PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau kembali mendapatkan laporan adanya satu daerah di Riau yang menetapkan Status Siaga Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Tak hanya itu, BPBD Riau juga mengklaim karhutla terkendali.
Kepala pelaksana BPBD Riau M Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan Jim Gafur mengatakan, BPBD Riau baru saja mendapatkan laporan bahwa Pemkab Kampar menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla. Dengan Kampar yang sudah menetapkan status, maka tinggal tiga daerah lagi yang belum menetapkan status serupa.
“Kampar baru saja menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla. Jadi tinggal tiga daerah lagi yang belum yakni Kota Pekanbaru, Kabupaten Kuantan Singingi, dan Indragiri Hilir (Inhil),” katanya.
Sementara itu, delapan daerah yang sudah lebih dulu mengesahkan penetapan Status Siaga Darurat Karhutla adalah Kabupaten Kepulauan Meranti, Bengkalis, Siak, Pelalawan, Rokan Hulu (Rohul), Indragiri Hulu (Inhu), Rokan Hilir (Rohil), dan Kota Dumai.
“Karena itu kami mengimbau daerah yang belum menetapkan status untuk dapat segera menetapkan. Karena saat ini, karhutla sudah terjadi di seluruh daerah di Riau. Apalagi daerah yang memiliki wilayah pegunungan yang sikit dijangkau dengan jalan darat seperti Kuansing,” ujarnya.
Sementara itu, untuk kondisi karhutla, saat ini pihaknya masih melakukan upaya pemadaman di Indragiri Hilir yakni di daerah Tempuling. Kemudian juga di Kabupaten Bengkalis, namun tinggal proses pendinginan.
“Untuk karhutla saat ini cukup terkendali, apalagi sudah sempat terjadi hujan meskipun belum merata. Namun ini cukup membantu proses pemadaman dan pembasahan lahan,” sebutnya.
Meskipun karhutla cukup terkendali, namun hingga saat ini pihaknya terus mengintensifkan patrol, terutama di lokasi yang dinilai rawan karhutla. Patroli dilakukan oleh tim darat dan juga udara dengan menggunakan helikopter.
“Patroli tetap kami laksanakan untuk memantau kondisi, jika terpantau ada karhutla akan langsung dilakukan upaya pemadaman. Jika sumber air sulit, langsung dilakukan water bombing,” katanya.
Sejak Januari, 157 Hektare Karhutla di Meranti
Hingga kini karhutla yang terjadi di Kepulauan Meranti mencapai 157 hektare. Luasan lahan terdampak ini dirangkum oleh BPBD setempat sejak Januari hingga 27 Juli 2024 lalu.
Setelah kejadian terakhir di Pulau Rangsang, Sekretaris BPBD Kepulauan Meranti Eko Setiawan mengaku,Kepulauan Meranti aman dari karhutla usai diguyur hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari terakhir.
“Sejak hujan, titik api Tanah Merah dan Tanjung Kedabu Pulau Rangsang padam. Total lahan terdampak 175 hektare hutan dan lahan. Saat ini aman setelah hujan deras beberapa hari terakhir,” ujarnya, Senin (5/8).
Meskipun demikian, Kepulauan Meranti masih berstatus rawan karhutla, mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu. “Masih rawan. Walaupun hujan, tetap terkadang panas terik,” bebernya.
Menyikapi kerawanan itu, dirinya mengaku telah memperkuat koordinasi antara tim satgas. Seperti saat ini, mereka telah menetapkan Status Siaga Karhutla pada akhir bulan lalu (31/7/2024).
“Upaya pencegahan dan penanganan karhutla adalah tugas serta tanggung jawab kita bersama. Maka perlu dukungan dari semua pihak. Untuk itu, kita perlu selalu siaga apabila sewaktu-waktu terjadi karhutla, sehingga bisa ditangani cepat,” ungkapnya.
Sementara itu, Plt Bupati Asmar mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Kapolres beserta jajaran dan stakeholder terkait lainnya yang telah bekerja sama dalam menanggulangi karhutla di Kepulauan Meranti.
