Bioenergi B50 Mendunia, Sepenggal Kisah Pemanfaatan Biosolar hingga Plastik Bekas dari Tanah Imigran

Zulfadhli • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:53 WIB
Inovator, Gunawan di depan peralatan pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar di Kepenghuluan Pedamaran kecamatan Pekaitan, baru-baru ini. (Zulfadhli).
Inovator, Gunawan di depan peralatan pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar di Kepenghuluan Pedamaran kecamatan Pekaitan, baru-baru ini. (Zulfadhli).

BAGANSIAPIAPI (RIAUPOS.CO) -- Pencarian energi merupakan kisah panjang dari perjalanan kehidupan manusia untuk dapat bertahan dengan baik. Energi merupakan elemen penting memastikan berbagai keperluan untuk mobilitas, aksesibilitas dan semua lini kehidupan berjalan. 

Sumber energi yang sampai sekarang masih bertahan sebagai pasokan kebutuhan energi global adalah minyak bumi, atau bahan bakar fosil. Belakangan dengan kesadaran bahwa keberadaan bahan bakar ini rawan habis, tak bisa diperbarui membuat manusia berlomba-lomba berkreasi, mencari inovasi sumber energi baru terbarukan. 

Pilihan itu datang, dari pemanfaatan tanaman Sawit. Siapa sangka, tanaman yang kerap dituding jadi penyebab kerusakan lingkungan, kini menajdi harapan sebagai pasokan energi yang melimpah di negeri ini.

Indonesia Negara Pertama Gunakan B50 di Dunia
Pemanfaatan sawit untuk bahan bakar itu membuat Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara yang pertama di dunia menerapkan Mandatory Biodiesel B50.

Baca Juga: Presiden Apresiasi Kinerja Pegadaian dalam Pidato Sidang Tahunan MPR 2026 

"Saudara-saudara sekalian, dengan diluncurkan program ini, Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50," ujar Presiden RI, Prabowo Subianto, dalam peluncuran B50, Kamis (9/7/2026), jawapos.com,https://www.jawapos.com/energi/2607100239/luncurkan-b50-prabowo-indonesia-jadi-negara-pertama-yang-terapkan-mandatori-b50).

Langkah tersebut memastikan pemanfaatan sumber energi yang pasokannya melimpah di tanah air sekaligus peran nyata menekan emisi karbon. Implementasi dari B50 diyakini akan memberikan dampak kongret terhadap perekonomian bangsa, salah satunya penghematan devisa negara hingga Rp170 triliun.

Prabowo mengatakan, pengunaan B50 membuat Indonesia memimpin dalam mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor, dimana Indonesia setidaknya akan mengurangi emisi karbon hingga 44 juta ton karbondioksida equivalent (CO2e). 

Sepenggal Kisah dari Tanah Imigran
Jauh sebelum pengumuman resmi pengunaan B50 itu, ada sepenggal kisah dari Kepenghuluan Pedamaran Kecamatan Pekaitan, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil). 

Baca Juga: Tim Putra SMAN 1 Bangkinang Juara HSBL 2026 Seri Bangkinang, Tundukkan SMAN Plus di Final

Dimana ada orang yang sudah memulai dan mengunakan langsung bahan bakar campuran biodiesel yang terdiri dari 50 persen bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit (Fatty Acid Methyil Ester atau Fame) dan 50 persen solar. 

Namanya Gunawan. Sosok bersahaja, yang menempati sebuah rumah sederhana di jalan lintas Pedamaran. Terungkap pengunaan B50 versi lokal itu tidak lahir dari laboratorium penelitian yang canggih, tapi muncul karena desakan keadaan, tepatnya karena kesulitan mendapatkan pasokan solar. 

"Waktu itu di daerah Kecamatan Pekaitan ini masih merupakan daerah terpencil, sulit mendapatkan solar," kata, Gunawan, Rabu (15/7/2026). 

Lahir di Banyumas, Jawa Tengah, sedari kecil Gunawan berimigrasi bersama keluarganya pada waktu itu dengan sasaran di daerah Tanah Merah Kecamatan Rimba Melintang, Rohil. Seterusnya ia pindah ke daerah Pedamaran Kecamatan Pekaitan, sejak 2011 sampai sekarang. 

