Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kiprah Buya Khalifah Zulfan Akbar, Rehabilitasi Ratusan Korban Narkoba dan Judi dengan Zikir dan Jalan Tarekat

Zulfadhli • Rabu, 27 Mei 2026 | 02:35 WIB
Buya Khalifah Zulfan Akbar. (Istimewa)
Buya Khalifah Zulfan Akbar. (Istimewa)

BAGANSIAPIAPI (RIAUPOS.CO) -- Peredaran narkoba di wilayah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) tengah menjadi permasalahan yang kian menghkawatirkan. Bukti nyata terjadi reaksi masyarakat dengan aksi demonstrasi besar-besaran di sejumlah daerah yang beberapa diantaranya berujung pada pengrusakan rumah dan pembakaran barang-barang diduga milik bandar narkoba. 

Di tengah kondisi yang memprihatinkan itu, ada sosok yang memilih untuk tidak turut dalam keriuhan massa namun memilih jalan sepi dengan melakukan aksi nyata lewat merehabilitasi para korban pengunaan narkoba. 

Sosok tersebut adalah Buya Khalifah Zulfan Akbar, seorang tokoh agama, mursyid pemimpin persulukan yang juga membangun panti rehabilitasi narkoba dan judi, di bawah naungan Yayasan Az Zikra An Nuur Babussalam di Bagansiapiapi. 

Baca Juga: Gotong Royong Massal di Bagansiapiapi Rohil, Ratusan Petugas Gabungan dan Warga Terlibat

Keberadaan yayasan dengan fokus pada rehabilitasi telah berjalan dalam kurun tujuh tahun terakhir dan sejauh ini telah membantu sekitar 247 orang dari berbagai daerah di Indonesia.
 
Buya Zulfan menerangkan terdapat tiga kategori untuk tahapan penyembuhan atau rehab korban pengunaan narkoba tersebut, berupa rehabilitasi di rumah atau rehab jalan, rehab di pondok majelis zikir dan ada yang hanya diberikan obat atau diobati tanpa bersentuhan. 

"Saat ini kami mengasuh korban anak penguna narkoba dari Bagan Batu dan juga Kabupaten Kampar," ujar Buya Zulfan, ditemui di pondok majelis Zikir Az Zikra An Nuur Babussalam di Bagansiapiapi, Senin (26/5/2026). 

Baca Juga: 13 Pengunjung THM Positif Narkoba, Polisi Tak Membantah Ada Satu Anak Kepala Daerah di Riau

Ia menerangkan awal berdirinya yayasan itu, setelah berinteraksi dengan masyarakat yang membuat pengajian. Dalam pengajian yang dijalankan, ternyata ada beberapa jamaah yang mengikuti pengajian merupakan penguna narkoba. Ada yang merupakan PNS bahkan oknum penghulu. Karrena hal itu dirinya tergerak melakukan upaya penyembuhan dengan metode tersendiri dengan pendekatan keagamaan. 

"Itulah menjadi awal untuk dibangunnya panti rehabilitasi narkoba. Dalam hati saya ada keinginan agar jamaah sembuh. Ini sebagai upaya mendukung program pemerintah untuk pencegahan, dan dari apa yang saya jalankan itu Alhamdulillah rupanya efektif, banyak yang sembuh dan pulih," kata Buya Zulfan. 

Sampai saat ini orang-orang yang direhabilitasi berasal dari berbagai daerah, dan berbagai kalangan. Dengan latar belakang keluarga dan usia yang beragam. Mulai dari yang tua sampai usia pelajar. Bahkan terangnya, ada satu korban yang merupakan pelajar dan sempat telah dikeluarkan dari sekolah, akhirnya direhab dan bisa kembali aktif belajar.

Baca Juga: Khairul Kembali Bawa Pulang Sepeda Motor Setelah Hilang Empat Bulan, Pengungkapan 64 Unit Hasil Curanmor oleh Polres Inhu 

Kemampuan mengobati korban kecanduan narkoba itu menurut Buya Zulfan tak terlepas dari ilmu yang diajarkan ayahnya, Buya Efendi. Datang dari Panipahan, orang tuanya kemudian tinggal di Bagansiapiapi dan bermukim di Jalan Selamat, Kelurahan Bagan Timur. Sang ayah, pada masa hidupnya sempat belajar dari Abah Anom Suryalaya, seorang ulama kharismatik di Tasik Malaya. 

"Dari pengalaman bergabung di Suryalaya itu, diajarkan kepada kami sehingga bisalah kami meneruskan perjuangan beliau untuk rehab anak-anak korban narkoba," ujar Buya Zulfan.

