PASIRPENGARAIAN (RIAUPOS.CO) - Meski tren harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) terus menunjukkan perbaikan, masih terdapat 14 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang membeli TBS petani swadaya umur 10-20 tahun di bawah harga acuan yang ditetapkan Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau.
Berdasarkan data informasi harga TBS yang dihimpun Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Rohul per Kamis (4/6/2026) pukul 10.10 WIB, harga TBS acuan Disbun Riau untuk TBS mitra swadaya umur 10-20 tahun periode 3-9 Juni 2026 ditetapkan sebesar Rp3.240,05/Kg. Sementara untuk TBS mitra swadaya umur 6 tahun ditetapkan sebesar Rp3.146,91/Kg.
Dari total 27 PKS yang melaporkan harga pembelian TBS mitra swadaya umur 10-20 tahun, hanya 13 PKS atau 48,15 persen yang membeli di atas atau sama dengan harga acuan Disbun Riau. Sebaliknya, sebanyak 14 PKS atau 51,85 persen masih membeli di bawah harga acuan.
Baca Juga: PHR Gelar RUPST Tahun Buku 2025, Perkuat Kemandirian Energi dan Kinerja Berkelanjutan
Adapun 13 PKS yang telah membeli TBS sesuai atau di atas harga acuan Disbun Riau yakni PT RSM dengan harga Rp3.550/Kg, PT KCN Rp3.510/Kg, PT ES Rp3.460/Kg, PT SSM Rp3.450/Kg, PT LIL Rp3.390/Kg.
PT RSI Rp3.330/Kg, PT KSM Rp3.320/Kg, PT MAN Rp3.290/Kg, PT KUS Rp3.260/Kg, PT KAS Rp3.260/Kg, PT ARP Rp3.260/Kg, PT KPN Rp3.260/Kg dan PT Nagamas Talikumain Rp3.250/Kg.
Sementara itu, 14 PKS yang masih membeli TBS di bawah harga acuan Disbun Riau untuk kategori umur 10-20 tahun adalah PT MIS, PT ISB, PT Nagamas Tanjung Medan, PTPN IV PKS Sei Intan (A4), PTPN IV PKS Sei Tapung (A1), Padasa Kalda, PTPN IV PKS Sei Tapung (A2), PT TIS, PT SAI, PT EDI, PT Hutahean Dalu-Dalu, PTPN IV PKS Sei Intan (A1), PT APSL,dan PT SJI Coy.
Baca Juga: Sekda Mahadar Uraikan Capaian Afni-Syamsurizal Setahun Menjadi Bupati dan Wabup Siak
Untuk kategori TBS mitra swadaya umur 6 tahun, kondisi relatif lebih baik. Sebanyak 18 PKS atau 69,23 persen telah membeli di atas atau sama dengan harga acuan Disbun Riau, sedangkan 9 PKS lainnya masih membeli di bawah harga acuan.
Data juga menunjukkan harga pembelian TBS tertinggi, baik untuk kategori umur 6 tahun maupun umur 10-20 tahun, tercatat di PT RSM sebesar Rp3.550/Kg. Posisi tertinggi kedua PT KCN dengan harga Rp3.510/Kg dan PT ES sebesar Rp3.460/Kg. Sementara harga terendah tercatat di PT APSL yang membeli TBS petani sebesar Rp2.840/Kg.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Rohul Anton ST MM menegaskan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rohul melalui Disnakbun terus memantau perkembangan harga TBS di lapangan dan mendorong seluruh PKS maupun tauke sawit agar membeli TBS petani sesuai mekanisme pasar dan mengacu pada harga yang telah ditetapkan Dinas Perkebunan Provinsi Riau.
Baca Juga: Wako Agung Nugroho Uji Coba Dua Bus Listrik di Pekanbaru
"Kita mengapresiasi semakin banyak PKS yang mulai membeli TBS di atas Rp3.000 per kilogram. Namun masih adanya 14 PKS yang membeli di bawah harga acuan Disbun Riau menjadi perhatian serius. Kita berharap seluruh pelaku usaha sawit dapat bersama-sama menjaga iklim usaha yang sehat dan memberikan harga yang layak bagi petani sawit swadaya," ujar Bupati Anton menjawab Riaupos.co, Kamis (4/6/2026), terkait belasan PKS di Rohul yang membeli TBS Sawit Mitra Swadaya dibawah harga ketetapan Disbun Riau.
Menurut Anton, berbagai langkah pembenahan tata niaga sawit yang dilakukan pemerintah daerah mulai menunjukkan hasil positif. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya PKS yang membeli TBS petani dengan harga yang lebih baik dibandingkan beberapa waktu lalu.
"Kami ingin harga yang diterima petani semakin membaik. Ketika harga TBS di tingkat pabrik meningkat, maka sudah seharusnya petani juga merasakan manfaatnya. Jangan sampai masih ada pihak yang menekan harga di bawah kewajaran pasar," tegasnya.
Baca Juga: Kabar Gembira, Harga Sawit Petani di Kuansing Naik Lagi, Tembus Rp3.060 per Kg
Bupati Anton meminta Disnakbun Rohul untuk terus melakukan pemantauan serta mempublikasikan perkembangan harga pembeliat TBS oleh PKS di Rohul secara berkala sebagai bentuk transparansi dan upaya mendorong terciptanya tata niaga sawit yang lebih adil serta berpihak kepada petani sawit Rohul. (epp)
Editor : M. Erizal