Baca Juga: Serentak di 131 Cabang, BRI KKB Expo 2026 Tawarkan Promo Kendaraan Menarik

Pria yang merupakan inovator ini, sempat berkali-kali mewakili Riau pada ajang Teknologi Tepat Guna (TTG) Nasional, menyebutkan karena kesulitan mendapatkan solar masa itu, membuat dirinya putar otak untuk tetap bisa mengunakan mesin diesel dengan durasi yang cukup. Sementara kondisi pasokan solar sedikit, sampai akhirnya hal itu dapat di-akali dengan memanfaatkan CPO yang tersedia untuk dipergunakan bersama dengan solar. 

Menurutnya pembuatan biosolar yang dimaksud tidak sulit. Proses yang penting adalah pengendapan CPO.  "Itu satu malam saja diendapkan dengan baik, udah nampak yang murni, sedang dan tidak murni. Selanjutnya bisa dipergunakan dicampur solar. Ini langkah menghemat pengunaan solar dan kami sudah mengunakan itu pada 2011, sudah kami gunakan. Mesin bisa dihidupkan, tak ada kerusakan atau masalah," lanjutnya. 

Memang terangnya, dibutuhkan pengamatan jeli, setelah pengendapan mesti dapat diamati ada bagian yang kental berwarna cerah, ada yang sangat kental warnanya lebih pekat. "Waktu itu harga sawit Rp500, jadi murah didapatkan. Dan begitulah setiap mengunakan genset, menyalakan penerangan kami gunakan campuran solar dengan CPO," katanya. 
Selain pemanfaatan B50, Gunawan mampu berinovasi secara mandiri. 

Diterangkan sebelumnya daerah Pedamaran merupakan sentra pertanian. Gunawan membuka usaha kilang padi. Namun berjalannya waktu, luasan areal tanam padi terus berkurang, seiring alih fungsi ke tanaman sawit. 

Baca Juga: Abrasi Ancam 1.700 Ha Kebun di Kuala Selat, Rehabilitasi Mangrove Didorong hingga 1.000 Hektare

Akhirnya karena operasionalisasi pabrik tak berjalan, dirinya berinovasi bagaimana memanfaatkan peralatan dari mesin padi yang ada. Jadi tak hanya secara tak sadar, menemukan B50, dirinya juga berhasil  mentransformasikan kilang padi menjadi mesin pengiling sawit. 

Menurutnya jika mesin pengilingan padi bisa memilah bulir-bulir yang lebih kecil, maka seharusnya untuk pemecah cangkang jauh lebih mudah karena sawit lebih besar. Pada 2015 ia pun mulai mengunakan mesin hasil modifikasinya dengan kapasitas yang mampu mengolah satu ton per-jam. "Dari satu ton TBS Sawit dapat dihasilkan untuk CPO, Inti, Cangkang, solid, serabut hingga ampas," terangnya. 

Kreatifitasnya menghasilkan mesin pemecah cangkang sawit itulah yang kemudian membuatnya mewakili Riau dalam ajang lomba tingkat nasional di Bengkulu. 

Dari Pertanian ke Perkebunan Sawit
Di kabupaten Rohil, terdapat sejumlah kecamatan yang merupakan lumbung padi. Program pemerintah menjalankan transmigrasi, diiringi dengan adanya ekspansi perkebunan sawit memudahkan bagi masyarakat untuk dikembangkan. 

Baca Juga: Usai Mengikuti Pusdiklat, Bupati Inhu Kukuhkan 27 Anggota Paskibraka 

Hasilnya memang terlihat pada saat ini, dimana daerah-daerah yang banyak perkebunan sawit telah mengalami peningkatan kesejahteraan masyarakatnya secara berkelanjutan. Meskipun disisi lain timbul dampak yang tak terhindarkan berupa alih fungsi lahan. 

"Dulu kami merupakan lumbung padi, kami dulu ada kilang yang bisa memproduksi gabah kering sampai 15 ton perhari, seiring dengan primadona sawit, terjadi alih fungsi dan kilang padi pun mati suri," cetusnya.

Kenyataan itu disikapinya dengan selain mengarahkan pemanfaatan kilang padi menjadi mesin yang bisa dimanfatkan untuk pengilingan sawit. "Ibaratnya PKS mini. Kalau sejak 2011 itu keberadaan PKS mini didukung, tentu paling tidak sampai sekarang ada 10 PKS mini yang beroperasi di Rohil dan tentu akan memberikan pengaruh baik bagi masyarakat karena tersedia banyak pemasok yang membeli sawit masyarakat," terangnya. 

Namun harapan itu tidak kunjung terwujud karena tidak ada dukungan pemerintah. Padahal menurutnya keberadaan PKS mini akan memudahkan distribusi, memangkas biaya transportasi bagi petani serta membuat persaingan harga TBS Sawit berjalan sehat. 

