PASIRPENGARAIAN dan PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Ruas jalan provinsi Sontang-Duri, Kecamatan Bonai Darussalam, Rokan Hulu (Rohul) rusak parah. Jalan penghubung strategis antara Kabupaten Rohul dengan Kabupaten Bengkalis ini berlubang, berlumpur, dan banjir setiap turun hujan.
Tak sedikit kendaraan yang terpuruk saat melewati jalan ini. Bahkan, Kamis (30/7) lalu, seorang anak SDN 011 Kecamatan Rambah Hilir, Rokan Hulu (Rohul) bernama
Naufal Arrifa (9) bersama pamannya Ikbal Hafidz (29) ditemukan tak sadarkan diri dalam mobil saat terjebak dan lama berhenti di jalan ini.
Baca Juga: Kasus Malaria Rohil Jadi Perhatian, Komisi D DPRD Jadwalkan Panggil Diskes
Keduanya sempat dievakuasi ke Puskesmas Bonai Darussalam. Ikbal berhasil pulih setelah mendapat perawatan, sedangkan Naufal dirujuk ke RSUD Rokan Hulu karena kondisinya tidak kunjung membaik. Namun, Naufal akhirnya meninggal dunia.
Kejadian ini menjadi pengingat, bahwa buruknya infrastruktur yang telah belasan tahun dikeluhkan masyarakat setempat. Saat intensitas hujan tinggi mengguyur Kabupaten Rokan Hulu, luapan Sungai Rokan di Desa Sontang kerap merendam badan jalan.
Kondisi jalan yang berada di dataran rendah membuat genangan air sulit surut sehingga akses transportasi dari Sontang menuju Duri maupun sebaliknya sering terputus. Padahal, Jalan Sontang-Duri merupakan jalur utama tercepat menuju Duri dan Dumai.
Baca Juga: Himarohu Riau Desak Pemprov Segera Bertindak, Jangan Tunggu Korban Berikutnya di Jalan Sontang-Duri
Jalur ini menjadi pilihan utama masyarakat dan kendaraan angkutan barang karena lebih dekat dibanding harus memutar melalui Simpang TB Tandun. Setiap hari diperkirakan lebih dari 100 unit truk tangki crude palm oil (CPO), truk pengangkut cangkang sawit dan kendaraan operasional perusahaan perkebunan yang beroperasi di Kabupaten Rohul melintasi ruas jalan provinsi tersebut.
Tingginya mobilitas kendaraan berat turut mempercepat kerusakan jalan, sementara penanganan yang dilakukan selama ini dinilai belum memberikan solusi permanen. Kerusakan terparah berada pada ruas Desa Sontang menuju Desa Kasang Mungkal. Di sepanjang jalur tersebut terdapat sedikitnya empat titik kerusakan berat yang setiap hari harus dilalui masyarakat maupun kendaraan angkutan dari arah Sontang dan Duri.
Seorang warga Desa Sontang bernama Andi Putra (37) saat ditemui Riau Pos, Ahad (2/8) mengaku masyarakat sudah bertahun-tahun hidup dengan kondisi jalan yang memprihatinkan. “Kami sudah lama merasakan kondisi jalan seperti inim’’ ujarnya.
Baca Juga: Mahasiswa Teknik Sipil Ditantang Rancang Infrastruktur Bernuansa Melayu
‘’Setiap musim hujan pasti banjir, jalannya rusak berat, berlubang dan berlumpur. Sekarang sampai ada korban meninggal dunia. Kami berharap pemerintah benar-benar serius memperbaiki jalan ini sebelum ada korban berikutnya,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan Rudi Hartono (45), sopir truk pengangkut hasil perkebunan kelapa sawit yang hampir setiap hari melintasi Jalan Sontang-Duri. “Kalau hujan sangat waswas melintasi jalan Sontang-Duri. Lubang tertutup air sehingga tidak terlihat kedalamannya,’’ uajrnya.
