Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Masdalima, Guru Komite SDN 016 Rambah, Mengajar Tanpa Gaji dengan Menantang Medan Berbahaya Demi Masa Depan Anak Bangsa

Engki Prima Putra • Selasa, 25 November 2025 | 21:05 WIB
Guru Komite SDN 016 Rambah Masdalima pergi mengajar menggunakan kendaraan roda dua melewati jalan setepak yang terjal di kiri kanan jurang.
Guru Komite SDN 016 Rambah Masdalima pergi mengajar menggunakan kendaraan roda dua melewati jalan setepak yang terjal di kiri kanan jurang.

PASIRPENGARAIAN (RIAUPOS.CO) -- Momen peringatan Hari Guru Nasional tahun ini kembali menyentuh nurani. Para guru dan tenaga kependidikan yang mengabdi tanpa batas demi mencerdaskan anak bangsa ternyata masih belum sepenuhnya merdeka.

Terutama mereka yang bertugas di lokasi dengan akses sulit, fasilitas minim dan penuh tantangan berisiko. Masdalima SPd, salah seorang guru kelas di SDN 16 Dusun Sungai Bungo, Desa Sialang Jaya, Kecamatan Rambah, adalah sosok yang menghidupi semangat itu. Ia mengabdi sejak dua tahun terakhir, tinggal di desa tetangga tepatnya di Dusun Sahata, Desa Rambah Tengah Barat (RTB) Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul).

Kebetulan lokasi tempat ia mengajar, tidak begitu jauh dari ibu kota Kabupaten Rohul. Statusnya sebagai guru komite, mengajar secara sukarela dan tanpa digaji, karena pihak komite tidak diperbolehkan lagi memberikan honor kepada guru non ASN. Alumni Universitas Terbuka jurusan PGSD tahun 2015 ini bercerita, alasan tetap setia mengajar hanya satu, yakni niat tulus mengabdi dan mencerdaskan anak negeri untuk masa depan anak didiknya.

Untuk sampai ke sekolah, Masdalima harus menghadapi tantangan, menempuh perjalanan sekitar 10 kilometer dengan waktu sekitar 45 menit. Medan yang dilalui sangat sulit, jalan berbukit, sempit, licin saat hujan, di kiri kanannya terdapat jurang serta berada di kawasan hutan.

"Kalau berselisih kendaraan roda dua, harus mengalah salah satunya. Karena jalan masih setapak. Kiri-kanan jurang dan sebagian mendaki. Karena sudah tau kondisi medan, jadi terbiasa," tutur Masdalima menjawab Riaupos.co, Sabtu (22/11/2025).

Saat musim hujan, katanya, jalan yang dahulu diseminisasi sudah rusak berat dan kembali menjadi tanah. Jika hujan lebat, jalur tersebut berubah menjadi lumpur licin. Terpeleset sedikit saja bisa berakibat fatal. Belum lagi ancaman satwa yang sewaktu-waktu muncul di jalanan sunyi itu.

"Kekhawatiran pasti ada. Makanya dari berangkat, mata fokus ke jalan saja. Tidak menoleh kiri dan kanan. Dari rumah, saya berdoa kepada Allah untuk diberi kemudahan dan keselamatan pergi-pulang," ujarnya.

Meski Dusun Sungai Bungo tidak lagi berstatus daerah sulit, kondisi infrastruktur tetap sangat menguji. Jaringan internet sama sekali tidak tersedia di sekolah. Guru-guru baru bisa mendapat sinyal setelah perjalanan pulang atau setibanya di rumah.

Jumlah murid SDN 016 Rambah pun sangat sedikit, katanya, hanya 23 orang dari kelas 1 sampai 6, dengan 8 guru terdiri 1 PNS (Kasek), 2 honorer komite, dan sisanya guru berstatus PPPK. Sarana prasarana terbatas, tidak seperti sekolah yang dekat kota. Padahal jarak dari sekolah ke ibu kota Kabupaten Rohul tepatnya di Taman Kota Pasirpengaraian hanya sekitar 12 kilometer.

Tak hanya itu, puluhan murid di SDN 016 Rambah hingga kini belum mendapatkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menduga, akses ke sekolah yang ekstrem membuat penyaluran program Presiden Prabowo itu belum terjangkau.

Karena tidak menerima gaji dari sekolah, Masdalima berinisiatif mencari tambahan untuk biaya BBM. Ia mengaku, membawa es lilin, snack dan makanan ringan dari rumah ke sekolah untuk dijual. Dari hasil penjualan itu, ia bisa menutupi biaya operasional kendaraan.

"Setiap pergi sekolah, wajib membawa mantel hujan di jok. Karena dalam perjalanan tidak ada pondok atau gubuk untuk berteduh. Dari Cipogas ke sekolah tidak ada rumah warga, baru menjelang sekolah ada puluhan rumah Dusun Sungai Bungo," ujarnya. Suaminya yang bekerja sebagai PPPK di BPBD Rohul juga kerap mengantar ketika hujan deras.

Di momentum Hari Guru Nasional bertema Guru Hebat Indonesia Kuat, Masdalima berharap pemerintah pusat dan Kabupaten Rohul lebih memperhatikan kesejahteraan guru di daerah sulit. Baik bantuan insentif maupun operasional.

Dia berharap pembangunan infrastruktur jalan menuju sekolah mendapat prioritas, demi keselamatan guru dan murid. "Harapan kami, ada kebijakan pemerintah ke depan untuk mengangkat guru honorer atau komite menjadi ASN. Oktober lalu saya sudah mengajukan PPG, karena baru memenuhi syarat. Semoga bisa mendapat sertifikasi guru, untuk penghasilan bagi keluarga," ujarnya.

Meski tanpa gaji, fasilitas minim dan perjalanan penuh risiko, Masdalima tetap hadir setiap hari di SDN 016 Rambah. Baginya, mengajar adalah panggilan jiwa. "Selama masih dibutuhkan, saya akan tetap mengajar dengan membawa semangat dan ketulusan untuk membuat anak-anak di Dusun Sungai Bungo tetap bisa belajar. Disanalah makna sejati Hari Guru dipertaruhkan," tutup Masdalima.

 

Editor : Rinaldi
#hari guru #mengajar tanpa dibayar #Masa depan anak bangsa