Baca Juga: Kabupaten Simalungun Diguncang Gempa Bumi M 6.4, Tidak Berpotensi Tsunami 

Untuk membangun PKS Mini tambah Gunawan, tidak membutuhkan biaya besar seperti PKS pada umumnya. Hanya dikisaran Rp400-an juta sudah bisa dioperasikan, dengan kemampuan kapasitas 5 ton per-jam. 

"Saya bisa buat PKS mini, dengan harga pembelian TBS Sawit lokal, yang sama dengan PKS pada umumnya. Tapi ya itu tadi, dukungan pemerintah tidak ada. Padahal kalau dibangun bisa diterapkan jual beli TBS sawitnya seperti pabrik juga, tentu masyarakat terbantu," ujarnya. 

Untuk membangun PKS mini tambahnya, selain tersandung dengan berbagai perizinan yang rumit juga tidak mendapatkan dukungan baik dari pemerintah maupun dunia usaha sejenis yang justeru memandang kehadiran PKS mini sebagai ancaman. 

Lahirkan Berbagai Inovasi
Inovasi Gunawan untuk sejumlah hal khususnya berkaitan dengan pengolahan hasil perkebunan, membuatnya dilirik untuk mengikuti ajang TTG. Sampai lima kali berhasil mewakili Riau mengikuti lomba TTG tingkat nasional. 

Baca Juga: 75 Persen Rudal dan Drone Iran Masih Utuh dan Siap untuk Perang Panjang, Trump: Cuma 22 Persen

Sementara inovasi yang pernah dibuatnya dan diperlombakan antara lain mesin pencacah cangkang yang dilombakan di Bengkulu, berhasil masuk 10 besar nasional. 

Meski terkesan sederhana namun berbagai alat yang dibuat itu memiliki fungsi baik sesuai dengan pemanfaatannya, hemat biaya, lebih murah tanpa mengorbankan hasil yang diinginkan. Produk yang diciptakan selain mesin pencacah cangkang sawit, ada mesin pengolah sagu, mesin pakan pelet, pengolahan jagung, pemotong lidi sawit, pengupas pinang, bio solar B50, sampai yang terbaru alat pemanfaatan sampah plastik menjadi solar.

Dengan berbagai kemampuan itu masalahnya menurut Gunawan masih terletak pada tidak adanya dukungan dari pemerintah maupun pihak terkait. Padahal setiap inovasi yang dia hasilkan tidak sebagian besar ditampilkan, diikuti dalam ajang TTG Tingkat Nasional .

"Saya lima kali mewakili Riau pada ajang nasional di Bengkulu 2019, Bogor 2010, kemudian via zoom pada masa covid, ke Lampung pada 2023, dan ke NTB pada 2024. Tapi hanya sampai sebatas itu. Jika tak ada dukungan pemerintah bagaimana kita bisa berkembang?" keluhnya. 

Baca Juga: Tiga Titik Karhutla Terjadi di Kampar, Petugas Gabungan Masih Lakukan Pemadaman

Langkah Sunyi Sang Inovator
Rendahnya dukungan pemerintah itu menurut Gunawan membuatnya merasa tak punya harapan akan berkembangnya berbagai inovasi yang pernah dia wujudkan. Bahkan dia pernah didatangi oknum aparat yang menganggap kegiatannya melakukan inovasi, modifikasi itu sebagai sesuatu yang ilegal. 

"Saya pernah berdebat waktu itu, saya bilang begini, saya buka hutan sendiri, semai, benih, nanam sampai panen sendiri kenapa dibilang usaha ilegal? Dari situ saya menilai bahwa banyak penghalang bagi maju karya anak bangsa di negeri ini," katanya. 

Menurutnya pemerintah harus berani memberikan kesempatan kepada anak-anak bangsa untuk mengembangkan inovasi dan berkreasi. Justru bentuk dukungan yang pernah dirasakan Gunawan berasal dari luar daerah berupa pembelian beberapa unit mesin peraut lidi sawit dari Labusel, Aceh, dan Bangka Belitung. 

Kelola Sampah Plastik, Lahirkan Solar Alternatif
Saat ini Gunawan berfokus pada pemanfaatan plastik bekas menjadi bahan bakar setara solar. Hal ini memanfaatkan teknologi pirolisis, yakni pemanasan sampah plastik di dalam reaktor kedap udara. Selanjutnya dari satu kilogram sampah plastik dapat menghasilkan sekitar satu liter bahan bakar.