‘’Truk sering terjebak bahkan mengalami kerusakan. Perjalanan menjadi lebih lama, biaya operasional meningkat, dan risiko kecelakaan semakin tinggi. Jalan ini sangat penting bagi aktivitas ekonomi masyarakat maupun perusahaan,” tambahnya.
Baca Juga: Maju Pilkades, ASN Wajib Kantongi Izin PPK
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Rokan Hulu Anton ST MM mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hulu terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau karena ruas Jalan Sontang-Duri merupakan jalan provinsi yang menjadi kewenangan Pemprov Riau.
“Kami turut berduka cita atas musibah yang terjadi. Pemkab Rohul telah berulang kali menyampaikan kondisi Jalan Sontang-Duri kepada Pemerintah Provinsi Riau,’’ ujarnya.
‘’Alhamdulillah, berdasarkan hasil koordinasi, ruas jalan ini telah masuk dalam prioritas penanganan tahun ini. Kami berharap proses perbaikannya dapat segera direalisasikan sehingga masyarakat dapat menikmati jalan yang aman, nyaman dan layak dilalui,” tambahnya.
Baca Juga: Anak yang Pingsan di Dalam Mobil Setelah Terjebak di Jalan Rusak Sontang-Duri Akhirnya Meninggal
Mantan Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Rohul itu menyatakan perbaikan ruas Jalan Sontang-Duri sangat penting karena menjadi jalur vital yang menunjang mobilitas masyarakat, distribusi hasil perkebunan, serta aktivitas perekonomian antara Kabupaten Rohul dan wilayah pesisir Riau. ‘’Kita berharap penanganan kerusakan uas jalan Sontang-Duri mendapat prioritas tahun ini,’’ ujarnya.
Sementara itu, tokoh adat Kecamatan Bonai Darussalam Kaprizal atau yang akrab disapa Gola Panglimo Sakti menilai Pemprov Riau belum menunjukkan keseriusan menyelesaikan persoalan yang telah berlangsung selama dua hingga tiga tahun terakhir.
Menurutnya, masyarakat sudah berkali-kali mendengar janji bahwa Jalan Sontang-Duri akan menjadi prioritas pembangunan. Namun hingga kini, kondisi jalan tetap rusak dan belum mendapatkan penanganan yang memadai.
“Kami melihat persoalan ini bukan baru satu atau dua bulan, tetapi sudah dua sampai tiga tahun. Berkali-kali disebut menjadi prioritas, namun kenyataannya masyarakat belum melihat perbaikan yang berarti. Padahal panjang kerusakan jalan tidak terlalu banyak dan seharusnya bisa segera ditangani,” tegas Kaprizal.
Ditegaskannya, kerusakan ruas Jalan Sontang-Duri yang telah menimbulkan korban jiwa menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Menurutnya, peristiwa ini merupakan kali pertama korban jiwa terjadi akibat kondisi jalan yang rusak, sehingga tidak boleh lagi dianggap sebagai persoalan biasa.
“Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah. Jangan sampai ada korban berikutnya baru dilakukan penanganan. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama, dan perbaikan ruas Jalan Sontang-Duri harus segera direalisasikan,” tegasnya.
Ia menyayangkan kondisi tersebut, mengingat Kecamatan Bonai Darussalam merupakan salah satu daerah dengan potensi sumber daya alam yang besar, baik dari sektor perkebunan kelapa sawit maupun minyak bumi.
Kaprizal mengaku, penanganan dan peningkatan ruas jalan Sontang-Duri dirasakan masyarakat di saat Gubernur Riau Andi Rachman. Namun sudah dua Gubernur Riau terakhir Syamsuar dan Abdul Wahid, belum ada perhatian serius oleh Pemerintah Provinsi Riau.
“Bonai Darussalam merupakan daerah penghasil. Ada perkebunan sawit, potensi minyak bumi, serta kontribusi pajak dari sektor perkebunan. Masyarakat tidak meminta sesuatu yang muluk-muluk. Kami hanya ingin pemerintah provinsi memperbaiki fasilitas umum, terutama jalan, sesuai dengan besarnya potensi daerah yang kami miliki,” katanya.