Ia menerangkan, salah satu kelebihan dari metode penyembuhan yang dilakukan adalah pendekatan yang sangat manusiawi. Di beberapa tempat serupa, terutama yang pernah didatanginya di sejumlah daerah di tanah air pada umumnya memperlakukan pendekatan yang cukup keras terhadap orang yang datang untuk rehabilitasi narkoba. Bahkan ada pasien yang datang dari Padang Lawas, Sumut yang mengalami cacat kaki sebelah akibat terlalu lama dirantai.

Baca Juga: Seleksi Terbuka JPT Pratama Kampar Berlanjut ke Tahap Makalah dan Presentasi

"Saya lihat seperti semi penjara, dikerangkeng, dikasi makan disitu. Pas kegiatan olahraga baru dikeluarkan. Berbeda di sini kami lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan mengajarkan jalan Tarekat. Itu adalah semacam  bentuk Gerakan bathin, menjemput petunjuk hidayah dan kemudian dikasikan amalan, wirid khusus seperti zikir istigfar, dalam satu malam itu bisa mengkhatamkan 5000 zikir Allah. Allah, jadi pendekatan yang diterapkan sangat persuasif," katanya. 

Dengan metode berzikir terus menerus itu terangnya terbukti sangat efektif, sehingga pasien selalu ingat kepada Allah dan tertutup keinginan untuk kembali memakai narkoba. Sementara terhadap korban usia pelajar diberikan metode khusus seperti membaca quran, khatam, membaca dan menghafalkan surah tertentu dan lain-lain. 

"Jadi mereka tak diperlakukan seperti di penjara, di sini dilakukan pendekatan agar semakin dekat dengan Allah. Kita latih agar mereka tetap semangat, percaya diri di samping juga diterapkan melakukan kegiatan seperti berkebun, membuat kerajinan dan lain-lain yang tujuannya menghilangkan kebiasaan negatif, menghilangkan pemikiran ingat narkoba," katanya. 

Baca Juga: Satu Kali SPPD, Bupati Inhu Bersama Perangkat Daerah Roadshow Ke-13 Kementerian Jemput Progam Pembangunan 

Dampak dari metode itu sejauh ini menunjukkan perkembangan yang mengembirakan. Pasalnya tak sedikit, orang yang sebelumnya mengalami kecanduan narkoba, setelah mengikuti terapi tidak hanya sembuh, tapi mengalami perubahan pribadi jauh lebih baik. 

"Dari yang sebelumnya ahli maksiat, akhirnya bukan hanya berhenti tapi jadi ahli ibadat. Banyak yang kemudian memilih mengikuti ilmu persulukan, bahkan ada yang sudah mencapai gelar khalifah," terangnya. 

Untuk pelatihan fisik menurut Buya Zulfan, tidak terlalu rumit. Dalam sepekan, ada waktu dua kali yang menjalani rehabilitasi dibawa keluar panti. Seperti lari santai di daerah Batu Enam, Bagansiapiapi. Biasanya setelah Salat Ashar dibawa untuk aktifitas olahraga tersebut. 

Baca Juga: Bupati Afni Salat Iduladha sekaligus Sembelih Sapi Kurban di Kampung Mandi Angin Minas Siak

"Sementara untuk malam hari, tak banyak kegiatan. Setelah Salat Magrib, diadakan bayan, semacam taklim singkat. Habis Isya, dilaksanakan Salat Hajat, langsung tawajuh, khatam, zikir, dimana anak rehab itu harus menuntaskan 70.000 zikir yang difidyahkan untuk dirinya sendiri, untuk orang tuanya dan gurunya. Kalau zikir Allah, Allah itu terus diiringkan dalam  hati, maka dirasakan perasaan rindu dengan narkoba itu ditutupi karena banyak zikir di dalam hatinya, itu lah keampuhan jalan tarekat," kata Buya Zulfan.

Dengan metode yang dijalankan itu, waktu yang dilalui hingga sampai pada kesembuhan berbeda-beda, tergantung dari tingkat kecanduan yang diderita korban. 

Menurut Buya Zulfan, ada tiga kategori korban ketergantungan narkoba mulai dari ringan, dimana penguna narkoba tidak begitu tergantung ketika tak lagi mendapatkan narkoba atau dampaknya terihat biasa saja. Selain itu pertengahan yang indikasinya ketika tak mendapatkan narkoba berdampak secara fisik namun tak terlalu parah. Sementara kategori berat, ketika tak mendapatkan narkoba pasien dalam kondisi yang menyedihkan, badannya terus meronta-ronta, merasa kesakitan dan sebagainya. 

Baca Juga: Gelar Razia, Bapenda Pekanbaru Tegaskan Komitmen Tingkatkan Kepatuhan Masyarakat Bayar Pajak Kendaraan

"Bahkan ada yang ketika diantarkan ke sini, dibawa di dalam mobilnya itu dengan kondisi tangan, kaki terikat, bagian muka di tutupi karena keluar cairan dari hidung," kata Buya. 