“Kita sudah mengimbau kepada masyarakat agar tidak membakar sembarangan, apalagi saat membersih dan membuka lahan,” kata Asmar.
Asmar juga mengatakan dalam penyelesaian karhutla, tidak bisa dilakukan hanya dari satu pihak, perlu adanya kerja sama yang baik antara seluruh stakeholder, baik pemerintah, aparat, lembaga usaha dan masyarakat. “Mari kita saling bahu membahu agar bencana karhutla tidak terjadi, sehingga tidak ada kabut asap yang merugikan semua pihak,” harapnya.
Nihil Titik Api, Rohil Masih Siaga Darurat
Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) menjadi satu dari sembilan daerah yang ditetapkan Status Siaga Darurat Karhutla di Riau. Hal itu diketahui dari adanya keputusan Bupati Rohil dengan Nomor 499/BPBD/2024 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Rohil tahun 2024 yang ditandatangani 22 Juli 2004 lalu.
Kalaksa BPBD Rohil Hari Darma melalui Sekretaris Edo Senin (5/8) menyebutkan, penetapan Status Siaga Darurat itu menyikapi kondisi yang terjadi dan mengacu pada ketetapan itu berlangsung selama 120 hari sejak ditetapkan. “Berlangsung selama 120 hari, sejak 22 Juli sampai 18 November 2024,” kata Edo merujuk pada ketetapan tersebut.
Selanjutnya diterangkan, Status Siaga Darurat Karhutla dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan keperluan penyelenggaraan penanganan bencana di lapangan. Terpisah Kapolres Rohil AKBP Isa Imam Syahroni menyebutkan saat ini atau kondisi karhutla di Rohil sudah tidak ada. “Titik api sudah nihil,” katanya.
Sebelumnya pada pertengahan Juli 2024, sejumlah wilayah kecamatan di Rohil muncul karhutla seperti di Kecamatan Tanah Putih, Bangko, Pasir Limau Kapas, Sinaboi, Kubu, dan Kubu Babussaam.
Dari peristiwa itu ada 20 hektare lahan terbakar dan polisi juga ada mengungkap tindak pidana karhutla dengan mengamankan seorang tersangka di wilayah Kecamatan Kubu Babussalam.
Dari pantauan Riau Pos, saat ini kondisi udara nampak bersih, tak seperti beberapa pekan lalu yang terlihat adanya kabut dari dampak kebakaran lahan yang terjadi. Begitu juga sebelumnya ada bau bekas benda terbakar, namun sekarang sudah tidak ada.
Selain itu, dalam dua pekan belakangan sempat turun hujan yang tersebar di beberapa kecamatan. Meskipun hujan berlangsung tak lama namun diperkirakan efektif memberikan dampak dengan berkurangnya atau berhentinya karhutla.
Rohul Tingkatkan Koordinasi
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hulu (Rohul) telah menetapkan Status Siaga Darurat Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan, terhitung Maret hingga 30 November 2024 mendatang. Pernyataan tersebut diungkapkan Kalaksa BPBD Rohul H Ridarmanto menjawab Riau Pos usai membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Karhutla wilayah Kabupaten Rohul di Aula Kantor BPBD Rohul.
Ridarmanto menjelaskan, kegiatan rakor ini sekaligus Anev (Analisis dan Evaluasi) Penanganan Karhutla di wilayah Kabupaten Rohul. ‘’Penanganan karhutla adalah tugas bersama. Selama 2024 titik api yang terbanyak adalah pada bulan Juli 2024, sesuai dengan pantauan Satelit Lapan yakni sebanyak 28 titik api,” ujarnya.
Dia mengimbau kepada para camat agar mengumpulkan seluruh kepala desa, dan lurah di wilayah kerjanya masing-masing untuk kemudian bersama-sama melakukan upaya pencegahan, dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan ketika membuka lahan untuk pertanian dan perkebunan serta melakukan penanganan karhutla dengan meningkatkan koordinasi dengan BPBD, Polri dan TNI.
