JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Jalan Tol Lingkar Pekanbaru yang sedang dikerjakan sepanjang 30,57 kilometer (Km) merupakan bagian proyek Junction yang dikerjakan Hutama Karya. Selain Jalan Tol Lingkar Pekanbaru, sebagai bagian ruas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), juga ada Junction Palembang sepanjang 8,25 km.
Dua proyek junction, Ruas Rengat-Pekanbaru Seksi Junction Pekanbaru–Bypass Pekanbaru (30,57km) atau jalan lingkar tol Pekanbaru ini, merupakan bagian dari ruas pembangunan Tahap II. Kemudian Junction Palembang (8,25 km) dengan 6 ramp konstruksi dari total 10 ramp.
Terkait Junction Pekanbaru atau Jalan Tol Lingkar Pekanbaru, per September 2024 ini progresnya sudah mencapai angka 30 persenan. Target penyelesaian hingga bisa dilintasi untuk menyambungkan seluruh jalan tol di Riau dengan provinsi tetangga, adalah pada 2026.
Dikutip dari website resmi Hutama Karta, menyebutkan kedua junction atau persimpangan jalan tol ini nantinya akan menghubungkan sejumlah ruas di dua provinsi. Seperti Riau dan Sumatera Selatan.
“Proyek junction ini kita desain untuk mendukung akses Jalan Tol Trans Sumatera yang telah beroperasi. Kedua proyek ini mulai digarap pada akhir bulan Desember 2023,” kata Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim.
Junction Pekanbaru-Bypass Pekanbaru atau Jalan Tol Lingkar Pekanbaru, direncanakan memiliki lebar jalur 3,6 m, serta jumlah lajur 2x2 pada tahap awal.
Baca Juga: 30,57 Km Jalan Tol Lingkar Pekanbaru Dibagi 3 Seksi
Dari sisi fasilitas struktur, dilengkapi dengan 1 Tempat Istirahat Pelayanan atau Rest Area Tipe A pada titik STA 190+450, 3 Gerbang Tol, 3 Interchange (IC), dan 3 Jembatan Sungai.
Sementara itu, jalan tol yang memiliki kecepatan rencana maksimum 100 km/jam ini secara spesifik akan menghubungkan Jalan Tol Pekanbaru–Dumai dengan Jalan Tol Pekanbaru–Bangkinang yang diharapkan dapat bermanfaat untuk mendukung konektivitas di Provinsi Riau.
Baca Juga: Lakalantas di Tol XIII Koto Kampar -Bangkinang, Dua Meninggal
Sehingga mampu menstimulasi pertumbuhan ekonomi wilayah melalui kemudahan mobilisasi kebutuhan logistik.
Sementara Junction Palembang, dari segi teknis, proyek ini dilengkapi dengan lebar lajur 4 m, dan kecepatan rencana 40-60 km/jam.
Nantinya akan menghubungkan sejumlah jalan tol yang telah beroperasi di Provinsi Sumatera Selatan seperti jalan tol Kayu Agung–Palembang, Palembang–Indralaya, Indralaya–Prabumulih, dan Palembang–Betung.
Dijelaskan pihak Hutama Karya, proyek Jalan Tol Junction Pekanbaru–Bypass Pekanbaru atau Jalan Lingkar Tol Pekanbaru, melewati berbagai macam medan dari perbukitan, rawa dan sungai.
Dalam proses konstruksinya membutuhkan berbagai jenis soil improvement yang diterapkan dalam perbaikan tanah dasar untuk badan jalan.
Sementara tantangan pada proyek Junction Palembang didominasi oleh struktur menggunakan pile slab dan jembatan tinggi dimana trase tersebut melintasi jalan tol eksisting yang beroperasi.
Baca Juga: Pekanbaru-Padang Segera Tersambung, JICA Rancang Terowongan Tol Sesi Payakumbuh-Pangkalan
Sehingga untuk menjawab tantangan tersebut, Hutama Karya menerapkan penggunaan digitalisasi konstruksi pada seluruh tahapannya, mulai dari perencanaan, konstruksi, bahkan pengarsipan data.
Berbagai teknologi yang digunakan meliputi BIM (Building Information Modeling), TLS (Terrestrial Laser Scanning), GIS Dashboard, Video Surveillance, HK Automate, Photogrammetry.
Baca Juga: Tol Permai Ada Terowongan Gajah, Tol Pekanbaru-Padang Juga Harus Berkarakter
“Implementasi digital construction ini bermanfaat ganda bagi pengerjaan proyek yang dikerjakan oleh HK seperti memungkinkan perencanaan dan desain yang lebih akurat, memberikan visualisasi konstruksi yang akan membantu mengidentifikasi potensi masalah serta mengurangi risiko human error,” tutup Adjib.
Editor : RP Eka Gusmadi Putra