PADANG (RIAUPOS.CO) - Masa tanggap darurat atas bencana banjir bandang dan longsor di Kabupaten Tanah Datar berakhir. Namun pemerintah daerah setempat memperpanjang selama 14 hari lagi.
Keputusan tersebut disampaikan Bupati Tanah Datar Eka Putra pada rapat evaluasi terkait penanganan bencana dan kondisi terbaru di Posko Utama Indojolito Batusangkar, kemarin. Ini setelah menerima saran, masukan dan pertimbangan dari Forkopimda, BMKG, Bazarnas dan instansi terkait lainnya.
Beberapa hal utama yang menyebabkan diperpanjangnya masa tanggap darurat tersebut iaalah masih adanya korban hilang dan banyaknya rumah masyarakat yang butuh penanganan tim untuk dibersihkan.Baca Juga: Al Riyadh vs Al Nassr 2-2: Klub Cristiano Ronaldo Selamat dari Kekalahan di Saudi Pro League
”Saat ini masih ada rumah masyarakat yang butuh dibersihkan dan juga ada 10 korban yang dinyatakan hilang. Tentu hal ini masih perlu dilanjutkan untuk pencarian dan pembersihannya,” kata Eka Putra.
Untuk langkah antisipasi, Eka menyampaikan, ada beberapa langkah yang dilakukan bersama dengan pemerintah pusat dan provinsi.
”Pemerintah daerah bersama BNPB akan memasang early warning system (EWS) di beberapa titik, agar masyarakat segera tahu ketika terjadi bencana. Tim juga akan membangun sabo dam serta memecahkan batu besar penghalang yang ada di hulu,” ungkapnya.
Belajar dari terjadinya bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada Sabtu (11/5) lalu, Pemerintah Kabupaten Tanahdatar mengusulkan delapan pembangunan sabo dam kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB).Baca Juga: Barcelona Resmi Pecat Xavi Hernandez, Hansi Flick Kandidat Kuat Jadi Pelatih Baru
“Ada beberapa sungai di Tanahdatar yang berhulu di Gunung Marapi. Untuk mengantisipasi bencana banjir bandang serupa kita harus membangun sabo dam,” terangnya.
Menurut Eka Putra, sebelumnya di aliran sungai yang ada di Tanahdatar sudah di bangun dua sabo dam. Di antaranya di Sungai Jambu dan di Pasie Laweh.
”Sabo dam yang di Sungai Jambu kemarin sudah hancur akibat banjir bandang dan ini sudah kita usulkan untuk dibangun kembali. Selanjutnya, di Pasie Laweh juga kita usulkan untuk ditambah satu sabo dam lagi,” terangnya.
Pembangunan sabo dam ini, tekannya, harus disegerakan. Karena, setelah dilakukan survei menggunakan drone, di hulu sungai saat ini sudah banyak terjadi longsor.
“Dari delapan sabo dam yang kami usulkan, semuanya harus disegerakan untuk dibangun. Salah satu contohnya Batang Sigarunggung. Setelah kami survei ternyata di hulu sungai ini sudah banyak terjadi longsor,” sebut dia.
Delapan sabo dam yang diusulkan Pemerintah Kabupaten Tanahdatar itu adalah Batang Sigarunggung, Batang Sungai Jambu, Batang Bangkaweh, Batang Bangkahan, Batang Malana, Batang Anai, Batang Pagu-pagu dan Batang Arau.
Terpisah, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Sumbar Suaidi Ahadi mendorong masyarakat di Tanah Datar, terkhusus yang bermukim di daerah aliran sungai (DAS) yang berhulu langsung dari Gunung Marapi untuk memanfaatkan aplikasi BMKG.
Ini bisa menjadi acuan bagi masyarakat dalam mendeteksi cuaca ekstrem. Apalagi belakangan ini kondisi cuaca gampang berubah dan sulit ditebak dengan hanya mengandalkan tanda-tanda alam.Baca Juga: Frans Antoni, Kaki Tangan Fredy Pratama, Kelola Uang Puluhan Miliar Rupiah Hasil Penjualan Narkoba
Satu Korban Ditemukan
Di sisi lain, korban terakhir yang dilaporkan hilang pada kejadian banjir bandang dan aliran lahar dingin yang menimpa Kabupaten Agam akhirnya berhasil ditemukan. Korban atas nama Suardi Sahar, warga Jorong Galuang, Nagari Sungaipua, Kecamatan Sungai Pua.
Dia ditemukan sekitar pukul 11.05 WIB, Rabu (22/5) lalu. Korban pun berhasil dievakuasi pada 13.30 WIB dalam keadaan meninggal dunia. Kabid KL BPBD Agam Ichwan Pratama Danda mengatakan, jenazah korban ditemukan di lokasi berjarak tujuh kilometer dari Masjid Raya Galuang yang menjadi titik utama banjir bandang dan aliran lahar dingin di Nagari Sungaipua.
“Jenazah korban ditemukan oleh tim gabungan di kawasan Jorong Taluak, Nagari Kubangputiah, Kecamatan Banuhampu Kebupaten Agam,” sebutnya.Baca Juga: Jika Dipecat, Ini 4 Kandidat Kuat Pengganti Erik ten Hag di Old Trafford
Ichwan menyebutkan jenazah korban kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Achmad Muchtar Bukittinggi untuk dilakukan proses identifikasi.
Terpisah, Wakil Direktur Bidang Pelayanan Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi Vera Maya Sari membenarkan bahwa jenazah korban yang ditemukan oleh tim gabungan merupakan korban terakhir yang ada di laporan warga hilang.
“Korban sudah teridentifikasi,” sebut Vera Maya Sari. Dia menyebutkan bahwa jenazah korban sudah dibawa pulang oleh keluarga untuk proses pemakaman.
Dengan penemuan jenazah ini, seluruh korban yang dilaporkan hilang akibat dampak banjir bandang dan aliran lahar dingin di Kabupaten Agam telah berhasil ditemukan. Berdasarkan data BPBD bencana ini menyebabkan 23 orang meninggal dunia.
Editor : RP Edwar Yaman