Dalam pada itu, Kapolres Rohul AKBP Budi Setiyono SIK MH menjelaskan, karhutla ini adalah tanggung jawab bersama. Pada akhir Juli lalu, terpantau titik api yang berlokasi di daerah perbukitan di Kecamatan Rokan IV Koto, Rambah Samo, dan Rambah.
“Kerja sama di lapangan saat melakukan pemadaman harus tetap dipertahankan dan ditingkatkan. Hasil pengamatan kami, karhutla yang terjadi di daerah perbukitan kuat diduga adalah unsur kesengajaan dan apabila terbukti harus di lakukan penegakan hukum,” tegasnya.
Lanjutnya, kendala di lapangan, terdapat beberapa titik api yang dalam penanganan tidak terdapat akses jalan menuju lokasi. ‘’Saya tekankan mari kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT,’’ ujarnya.
Pada bulan ini, sesuai prediksi dari BMKG masih terdapat curah hujan dengan intensitas sedang. ‘‘Namun, semua harus tetap waspada terhadap karhutla. Dengan meningkatkan kegiatan antisipasi dengan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan,” tuturnya.
Di tempat yang sama, UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan Rokan Nafri Irwan menyebutkan, pihaknya telah melakukan patroli di daerah perbukitan dalam antisipasi karhutla. “Ke depan kami dari KPH Rokan akan meningkatkan giat sosialisasi kepada masyarakat. KPH Rokan siap bersama sama melakukan penanganan Karhutla di wilayah Kabupaten Rohul,” tuturnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, Agustus ini merupakan puncak musim kemarau di wilayah Riau dan sekitarnya. Alhasil, air Sungai Siak yang berada di Kota Pekanbaru surut cukup drastis.
Pantauan Riau Pos, Senin (5/8), terlihat hampir sebagian air yang ada dalam Sungai Siak surut drastis. Yang terlihat hanya lumpur serta batang pohon yang sebelumnya tertutupi oleh air sungai.
Terlihat juga sejumlah warga memanfaatkan keringnya Sungai Siak dengan melakukan aktivitas memancing di sekitar pinggir sungai yang menjadi salah satu ikon Kota Pekanbaru dan Provinsi Riau tersebut.
Bukan hanya Sungai Siak, beberapa titik pintu air di sepanjang Sungai Siak juga ikut mengering dan hanya menyisakan sampah disertai lumpur di bagian dasarnya.
Salah seorang pemancing bernama Edianto mengaku baru pertama kali melihat kondisi Sungai Siak yang mulai menyusut sehingga hanya menyisakan air di bagian tengah sungai terpanjang di Kota Pekanbaru itu.
“Biasanya airnya memenuhi sisi kiri dan kanan. Tapi sudah beberapa waktu terakhir ini, justru mengering tepiannya. Mungkin karena masuk kemarau. Saya pun baru pertama kali memancing di sini dan lihat sungai ini mulai mengering,”ucapnya.
Ia pun berharap, semoga ke depannya air Sungai Siak tidak kembali menyusut seperti saat ini. Pasalnya, banyak masyarakat yang masih memanfaatkan keberadaan Sungai Siak untuk keperluan sehari-hari. “Kalau menyusut seperti ini terus kasihan juga masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari hasil Sungai Siak ini. Semoga saja tidak semakin parah saat berada di puncak kemarau nanti,” harapnya.
Sementara itu, terkait mulai mengeringnya Sungai Siak, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Irwansyah Nasution menjelaskan, penyusutan air sungai ataupun sumur milik masyarakat terjadi lantaran Kota Pekanbaru dan wilayah Riau pada dasarnya berada pada tanah bergambut.
Apalagi, secara alamiah tanah gambut memiliki tingkat kesuburan rendah karena kandungan unsur haranya rendah dan mengandung beragam asam-asam organik yang sebagian bersifat racun bagi tanaman.(ayi/sol/wir/fad/epp)
Editor : RP Arif Oktafian