Dengan kondisi yang berbeda-beda itu, tingkat kesembuhan juga berbeda, ada yang satu bulan bisa pulih sementara yang berat sekitar tiga bulan direhabilitasi baru pulih. 

Pengalaman memprihatinkan yang pernah dialami terangnya, melihat bagaimana seorang pencandu narkoba berat, ketika sampai di panti korban meronta-ronta. Meminta agar kakinya diikat, sementara air liur meleleh terus menerus. "Dia minta kakinya, tangannya diikat. Tapi tak kita ikat, kita mandikan dan ajarkan zikir istigfar, dalam sepekan itu Alhamdulillah perlahan mereda," ujar buya. 

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Siapkan Penyaluran 1,2 Juta Tabung Elpiji 3 Kg

Selain menangani korban narkoba ada juga korban ketergantungan judi online yang direhab. Tak tanggung-tanggung, korban tersebut terjebak dalam permainan judi sampai habis Rp6 miliar. 

Game yang diikuti kata buya, dari aplikasi tertentu. Dimana korban menyetorkan uang Rp30 juta untuk bisa ikut main, dan dalam tempo sekitar setengah jam saja uang tersebut ludes karena kalah. Sampai akhirnya korban habis uang Rp6 miliar. "Itu judinya kelas besar, korban telah direhab. Dilatih, diharuskan mengikuti ikrar sumpah, dan Alhamdulillah sudah sembuh," katanya. 

Menurut buya, keberhasilan dari proses rehabilitasi yang telah dijalankannya itu tidak terlepas dari semangat korban untuk bisa pulih dan bebas dari ketergantungan. Selain itu juga karena metode yang dijalankan dengan disiplin dan tak kalah penting juga karena pendekatan yang begitu manusiawi dijalankan. 

Baca Juga: BPBD Kampar Sebut Cuaca Berpotensi Hujan Lebat, Terpantau Satu Titik Hotspot di Kecamatan Tapung

Penderita narkoba diberikan perlakuan yang baik, tidak melakukan penghukuman fisik. Bahkan selama mengikuti rehabilitasi, terangnya, korban diikutkan pada berbagai kegiatan sosial. Kalau ada kegiatan sosial keagamaan, mereka diikutkan. Seperti ada orang yang meninggal, pasien tersebut dilibatkan untuk mengurus jenazah, dilibatkan pada kegiatan-kegiatan lain. 

"Ini diharapkan menumbuhkan terus kepercayaan diri mereka, dan tidak terlepas dari hubungan sosial di tengah masyarakat," katanya. 

Maraknya peredaran narkoba di Rohil yang tengah menyita perhatian luas, menurut Buya Zulfan sangat memprihatinkan. "Saya mencermati, peredaran narkoba memang luar biasa di Rohil. Kita semua mesti terlibat dalam pemberantasan narkoba ini. Kami tokoh agama mengajak lewat ceramah, podium mimbar, sementara aparat yang berwenang agar bisa membongkar sindikat narkoba. Kami menengok peredaran narkoba ini mengkhawatirkan terutama di Bagan Batu, Bagansiapiapi, Sinaboi, Kubu dan Panipahan," katanya. 

Baca Juga: Wako Agung Serahkan Sapi Kurban Bantuan Presiden Prabowo Berbobot 907 Kilogram di Masjid Nurul Amal

Apa yang terjadi terangnya, sudah diluar dari nalar. Karena pemakai telah merambah kepada korban anak-anak pelajar. Ini berarti penjual tak peduli siapa yang mengunakan narkoba. Asal ada yang beli, dengan harga murah, Rp20-Rp30ribu bisa ditebus untuk sekali pakai. 

Fenomena itu menurutnya berdampak pada meningkatnya kejahatan pencurian, dimana pelaku nekat menyasar tabung elpiji, mencuri tandan sawit sejanjang-dua janjang demi membeli narkoba dengan harga murah. 

"Inilah kenyataannya, saya sayangkan respon pemerintah masih lambat. Jangan berpikiran aman, ingat bahwa narkoba tak sebanding lurus, dengan anak siapa, bukan berarti anak bupati, anak buya, anak tentara, polisi pun bisa kena. Siapa saja boleh dirasuki narkoba, jangan merasa karena kita pejabat, lalu tak peduli dengan pemberantasan narkoba karena merasa itu bukan kerjanya, ini tanggungjawab kita semua," katanya. 

Baca Juga: Sambut Program Sekolah Terintegrasi, Rohil Siapkan Lahan 26 Hektare

Selain itu buya Zulfan mengharapkan agar peran BNK Rohil dapat lebih dimaksimalkan lagi. Diperlukan penguatan kesadaran dan kerja sama semua pihak untuk peduli terhadap penyalahgunaan narkoba. 

Editor : Rinaldi
#zikir dan tarekat #Buya Khalifah #rehabilitasi narkoba