Baca Juga: Tim Basket Putri SMAN 1 Kampar Pertahankan Gelar Juara Riau Pos-HSBL 2026 Seri Bangkinang 

Sistem penyaringan yang diterapkan mengunakan alat khusus sebagai katalis. Sampah dimasukkan ke dalam wadah khusus, kemudian mengalami pemanasan dan penyaringan sehingga terpisah beberapa bagian. Di bagian paling bawah terdapat endapan solar, sementara minyak lampu atau bensin di bagian tengah dan di bagian atas gas. "Pemanfaatan sampah plastik ini masih minim, padahal kalau dikembangkan pasti bisa menyelesaikan persoalan sampah," katanya. 

Ia mengaku untuk mendapatkan pasokan plastik mesti membeli dengan harga sekitar Rp1.500 per kilogram. "Alhamdulillah dengan alat yang diciptakan kami mampu merealisasikan kebersihan lingkungan karena dari satu kilogram plastik, dikelola menjadi satu liter," terangnya. 

Apapun sampah plastik terangnya, dapat dimanfaatkan. Bahkan dirinya yakin kalau hal ini disambut pemerintah atau melalui dinas terkait maka persoalan pengelolaan sampah yang banyak dikeluhkan dapat terselesaikan. "Kalau saya yang kelola, didukung instansi saya akan buat Rohil bersih dari sampah plastik," katanya optimis. 

Dorong Inovasi Energi Terbarukan 
Terbatasnya sumber energi fosil yang menghasilkan minyak bumi, mendorong diperlukannya berbagai inovasi untuk menemukan sumber energi alternatif yang lebih berkelanjutan. Di Kabupaten Rohil tersedia berbagai potensi bahan baku energi terbarukan yang cukup besar, namun belum seluruhnya dimanfaatkan dengan optimal.

Baca Juga: Korban Gempa Bumi Magnitudo 7,7 di NTT Bertambah, 20 Orang Ditemukan Meninggal Dunia  

Fungsional Penyuluh Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rohil, H Khoirul Amri ST MSi mengatakan potensi energi baru dan terbarukan sebenarnya banyak, tinggal bagaimana diaplikasikan dengan baik dan tepat. 

Salah satu yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menurutnya adalah biogas. Teknologi tersebut dapat diperoleh dengan memanfaatkan limbah organik menjadi sumber energi untuk kebutuhan rumah tangga, seperti bahan bakar kompor, hingga menjadi sumber pembangkit listrik.

"Karena sumber energi, khususnya energi fosil, sangat terbatas, minyak bumi juga terbatas. Kita membutuhkan inovasi bagaimana menemukan sumber energi baru yang sebenarnya di daerah kita cukup melimpah, tetapi belum dikembangkan secara luas dan masif," ujar Khoirul Amri, Rabu (12/8/2026).

Disebutkan selain biogas, Rohil juga memiliki potensi pengembangan bioethanol. Pemanfaatan tanaman nipah sebagai bahan baku energi. Potensi lainnya berasal dari sektor perkebunan dan industri kelapa sawit. Limbah yang dihasilkan perusahaan perkebunan maupun pabrik kelapa sawit, kata dia, sebenarnya dapat diolah kembali menjadi sumber energi. 

Baca Juga: Harga Kelapa Sawit Mitra Turun Tipis Jadi Rp3.941 per Kg 

Salah satu perusahaan di Rohil terangnya bahkan telah memanfaatkan limbah dari pabrik kelapa sawit untuk menghasilkan energi yang digunakan bagi kebutuhan perumahan karyawan. "Artinya, sebenarnya banyak sumber energi yang bisa kita gali. Ada perusahaan di Rohil yang sudah memanfaatkan limbah PKS menjadi energi untuk perumahan karyawannya," katanya.

Sampah Juga Bisa Jadi Sumber Energi
Menurut Khoirul, persoalan sampah juga tidak semestinya hanya dilihat sebagai masalah lingkungan. Melainkan sebagai peluang yang memberikan harapan adanya energi alternatif.

Dengan teknologi yang tepat, sampah dapat diubah menjadi sumber energi sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan yang ada khususnya menyangkut pengelolaan sampah. Salah satunya melalui konsep Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Teknologi tersebut memanfaatkan sampah sebagai bahan baku untuk menghasilkan energi listrik.

