Keynote speaker dan pembicara membahas apakah tabuik bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, dan menjadi icon wisata budaya Kota Pariaman. Hadir keynote speaker Penjabat Wali Kota Pariaman Dr Roberia SH MH.
Kemudian tiga pembicara yaitu Dr Iqbal Alan Abdullah (CEO Royalindo Group) yang menyampaikan tentang "Festival Tabuik dari Perspektif Bisnis Event". Pembicara kedua Dr Asril Muchtar (Dosen ISI Padangpanjang) mengulas tentang "Keberlanjutan Tabuik Sebagai Event Budaya Dalam Menunjang Pariwisata". Pembicara yang ketiga Dr Ma'ruf (Dosen Universitas Andalas) yang menyampaikan tentang "Tabuik Sebagai Potensi Marketing", dengan moderator dosen dari FISIP Unand, Sadri Caniago.
Terkait dengan tema seminar tersebut Roberia sampaikan bahwa Tabuik akan selalu menjadi wisata budaya andalan bagi Kota Pariaman karena dari event tersebut bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.
"Untuk proses pembuatan tabuik budaya di tahun ini sepenuhnya saya serahkan kepada yang mengerti dan ahlinya, bukan dari kalangan ASN tapi dari kalangan anak nagari sebagai Ketua Pelaksana yaitu Dr Firman Syakri Pribadi, atau Adjo Fe," sebut Roberia.
"Karena ini adalah tabuik budaya jadi yang mengerjakan memang mereka yang mengerti dan paham semua prosesi pelaksanaan tabuik, mulai dari maambiak tanah, manabang batang pisang dan prosesi lain hingga tabuik siap dihoyak pada tanggal 10 Muharram nantinya," terang Roberia.
Roberia meminta kepada pihak terkait untuk membantu memperluas lintasan tabuik agar prosesinya berjalan aman dan lancar dan juga bisa dijadikan icon tabuik berikutnya karena perlintasan itulah yang menjadi tempat yang dilalui oleh tabuik pasa dan subarang.
"Siapapun nantinya yang akan menjadi pimpinan Kota Pariaman agar bisa bisa menjaganya dan memeliharanya dengan baik, jangan sampai diubah lagi yang pada akhirnya bisa membuat lintasan tabuik itu berbelok-belok lagi arahnya untuk menuju pantai," pesannya.
Kemudian Robe juga meminta kepada instansi terkait agar bisa membuka rumah tabuik sebagai tempat edukasi wisata tabuik serta membenahi semua kekurangan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk penguat branding Kota Pariaman sebagai kota tabuik.
"Mari sama-sama kita jaga nilai-nilai dari leluhur Pariaman karena tabuik merupakan budaya Kota Pariaman yang harus dilestarikan, dan tabuik tidak ada kaitannya dengan agama dan aliran ajaran syiah, tabuik sudah diterima oleh masyarakat secara nasional," pungkas Roberia.
Sumber: Padek.jawapos.com (Riau Pos Group)
Editor : RP Rinaldi