AGAM (RIAUPOS.CO) - Gunung Marapi dan Gunung Api Kerinci terus menunjukkan aktivitas vulkanik. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan semburan erupsi Gunung Marapi dan Gunung Api Kerinci pada Kamis (12/1) tertinggi sejak beberapa hari lalu.
Tinggi kolom abu vulkanik Marapi itu mencapai 1.000 meter dari puncak sedangkan semburan Gunung Api Kerinci mencapai 1.200 meter.
Rekor sementara semburan abu vulkanik dari Marapi dan Kerinci ini mengalahkan letusan pada Rabu (11/1) lalu setinggi 800 meter Marapi dan 900 meter Kerinci.
PAG Marapi melaporkan semburan tertinggi itu terjadi pada pukul 10.58 WIB dengan abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut dan tenggara. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 5.1 mm dan durasi 184 detik.
''Sejak 26 Desember, Marapi sudah mengalami peningkatan aktivitas dan pada Sabtu lalu mengalami erupsi,'' jelas Pengamat Gunung Marapi Ahmad Rifandi pada Kamis (12/1).
Dikatakannya, beberapa hari belakangan visual puncak Gunung Marapi tak terlihat jelas dengan mata telanjang karena tertutup kabut. Namun pada Kamis ini, puncak gunung terlihat dari daerah sekitar karena cuaca yang cerah.
Untuk saat ini, kata Ahmad status Marapi masih pada waspada level II dana masyarakat hatus menjauhi radius 3 kilometer dari puncak gunung.
''Untuk jumlah erupsi, hari ini hingga pukul 18.00 terjadi 19 kali erupsi dengan total dari hari pertama mencapai 153 kali,'' ujarnya.
Pada hari yang sama, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Marapi Singgalang Tandikek berpatroli di jalur pendakian Gunung Marapi untuk memantau area sekitar. Terpantau, area tersebut steril dari pendaki dan masyarakat sekitar.
''Setiap hari kami patroli untuk memantau kawasan apabila ada pendaki yang nekat masuk tanpa izin. Jika kedapatan, akan diminta turun dan dilarang mendaki di kemudian hari,'' kata petugas BKSDA Sumbar Safril Suharto.
Selain itu, BPBD Agam juga sudah mempersiapkan pos penampungan dan jalur evakuasi jika erupsi membesar dan mengancam pemukiman warga sekitar. Untuk ini, pihak BPBD Agam juga sudah melakukan simulasi sebelumnya.
''Penampungan sementara ada di Koto Hilalang bahkan sampai nantinya di Lapangan Kantin Wirabraja Bukittinggi,'' kata Kepala Pelaksana BPBD Agam Bambang Warsito di Bukittinggi.
Katanya, ada lima kecamatan di Agam yang terancam jika terjadi erupsi besar dengan dampak terparah, yakni Ampek Angkek, Canduang, Baso, Banuhampu dan Sungai Pua, dengan total penduduk mencapai 173 ribu orang.
''Warga dalam keadaan tenang dan tidak panik, kami terus meningkatkan koordinasi bersama lintas sektoral lainnya, seperti Pengamat Gunung Api, TNI, Polri serta Komunitas Kelompok Siaga,'' lanjutnya.
Erupsi Gunung Api Kerinci Belum Terhitung
Berbeda dengan Gunung Marapi, erupsi Gunung Api Kerinci belum bisa dihitung karena hingga Kamis (12/1) masih terjadi erupsi secara terus menerus.
Laporan dari Petugas Pos Pengamat Gunung Kerinci, Irwan Safwan pada pukul 18.10 WIB terpantau erupsi tertinggi dengan kolom letusan mencapai 1.200 meter datatas puncak atau 4405 meter dari atas permukaan laut. Kolom abu tersebut teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang ke arah timur laut dan timur.
''Hingga saat ini kita belum mendapatkan laporan pengaduan dari masyarakat akibat erupsi, namun mungkin dentuman sedikit terdengar oleh masyarakat,'' katanya.
Imbauan untuk masyarakat, wisatawan ataupun pengunjung gunung, tidak diperbolehkan untuk mendaki kawah yang ada di puncak Gunung Api Kerinci dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Selanjutnya, jalur penerbangan di sekitar gunung juga harus dihindari karena masih berpotensi mengalami letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.(cr7/jpg)
Editor : Administrator