Dampak Karhutla di Desa Sungai Guntung Hilir Rengat, Kabut Asap Mulai Terlihat 

Raja Kasmedi • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:50 WIB
Kabut asap mulai terlihat, terutama pada pagi menjelang siang di Kota Rengat dan sekitarnya, Rabu (12/8/2026). (Kasmedi/ Riaupos.co)
Kabut asap mulai terlihat, terutama pada pagi menjelang siang di Kota Rengat dan sekitarnya, Rabu (12/8/2026). (Kasmedi/ Riaupos.co)

 
RENGAT (RIAUPOS.CO) - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) mulai berdampak. Dimana, pada pagi jelang siang mulai terlihat kabut asap tipis. Bahkan, pada malam hari mulai tercium aroma kebakaran.

Kondisi itu juga sejalan dengan pantau Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Japura Indragiri Hulu (Inhu). Dimana, kondisi Inhu akan mengalami Hari Tanpa Hujan (HPH) yang sangat panjang. 

Bahkan, membuat meluasnya resiko kebakaran wilayah berpotensi Karhutla. “Kabupaten Inhu berdasarkan pemantauan BMKG mengalami HTH yang sangat panjang untuk wilayah Propinsi Riau," ujar Kepala BMKG Inhu, Nancy Luciana Damanik ST MSI, Rabu (12/8/2026).

Baca Juga: Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau Singgah di Kuansing, Pemkab Apresiasi Semangat Pengabdian

Untuk itu harapnya, semua pemangku kepentingan hendaknya mewaspadai meluasnya risiko kebakaran terutama di wilayah berpotensi Karhutla. Selain itu tetap menjaga stamina bagi seluruh masyarakat.

Kemudian sebutnya, berdasarkan analisa BMKG, sebagian besar wilayah Provinsi Riau mengalami puncak musim kemarau pada bulan Agustus 2026. Kondisi itu perlu menjadi perhatian bersama karena pada periode puncak kemarau, curah hujan lebih rendah dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Sehingga dapat meningkatkan potensi terjadinya HTH yang lebih panjang serta kondisi cuaca yang lebih kering. “Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan yang semakin kering," imbaunya.

Baca Juga: Nihil Hotspot, BPBD Rohil Pantau Berkala Kawasan Rawan Karhutla

Kondisi yang terjadi sambungnya, dipicu El Nino kuat dengan nilai anomali SST di region Nino3.4 pada periode Mei-Juni-Juli (MJJ) 2026 mencapai +1.59. El Nino kuat masih berlangsung dan berpotensi mengalami penguatan.

Situasi itu juga perlu diwaspadai, karena bertepatan dengan prediksi IOD positif yang berpotensi aktif pada periode September hingga Desember 2026 dengan dinamika atmosfer cukup berpengaruh di wilayah Riau. 

“Jadi fokus kewaspadaan kita bukan label "super" atau semacamnya. Kombinasi dua fenomena resmi ini — El Nino kuat dan IOD positif dapat mengakibatkan kondisi kemarau yang lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Riau,” tegasnya. 

Baca Juga: Warga Darul Aman Laporkan Dugaan Korupsi APBDes ke Kejari Bengkalis

Selain itu sampaikannya, periode paling kritis akan terjadi sekitar dua bulan kedepan yakni Agustus–September. Namun, potensi kekeringan akibat kombinasi El Nino kuat dan IOD Positif bisa membentang hingga akhir tahun.

“Karena itu kami mendorong agar upaya pencegahan Karhutla di lahan gambut tidak hanya fokus di Agustus-September saja, tapi terus dijaga kewaspadaannya sampai musim hujan benar-benar stabil,” sebutnya.

Lebih jauh disampaikanmya, pengelolaan sumber daya air secara bijak dan pencegahan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran menjadi hal yang penting dilakukan selama periode ini.

Baca Juga: Mentor Aksi Perubahan, Kakanwil Kemenkum Riau Dampingi Peserta PKA Angkatan LXXVII 

"Kondisi ini juga harus menjadi perhatian petani untuk penyesuaian waktu tanam," terangnya. (kas)

Editor : M. Erizal
karhutla di inhu kabut asap tipis inhu