Kaprizal menegaskan Jalan Sontang-Duri merupakan urat nadi perekonomian masyarakat. Saat jalan rusak atau terendam banjir, masyarakat praktis terisolasi karena tidak memiliki jalur alternatif yang memadai.
“Dampaknya sangat besar. Petani kesulitan mengangkut hasil sawit sehingga harga jual ikut tertekan akibat tingginya biaya angkut. Warga yang hendak berobat juga mengalami kesulitan karena akses jalan rusak. Jalan ini menyangkut kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai musim kemarau merupakan waktu yang paling tepat untuk memperbaiki atau penanganan jalan Sontang-Duri secara permanen menggunakan konstruksi rigid beton agar kerusakan tidak terus berulang. “Kalau dibangun dengan rigid beton secara permanen, persoalan ini tidak akan terus berulang. Sekarang adalah momentum yang tepat untuk dikerjakan,” katanya.
Diakuinya, sebagai bentuk kepedulian, para tokoh adat, ninik mamak dan tokoh masyarakat dari enam kampung di Kecamatan Bonai Darussalam yang dipimpin Datuk Majo Pati telah menggelar musyawarah bersama dengan membentuk Forum Jalan Rusak Ninik Mamak dan Datuk Adat Kecamatan Bonai Darussalam.
Forum tersebut, lanjutnya untuk menggalang kekuatan masyarakat, pemerintah serta kalangan dunia usaha guna mempercepat perbaikan ruas jalan Sontang-Duri menjelang dibangun permanen oleh Pemerintah Provinsi Riau.
Dengan mengajak perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan ruas Jalan Sontang-Duri ikut berpartisipasi membantu penanganan melalui penyediaan material. Kaprizal berharap Pemerintah Provinsi Riau segera merespons keluhan masyarakat Bonai Darussalam yang hampir setiap tahun menghadapi persoalan serupa.
“Harapan kami sederhana. Jangan lagi biarkan masyarakat terus menunggu. Jalan Sontang–Duri adalah urat nadi perekonomian masyarakat Bonai Darussalam. Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki daerah ini, sudah sewajarnya pembangunan infrastruktur menjadi perhatian dan prioritas pemerintah,” tuturnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PUPR-PKPP Riau Zulfahmi mengatakan, pada ruas Jalan Sontang-Duri tersebut terdapat tiga titik kerusakan jalan yang cukup parah. “Ada tiga titik yang sangat kritis kondisi jalannya. Sebelumnya juga sudah kami ditinjau,” katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, pada titik kerusakan jalan tersebut. Pihaknya juga sudah membuat desain perbaikannya, di mana pada tiga titik kerusakan tersebut harus dilakukan penimbunan hingga mencapai 1 meter tingginya.
“Desain perbaikan sudah dibuat, tinggal perbaikan saja. Kondisinya cukup berat dan harus ditimbun dulu hingga 1 meter, jadi materialnya sangat banyak,” sebutnya.
Dipaparkan Zulfahmi, untuk melakukan perbaikan pada tiga titik tersebut diperkirakan memerlukan dana mencapai Rp10 miliar. Karena itu perbaikan pada ruas jalan tersebut belum bisa dilakukan tahun ini. “Tiga titik kerusakan jalan itu perlu anggaran Rp10 miliar, kalau untuk fungsional dana UPT di arahkan ke sana habis anggaran, tidak bisa perbaiki jalan yang lainnya,’’ jelasnya.
‘’Karena itu akan diupayakan tahun depan. Bukan berarti menyampingkan itu, tapi juga masih ada alternatif jalan lain dari Rohul ke Duri, termasuk Mahato Simpang Manggala. Juga bias lewat Tandun, masih ada alternatif, tapi tetap kami prioritaskan tahun depan,” katanya.(das)
Laporan ENGKI PRIMA PUTRA dan SOLEH SAPUTRA, Pasirpengaraian dan Pekanbaru
Editor : Arif Oktafian