang mengantre solar di SPBU ini. Saya saja sudah lebih satu jam mengantre untuk mengisi solar,” jelas Febri, Sabtu (26/9).

Menurut Febri, panjangnya antrean membuat waktu yang dibutuhkan untuk mengisi BBM menjadi lebih lama. Para sopir harus bersabar menunggu kendaraan di depannya mendapatkan giliran sebelum dapat masuk ke area pengisian.

Meski harus menunggu cukup lama, Febri mengatakan para sopir tetap memilih mengantre. Pasalnya, mendapatkan solar menjadi kebutuhan utama agar kendaraan dapat kembali digunakan untuk menjalankan aktivitas angkutan.

“Kalau memang ada solar, kami tetap antre. Yang penting kendaraan bisa mendapatkan BBM dan bisa kembali beroperasi,” ujarnya.

Antrean kendaraan berbahan bakar solar tersebut juga membuat para sopir harus menyesuaikan waktu perjalanan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk menjalankan aktivitas angkutan harus tersita untuk menunggu giliran mendapatkan BBM.

Bagi sopir angkutan, kondisi tersebut menjadi bagian yang harus dihadapi ketika kebutuhan terhadap solar meningkat. Mereka berharap ketersediaan solar tetap terjaga sehingga kendaraan yang membutuhkan BBM dapat melakukan pengisian tanpa harus menunggu terlalu lama.

Para sopir juga berharap proses pengisian di SPBU dapat berjalan lancar. Dengan demikian, kendaraan yang sudah mengantre dapat segera mendapatkan solar dan kembali melanjutkan aktivitas masing-masing.

Hingga Sabtu (26/9), antrean kendaraan untuk mendapatkan solar di SPBU Kampa masih terlihat. Para sopir tetap memilih mengantre karena solar masih tersedia di SPBU tersebut, meskipun harus menunggu dalam waktu yang cukup lama.

Kondisi ini menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap BBM jenis solar, khususnya bagi kendaraan angkutan yang mengandalkan solar untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Sepekan Ini Kerap Terjadi Antrean, Namun Tidak Berlangsung Lama

Antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar sempat  terjadi di SPBU Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) dalam pekan ini. Sejumlah kendaraan, terutama kendaraan yang membutuhkan solar, terlihat mengantre untuk melakukan pengisian.

Kondisi tersebut terjadi di tengah tingginya kebutuhan masyarakat terhadap BBM jenis solar, baik untuk kendaraan angkutan maupun aktivitas ekonomi masyarakat. Namun dari pantauan beberapa kali di SPBU tersebut antrean tidak berlangsung lama. Biasanya antrean terjadi pada siang hari, di mana pasokan BBM khususnya jenis solar tiba dan dilakukan pengisian di SPBU milik Pemkab Rohil tersebut. Sementara aktivitas pengisian di SPBU tersebut menjelang sore, biasanya sudah sepi.

Terpisah Pengelola SPBU Bagansiapiapi, Adharsam, mengatakan di tengah kondisi kerap terjadinya antrean pihaknya tetap berupaya memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan ketersediaan BBM yang diterima SPBU.

Menurutnya, kondisi antrean sangat dipengaruhi oleh jumlah pasokan yang datang serta tingginya kebutuhan masyarakat. Ketika pasokan tersedia dan masyarakat datang dalam jumlah cukup banyak, antrean pun tidak dapat dihindari. Adharsam menjelaskan, pihak SPBU terus berupaya mengatur pelayanan agar distribusi solar kepada masyarakat dapat berjalan tertib.

“Kami tetap melayani sesuai dengan stok dan pasokan yang tersedia,” ujar Adharsam Sabtu (26/9). Ia mengatakan kebutuhan solar di Bagansiapiapi cukup tinggi. BBM tersebut tidak hanya digunakan oleh kendaraan angkutan, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada ketersediaan solar.

Kondisi antrean tersebut menjadi perhatian karena solar merupakan salah satu BBM yang banyak dibutuhkan untuk mendukung aktivitas transportasi dan perekonomian masyarakat.