Namun, pengembangannya membutuhkan ketersediaan sampah dalam jumlah besar dan sistem pengelolaan yang terintegrasi. "Untuk membuat generator pembangkit listrik dari sampah tentu membutuhkan sampah yang cukup banyak. Untuk satu kabupaten, ketersediaannya juga harus dihitung. Tetapi ini bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan sampah di daerah," jelasnya.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Resmi Dibuka, 392 Siswa Se-Riau Ikuti MPLS

Khoirul menilai, ke depan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Diperlukan adanya pengelolaan sampah yang memiliki nilai ekonomi, termasuk mendorong investasi dan industrialisasi pengolahan limbah.

Sampah Plastik Bisa Diolah Menjadi Bahan Bakar
Potensi lainnya, lanjut Khoirul, adalah pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak melalui teknologi tertentu, salah satunya dengan proses pirolisis atau pemanasan dalam kondisi minim oksigen.

Berbagai jenis sampah plastik dapat diproses melalui teknologi tersebut untuk menghasilkan produk berupa minyak yang karakteristiknya dapat diarahkan sebagai bahan bakar setelah melalui proses dan pengujian yang sesuai.

"Semua sampah plastik sebenarnya bisa diolah melalui proses tertentu menjadi bahan baku minyak. Teknologi tepat guna seperti ini sudah banyak dikembangkan oleh masyarakat dan kalangan tertentu," katanya.

Baca Juga: 52 Jalur Sudah Daftar di Jalur Mini, Ini Besaran Hadiahnya

Teknologi itu kata Khoirul memang perlu diuji sesuai dengan ketentuan, agar dapat menghasilkan bahan bakar yang dapat dimanfaatkan, termasuk untuk kendaraan. 

Pengembangan teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar dinilai memiliki dua manfaat sekaligus. Selain menghasilkan energi alternatif, teknologi tersebut juga dapat mengurangi timbunan sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan.

"Teknologi ini mungkin bisa dikembangkan di masyarakat dengan biaya yang terjangkau. Tetapi tentu kita juga berharap dukungan dari semua pihak," ungkapnya.

Perusahaan Diminta Ikut Berperan
Khoirul berharap perusahaan yang beroperasi di Rohil, khususnya perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan sektor energi, perkebunan dan industri, dapat mengambil bagian dalam pengembangan teknologi tepat guna berbasis lingkungan.

Baca Juga: Polres Bengkalis Bongkar Peredaran Narkoba Jaringan Internasional, 28,97 Kg Sabu Diamankan

Di antaranya dengan melakukan pembinaan terhadap kelompok masyarakat yang memiliki minat dan kemampuan mengembangkan teknologi pengolahan limbah menjadi energi. "Kita berharap ada dukungan dari semua pihak, khususnya perusahaan. Misalnya membina satu kelompok masyarakat yang memang berminat. Cari masyarakat yang punya kemampuan dan kemauan, kemudian diberikan pendampingan," katanya.

Ia menilai, pola seperti itu dapat menjadi awal tumbuhnya industri kecil berbasis pengelolaan limbah di tengah masyarakat. Dengan demikian, persoalan sampah tidak hanya selesai pada tahap pengangkutan dan pembuangan, tetapi dapat berkembang menjadi sebuah rantai ekonomi baru: sampah dikumpulkan, diolah, menghasilkan energi atau produk bernilai ekonomi, sekaligus membuka lapangan pekerjaan.

Menurutnya, inilah tantangan ke depan dalam pengembangan teknologi tepat guna di Rohil, yakni mengubah potensi lokal yang selama ini dianggap sebagai limbah menjadi sumber energi, sumber ekonomi, sekaligus solusi bagi persoalan lingkungan.

Menuju Kedaulatan Energi
Sebagai penutup, kehadiran B50 akan memberikan pengaruh luas jika benar-benar dimassifkan pengunaanya. Dr Prabu Revolusi, jurnalis nasional meyakini langkah itu memberikan pengaruh signifikan menuju kedaulatan energi. 

Baca Juga: Penambangan Emas Ilegal di Desa Terusan Ditindak, Rakit PETI Dimusnahkan

"Sebagian besar kalau bicara tentang sawit adalah tentang minyak goreng, ekspor CPO, tapi sekarang berubah. Sawit bisa hidupkan truk, mesin industri, kapal laut. Bahkan menuju kedaulatan energi," cetusnya melalui kanal youtube Dr Prabu Revolusi. Apa yang disampaikan Prabu, menjadi harapan bagi kita semua, anak bangsa. 

 

Editor : Rinaldi
Bioenergi B50 Tanah Imigran sumber energi