PASIRPENGARAIAN (RIAUPOS.CO) - Setiap musim hujan, akses penghubung Dusun Kubu Manggis, Desa Rambah Tengah Utara (RTU), Kecamatan Rambah menuju DU SKPC Desa Pasir Utama, Kecamatan Rambah Hilir, kerap terputus akibat banjir.
Kondisi itu membuat para petani mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hulu (Rohul) membangun jembatan permanen sebagai solusi jangka panjang.
Pasalnya, jembatan beton yang berada di Dusun Kubu Manggis tersebut hampir selalu terendam banjir saat curah hujan tinggi. Karena jembatan yang menggunakan gorong-gorong baja Aramco itu tak mampu menahan luapan debit air anak Sungai Kumu, terutama pada akhir 2025 hingga awal Januari 2026.
Pantauan Riaupos.co di lapangan menunjukkan, setiap intensitas hujan meningkat, air sungai meluap hingga menutupi badan jembatan. Akibatnya, warga dan petani tidak dapat melintasi jalur tersebut untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan menuju Pasirpengaraian, ibu kota Kabupaten Rohul.
Kondisi ini berdampak langsung pada petani kelapa sawit dan karet di Dusun Kubu Manggis Desa RTU serta DU SKPC Desa Pasir Utama. Mereka terpaksa menunda panen karena hasil kebun tidak bisa dikeluarkan.
Padahal, jalur Kubu Manggis-SKPC merupakan akses utama sekaligus paling dekat bagi masyarakat dua desa untuk mengangkut hasil produksi perkebunan maupun urusan pemerintahan di Pasirpengaraian. Bahkan, akses jalan tersebut telah digunakan jauh sebelum Rokan Hulu resmi menjadi kabupaten.
“Kalau hujan deras dua hari saja, jembatan pasti banjir. Kami tidak bisa panen dan mengangkut hasil kebun,” ujar Mukhlis, petani kelapa sawit asal Dusun Kubu Manggis Desa RTU, Rabu (21/1).
Menurutnya, saat jembatan terendam banjir, aktivitas ekonomi petani lumpuh total. Hasil perkebunan kelapa sawit dan karet tidak bisa dijual, sehingga pendapatan petani menurun drastis dan kebutuhan hidup sehari-hari terganggu.
Keluhan serupa disampaikan Badar, petani karet dari DU SKPC Desa Pasir Utama. Ia mengaku harus memutar jauh melalui jalan provinsi jika ingin membawa hasil panen ke Pasirpengaraian, dengan biaya transportasi yang jauh lebih besar.
“Sebenarnya bisa lewat jalan provinsi, tapi biayanya mahal karena harus memutar jauh lewat Simpang Kumu. Tidak sebanding dengan harga karet. Jalur Kubu Manggis ini paling dekat, tapi jembatannya sering banjir,” katanya.
Badar menambahkan, saat jembatan terendam banjir, petani di dua desa tidak bisa melakukan panen selama beberapa hari. Aspirasi masyarakat untuk pembangunan jembatan permanen tersebut sudah disampaikan sejak lama, namun hingga kini belum terealisasi.
Menanggapi hal itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Rohul H Zulfikri ST membenarkan kondisi jembatan tersebut. Ia menyebutkan, solusi jangka panjang memang harus dilakukan dengan pembangunan jembatan permanen.
“Pemerintah daerah akan mencarikan solusi terbaik dan memprioritaskan aspirasi masyarakat Dusun Kubu Manggis-SKPC, tentu dengan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah,” ujarnya. (epp)
Editor : M. Erizal