Di samping itu dirinya mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti aturan dan antrean yang telah ditetapkan selama melakukan pengisian BBM. Terpisah juga Direktur Pengembangan PT SPRH (Perseroda) Yusuf Mudji Sutrisno menyebutkan pihaknya telah mengajukan penambahan kuota BBM subsidi untuk SPBU tersebut. 

“Kami telah mengajukan penambahan kuota, dan didukung bersama pihak Disperindagsar Rohil, tapi sejauh ini masih belum dipenuhi,” katanya. 

Sementara pantauan di SPBU Bintang, di Jalan Bintang Bagansiapiapi aktivitas pengisian BBM berjalan lancar. Hampir tidak pernah terjadi antrean pengisian kendaraan di SPBU tersebut dalam sepekan belakangan. Beberapa kali wartawan sempat mengisi BBM di SPBU ini, yang terlihat antrean kendaraan berjalan normal. Untuk pengisian BBM bagi pengguna motor barisan antrean kendaraan di kisaran lima-enam motor saja, sementara untuk pengisian di stasiun solar juga tidak ada antrean. Terpantau hanya satu-dua mobil terutama truk yang antre melakukan pengisian BBM. 

Salah seorang pengemudi truk, Isman mengatakan sejauh ini tak ada kendala terhadap kebutuhan solar untuk kendaraan yang dikemudikannya tersebut. “Cukup sesuai dengan yang diperlukan, tapi yang jadi masalah kadang pasokan solarnya baru ada siang hari,” katanya. 

Antre Satu sampai Dua Jam

Antrean solar masih terjadi di Kabupatrn Siak. Antrean tak hanya di Kecamatan Siak, tapi juga Bungaraya dan Koto Gasib. Truk pengangkut tandan buah sehat (TBS) paling banyak berada dalam antrean. Antrean terjadi sejak pagi, sampai petang. Disebutkan Dandi, sopir truk TBS, dia biasanya antre saat SPBU belum buka. Jadi saat buka, antrean tidak terlalu panjang.

“Meski antre sebelum SPBU buka, tetap saja antre memakan waktu sejam sampai sejam setengah,” ucap Dandi, Sabtu (26/9) siang.

Dia mengaku tidak kuat antre lama-lama. Pernah dia antre di siang hari karena tangki benar benar kosong. Dua sampai tiga jam antreannya. Kamto, warga Bungaraya mengatakan hal yang sama. Kadang dia berkeliling ke sejumlah SPBU, mengantisipasi antrean. Tapi tak ada yang tak antre. 

“Pernah saya semangat karena tak antre, tapi saat didekati, solar kosong, yang ada hanya pertalite,” ucap Kamto.

Kamto sangat berharap situasi seperti ini dapat segera berakhir. Tak ada lagi antrean, semua kembali normal.

Terkait rencana pembentukan Satgas Solar yang diusulkan oleh DPRD Riau, Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menyampaikan bahwa Pertamina mengapresiasi berbagai masukan dan perhatian yang disampaikan oleh seluruh elemen dan DPRD Provinsi Riau. Masukan tersebut menjadi bagian penting bagi Pertamina dalam melakukan evaluasi dan optimalisasi penyaluran BBM di lapangan.

“Pertamina mengapresiasi berbagai masukan yang disampaikan oleh seluruh elemen dalam pertemuan bersama DPRD Provinsi Riau. Hal ini menjadi perhatian kami untuk terus melakukan evaluasi terhadap penyaluran BBM dan memastikan kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Fahrougi.

Pertamina juga mengapresiasi dukungan dan sinergi dari aparat penegak hukum, termasuk TNI dan Polri, yang telah membantu menjaga keamanan dan kondusivitas dalam proses penyaluran energi di Provinsi Riau. Di sisi lain, Pertamina senantiasa menjaga koordinasi dan komunikasi bersama Pemerintah Provinsi Riau dalam rangka memastikan pemenuhan kebutuhan energi masyarakat dapat berjalan dengan baik.

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut berkomitmen untuk terus memantau kondisi penyaluran BBM di Provinsi Riau, melakukan evaluasi secara berkala, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh stakeholder terkait guna memastikan pelayanan dan penyaluran energi kepada masyarakat dapat berjalan secara optimal.(sol/ fad/kom/mng/azr/muh)

Editor : Bayu Saputra
solariaulangka pertamina antrean solar BBM Subsidi solar