PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kabut asap pekat yang masih menyelimuti Riau ternyata tidak berasal dari kawasan ini. Hingga Sabtu (10/10), titik api (hotspot) di Riau ternyata nihil. Ribuan titik api justru ada di Sumsel dan Jambi yang mengirim asap ke Riau. Sejauh ini, lahan yang terbakar di Riau sudah mencapai 20.597,23 hektare, namun semuanya sudah padam.
Di sisi lain, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Riau untuk membuat hujan buatan telah selesai dilaksanakan di Riau. Selama periode pelaksanaan yakni pada bulan Juli hingga September, total 80 ton garam telah disemai di langit Riau.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran Riau Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik Jim Gafur mengatakan, OMC yang dilaksanakan di Riau merupakan bantuan dari pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, BMKG dan juga BRIN.
Baca Juga: Tidak Ada Titik Api, Kabut Asap di Inhu Kiriman dari Provinsi Tetangga
“Selama periode pelaksanaan OMC di Riau yakni mulai 30 Juli hingga 25 September, total garam yang telah disemai sebanyak 80 ton,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, selama pelaksanaan OMC tersebut, juga sudah terpantau terjadi hujan di beberapa wilayah di Riau. Hal tersebut juga cukup membantu dalam proses pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat terjadi di Riau beberapa waktu lalu.
“Setelah pelaksanaan OMC di beberapa wilayah yang sebelumnya kering turun hujan. Hal tersebut juga cukup membantu proses pemadaman karhutla,” sebutnya.
Sementara itu, Provinsi Riau saat ini dilaporkan sudah nihil titik Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun beberapa wilayah di Riau dilaporkan masih diselimuti kabut asap.
Baca Juga: Riau Nihil Karhutla, Sumsel Dilaporkan Banyak Titik Api
“Riau saat ini sudah nihil karhutla. Hujan juga sudah hampir merata terjadi di wilayah Riau,” katanya.
Namun demikian, beberapa wilayah di Riau justru masih diselimuti oleh kabut asap. Hal tersebut diduga merupakan asap kiriman dari provinsi lain. Pasalnya di Sumsel saat ini dilaporkan banyak ditemukan titik api. Kondisi tersebut diduga menjadi penyebab Provinsi Riau masih diselimuti kabut asap.
“Asap kiriman, karena di Riau nihil titik api. Sementara di Sumsel banyak dilaporkan titik api,” sebutnya.
Meski kondisi Riau saat ini nihil karhutla, petugas tetap disiagakan dan pemantauan terhadap daerah rawan kebakaran terus dilakukan. BPBD Damkar Riau juga mengingatkan masyarakat agar tidak lengah dan tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
“Kondisinya memang sudah nihil, tetapi kewaspadaan tetap harus dijaga. Kami mengimbau masyarakat jangan melakukan pembakaran lahan agar karhutla tidak kembali terjadi,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran Riau, total luas lahan terbakar di Riau telah mencapai 20.597,23 hektare. Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan luas terbakar terluas se-Riau yaitu 8.569,25 Ha. Disusul Pelalawan dengan luas terbakar 6.710,21 Ha, Inhu 1.631,95 Ha, Inhil 1.381,54 Ha, dan Dumai 651,09 Ha.
“Untuk Wilayah lain yakni Rohil: 445,47 Ha, Siak: 429,72 Ha, Meranti: 307,91 Ha, Kampar: 171,67 Ha, Kuansing: 129,32 Ha, Pekanbaru: 106,73 Ha dan Rohul: 62,37 Ha,” katanya.
Selama Tiga Hari Potensi Hujan di Riau Kembali Tinggi
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru memperkirakan potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang mulai terjadi di sejumlah daerah di Provinsi Riau dan Pulau Sumatera, Sabtu (10/10). Menurut Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Warjono SSi MKom, sejak Jumat (9/10) potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang disertai petir dan angin kencang mulai mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Riau, termasuk Kota Pekanbaru.
Bibit awan hujan juga mulai muncul di daerah selatan Provinsi Riau, di mana saat ini Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi masih mengalami peningkatan jumlah titik panas dan penyumbang terbesar kabut asap di Provinsi Riau dan daerah lainnya Pulau Sumatera.
“Potensi hujan akan terjadi selama tiga hari ini mulai tanggal 9,10 hingga 11 Oktober 2026 mendatang. Ini juga terjadi di daerah selatan Sumatera yaitu di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi yang diharapkan titik panas di lokasi tersebut bisa turun agar kabut asap di Riau juga menipis,” ujarnya.
