PALIKA (RIAUPOS.CO) – Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) tepatnya di wilayah Kepenghuluan Pasir Limau Kapas Kecamatan Palika yang sempat menghanguskan lahan lebih kurang 50 hektare, berakhir.
Berdasarkan hasil pemantauan satelit, tidak ditemukan lagi adanya titik panas atau hotspot di seluruh wilayah Kabupaten Rohil pada Rabu (12/8/2026).
Hal itu dikatakan Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rohil, H Syafnurizal SE.
Baca Juga: Mentor Aksi Perubahan, Kakanwil Kemenkum Riau Dampingi Peserta PKA Angkatan LXXVII
"Berdasarkan hasil pemantauan melalui aplikasi Spongi yang bersumber dari satelit NASA NOAA dan NASA SNPP, pada Rabu 12 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB, berdasarkan pantauan satelit tidak terdapat titik hotspot atau nihil titik hotspot di Rohil," ujar H Syafnurizal.
Ia menjelaskan, kondisi nihilnya titik panas ini menjadi indikator bahwa saat ini tidak ditemukan lagi adanya indikasi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Rohil.
Meski demikian, terangnya BPBD Rohil tetap melakukan pemantauan secara berkala terhadap potensi munculnya titik api, terutama mengingat sebagian wilayah Rohil memiliki kawasan rawan karhutla dengan karakteristik lahan gambut dan perkebunan.
Baca Juga: Pasokan Menipis, Harga Ayam di Tembilahan Tembus Rp70 Ribu
"Kita tetap melakukan monitoring dan kesiapsiagaan. Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membuka lahan dengan cara membakar," katanya.
BPBD Rohil juga tegasnya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan segera melaporkan apabila menemukan adanya asap maupun indikasi kebakaran di sekitar wilayah masing-masing.
Sebelumnya tim gabungan melakukan pemadaman karhutla di Kepenghuluan Pasir Limau Kapas, Selasa (11/8/2026). Tim gabungan dari berbagai unsur dikerahkan untuk mengendalikan kobaran api yang melanda kawasan dengan luas terbakar mencapai sekitar 50 hektare.
Baca Juga: Dapat Suntikan Rp47,67 Miliar dari Pemerintah Pusat, APBD Meranti Masih Tekor Rp149 M
"Kebakaran terjadi pada kawasan dengan vegetasi berupa tanaman sawit dan semak belukar. Kondisi lahan yang didominasi tanah gambut membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan ekstra karena api dapat menjalar hingga ke lapisan bawah permukaan tanah," kata Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto.
Sementara, lokasi kebakaran berada di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT), sehingga pengendalian api menjadi perhatian serius untuk mencegah meluasnya dampak kebakaran.
Dijelaskan Ferdian, dalam operasi pemadaman tersebut, personel gabungan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rohil, TNI, Polri, masyarakat setempat, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta dukungan dari Manggala Agni Daops Dumai dan Manggala Agni Daops Labuhanbatu, Sumatera Utara. (fad)
Editor : M. Erizal