SIAK (RIAUPOS.CO) - Angin kencang dan arah angin yang berubah ubah, cuaca panas, lahan gambut, menjadi kendala pemadaman karhutla Suaka Margasatwa Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, di Kampung/Desa Tasik Betung, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak.
Dikatakan Kalaksa BPBD Kabupaten Siak Novendra Kasmara, pemadaman dan pendinginan masih terus berlangsung, dan lahan yang terbakar dari 20 hektare, bertambah menjadi 23 hektare.
Suaka Marga Satwa Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, berada di Kabupaten Siak, dan Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Disebutkan Kalaksa Novendra Kasmara, Suaka Marga Satwa Cagar Biosfer Giam Siak, rumah bagi gajah sumatra, harimau sumatra, beruang madu, dan buaya muara, serta flora seperti giam, meranti, dan kantong semar.
“Kawasan ini, merupakan salah satu benteng terakhir hutan hujan tropis dataran rendah dan gambut bisa disebut di Asia Tenggara,” terang Kalaksa Novendra Kasmara, Sabtu (28/3/2026) petang.
Kondisi terkini kebakaran kawasan yang memasuki hari ketujuh atau sepekan, proses pemadaman dan pendinginan yang dilakukan oleh Manggala Agni Daops Sum VI/Siak 13 orang, Babinsa Tasik Betung, BKSDA 6 orang, perangkat desa, MPA 5 orang, RPK Melibur 10 orang, Polsek Sungai Mandau 3 personel.
Sementara kebakaran lahan perkebunan sawit di Jalan Buatan Siak RT 5 RW 2, Kampung Merempan Hilir, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, proses pemadaman dan penginan.
“Akses jalan jauh ke dalam, sumber air juga jauh mempersulit tim dalam pemasukan pemadaman,” terang Kalaksa Novendra.
Saat ini, baru 50 persen lahan tersebut berhasil dipadamkan atau 1,5 hektare. Dan belum diketahui apakah lahan tersebut milik warga atau milik perusahaan.
Novendra Kasmara mengajak semua pihak mencegah karhutla dengan tidak membakar, karena dampaknya sangat luar biasa bagi lingkungan, serta makhluk hidup yang ada di dalamnya.
“Memerlukan waktu, biaya dan tenaga yang tidak sedikit saat pengatasi karhutla,” kata Kalaksa Novendra.
Mencegah jauh lebih baik dari pada mengatasi. Kesungguhan semua pihak dalam mencegah merupakan solusi dan jawaban terbaik, di tengah kemarau ini.(mng)
Editor : Edwar Yaman