Dikatakannya lagi, berdasarkan pantauan radar citra satelit BMKG Pekanbaru total titik panas di Provinsi Riau akhir pekan ini hanya terdeteksi tiga yaitu di Kota Dumai sebanyak dua titik dan Kabupaten Pelalawan satu titik. Sedangkan jumlah titik panas di Pulau Sumatera
masih cukup besar berkisar 2.249 titik panas dan Provinsi Sumatera Selatan masih mendominasi jumlah titik panas mencapai 1.711 titik disusul Jambi sebanyak 325 titik dan Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 122 titik, Lampung terpantau memiliki 75 titik, Kepulauan Riau enam titik, Bengkulu lima titik, serta Aceh dua titik.
Sementara itu, pada malam hari, cuaca di Provinsi Riau diprakirakan masih berawan dan berpotensi mengalami kekaburan udara akibat asap. Hujan ringan diperkirakan turun di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kampar, Pelalawan, dan Bengkalis.
Suhu udara di Riau diprakirakan berkisar antara 23 hingga 33 derajat Celsius, dengan kelembapan udara mencapai 55–99 persen. Angin bertiup dari arah tenggara hingga barat dengan kecepatan 10–40 kilometer per jam dan memperkirakan tinggi gelombang laut di perairan Provinsi Riau berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter atau masuk kategori rendah.
“Masyarakat tetap diimbau untuk memperhatikan kondisi cuaca sebelum melakukan aktivitas di laut. Pengendara dan warga yang beraktivitas di luar ruangan juga perlu mengantisipasi hujan lebat, petir, angin kencang, serta berkurangnya jarak pandang akibat kekaburan udara,” tegasnya.
Hujan Redakan Kabut Asap Rohul, Sekolah Diharapkan Kembali Normal
Setelah hampir sepekan diselimuti kabut asap, masyarakat Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) mulai bisa bernapas lega. Hujan yang mengguyur merata di 16 kecamatan sejak Jumat (9/10) dini hari hingga Sabtu (10/10) pagi, membuat kabut asap di Kota Pasirpengaraian berangsur menipis dan udara terasa lebih segar.
Membaiknya kondisi ini memunculkan harapan warga dan orang tua, agar kegiatan proses belajar mengajar peserta didik di sekolah kembali berlangsung normal pada Senin (12/10) mendatang.
Pantauan Riau Pos di sejumlah kecamatan di Kabupaten Rohul, Sabtu (10/10) pagi, mendung dan sejumlah kecamatan diguyur hujan dengan intensitas ringan dan sedang. Namun petang hari, terlihat langit di ibu kota Rohul terlihat lebih cerah meski sejumlah wilayah masih mendung. Kabut asap yang sebelumnya menyelimuti kota dan mengganggu jarak pandang tidak lagi terlihat setebal hari-hari sebelumnya.
Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya merata. Dari kejauhan, kabut asap masih terlihat di kawasan kaki Bukit Barisan, Kecamatan Rambah. Meski demikian, hujan yang turun dalam dua hari terakhir membawa perubahan yang disambut lega masyarakat setelah beberapa hari harus beraktivitas di tengah udara yang terasa panas dan gerah.
Rahmat, warga Kelurahan Pasirpengaraian, mengatakan kondisi udara mulai terasa lebih nyaman setelah hujan mengguyur wilayah Rohul. Ia berharap hujan kembali turun agar kabut asap semakin berkurang dan masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa.
“Pada sore ini (Sabtu, red), kondisi langit terlihat lebih terang meski sebagian masih mendung. Kabut asap yang sebelumnya menyelimuti Kota Pasirpengaraian dan sekitarnya tidak lagi terlihat seperti hari-hari sebelumnya. Udara pun terasa lebih segar setelah hujan turun dalam dua hari terakhir,” ujarnya kepada Riau Pos, Sabtu (10/10) petang.
Harapan masyarakat, katanya tidak hanya berkaitan dengan membaiknya kualitas udara, tetapi juga aktivitas pendidikan. Sebab, selama beberapa hari terakhir, siswa PAUD, SD, dan SMP di Rohul harus mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari rumah akibat kabut asap dan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi kesehatan.
“Sudah empat hari hingga Sabtu (10/10) anak-anak belajar daring dari rumah. Semoga Senin besok aktivitas belajar peserta didik kembali normal seperti biasa,” harap Rahmat.
Sebelumnya, kabut asap tebal menyelimuti sejumlah wilayah di Rohul pada Senin (5/10). Saat itu, siswa masih mengikuti pembelajaran di sekolah hingga Selasa (6/10), meski pemerintah daerah kemudian mengambil kebijakan memulangkan siswa lebih awal seiring menurunnya kualitas udara.
Pemkab Rohul selanjutnya menerapkan PJJ bagi peserta didik PAUD, SD, dan SMP, baik negeri maupun swasta, pada Rabu (7/10) hingga Kamis (8/10). Karena kabut asap belum berkurang secara signifikan, kebijakan tersebut diperpanjang hingga Jumat (9/10) dan Sabtu (10/10). (sol/ayi/epp/dac/muh)
Editor : Bayu Saputra