Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pariwisata Sumbar Terguncang, Harga Tiket Pesawat Melambung, Jalan Darat Rusak Parah

Redaksi • Jumat, 12 Juli 2024 - 00:19 WIB
Kawasan objek wisata jam gadang Bukittinggi.
Kawasan objek wisata jam gadang Bukittinggi.

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Pariwisata menjadi program potensial bagi masyarakat dan pemerintah daerah di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Ironisnya, saat ini situasi pariwisata itu tidak baik-baik saja. Pemicunya ada beberapa hal. Mulai dari harga tiket pesawat domestik cukup tinggi, sampai akses jalan yang tidak memadai akibat baru saja mengalami kerusakan karena bencana alam.

Apalagi pariwisata di Sumbar rata-rata wisata alam. Semuanya sangat bersentuhan dengan akses infrastruktur. Karena sejumlah jalan lintas nasional yang selama ini menjadi akses menanggung beban tinggi. Kemacetan lalu lintas tidak terhindarkan. Waktu tempuh perjalanan jadi lebih lama.

Menurut Pengamat Pariwisata Universitas Dharma Andalas Padang Eka Mariyanti, harga tiket pesawat menjadi momok bagi pelaku pariwisata. Mulai dari penyedia penginapan, destinasi wisata, dan pelaku usaha sektor lainnya yang terkait dengan pariwisata. "Persoalan ini bukan hanya di Sumbar, tapi juga nasional," ujar Eka Mariyanti saat dihubungi JawaPos.com dari Jakarta, pada Kamis (11/7).

Belakangan ini kunjungan wisata ke Sumbar dapat dikatakan menurun. Situasinya dapat dikatakan terguncang. Pemicunya harga tiket pesawat yang cukup melambung tinggi. Dari Jakarta ke Padang rata-rata di sejumlah aplikasi penjualan, harga tiket pesawat mulai dari Rp1,2 juta hingga Rp2 juta.

Lucunya, harga tiket yang dari arah luar negeri, khususnya dari Malaysia lebih murah. Ada yang di bawah Rp500 ribu. "Faktanya tidak semua wisatawan mancanegara (wisman) dari Malaysia yang datang ke Sumbar ini," imbuh Eka yang juga Ketua Prodi Pariwisata di Universitas Dharma Andalas Padang.

Sejatinya, kata Eka, Pemprov Sumbar dan pemda lainnya di tingkat kabupaten/kota menyiapkan mitigasi agar objek wisata di daerah mereka tetap menjadi tujuan perjalanan para turis. Baik turis dari luar negeri maupun dalam negeri.

Untuk dalam negeri, kata Eka, selama ini Sumbar hanya menjadi tujuan dari masyarakat daerah tetangga. Yakni Riau, Jambi, dan Bengkulu. Wisatawan dari daerah itu datang ke Sumbar lewat darat. Hanya saja kini terjadi persoalan lain. Infratruktur sangat buruk. Jalan banyak yang rusak. Setiap ruas jalan kerap menghadapi ancaman longsor.

Untuk ruas jalan yang menghubungkan Padang dan Bukittinggi terdapat akses yang putus, yaitu di Lembah Anai. Perjalanan masyarakat hanya bisa lewat Sitinjau Lauik dan Malalak. Semenjak Lembah Anai putus, akses jalan Sitinjau Lauik jadi sering macet karena volume kendaraan bertambah. Begitu juga di Malalak. Akibatnya waktu tempuh makin lama. Hal itu membuat turis jadi kurang nyaman. "Sementara wisatawan ingin berwisata dengan nyaman," kata Eka.

Menurut Eka, kalau infratruktur tidak dibenahi, maka wisatawan dari provinsi tetangga pun bisa terganggu. Kunjungan jadi menurun. Sementara jika mengharapkan kedatangan wisawatan domestik dari provinsi lain, seperti dari Pulau Jawa, Kalimantan, Bali, atau Sulawesi, tantangannya adalah harga tiket pesawat sudah tidak masuk akal. Masyarakat Indonesia lebih gampang ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, atau Thailand. Pasalnya harga pesawat ke negara itu jauh lebih murah. Mulai dari Rp300 ribu hingga Rp900 ribu.

Sedangkan penerbangan ke Sumbar umumnya dari pulau Jawa dan pulau-pulau lain kerap harus transit terlebih dahulu ke Jakarta. Tiket pesawat dari Jakarta ke Padang kini mulai dari angka Rp1,2 juta hingga Rp2 juta. "Bisa-bisa orang lebih memilih keluar negeri. Orang Sumbar pun lebih memilih ke Malaysia karena murah, ketimbang ke daerah lain karena aksesnya buruk. Waktu perjalanan yang lama. Belum lagi masalah-masalah lainnya yang terkait dengan wisata," bebernya.

Selama ini, kata Eka, untuk wisatawan mancanegara (wisman) ke Sumbar rata-rata dari Malaysia. Data itu berdasar hasil kajian Bank Indonesia dan Tourism Development Centre Universitas Andalas (TDC Unand) 2021 dan disebutkan bahwa wisatawan mancanegara yang paling potensial untuk Sumbar dari Malaysia. Potensi itu selain harga tiket yang murah, juga masyarakat negara itu merasa serumpun dengan Sumbar karena budaya Minangkabau-Melayu.

"Sumbar harus berbenah kalau pariwisata ini tetap menjadi unggulan perekonomian lokal. Perbaikan infratruktur harus dikebut. Bukan lamban seperti saat ini," ujarnya.

Sumber: Jawapos.com

Editor : RP Rinaldi
#jalan rusak #tiket pesawat mahal #pariwisata sumbar