PADANG (RIAUPOS.CO) - Proses ganti rugi lahan untuk akses masuk tol di Kecamatan Lubuk Alung, Padangpariaman, hingga kini belum menemui kejelasan. Karenanya, warga menuntut pihak terkait sedapat mungkin menyelesaikan persoalan ganti rugi lahan gerbang tol dimaksud.
Seperti diungkapkan seorang warga yang terdampak pembangunan gerbang tol di Lubukalung, Arrya (33). Menurutnya, belum ada infonya perihal ganti rugi lahan dimaksud sampai sekarang.
"Termasuk warga penerima lainnya, belum juga ada kepastian kapan ganti rugi akan dicairkan,” ujar Arrya saat ditemui Padang Ekspres (RiauPos Group) di salah satu warung di Lubuk Alung.
Arrya menegaskan tanpa adanya pembayaran ganti rugi, para pemilik lahan tentu menolak jika lahan mereka digunakan untuk pembangunan jalan masuk tol.
Ia juga meragukan kemungkinan adanya perubahan lokasi penetapan lahan (penlok) tanpa pemberitahuan resmi kepada pemilik lahan.
“Kalau memang penlok jalan masuk tol ini dialihkan, seharusnya kami diberi tahu. Apalagi kami sudah melengkapi segala dokumen yang dibutuhkan dan menyerahkannya ke BPN. Jika tidak jadi menggunakan lahan kami, maka berkas-berkas itu harus dikembalikan,” tambahnya.
Di tempat yang sama, Wahyudi (40) warga Lubuk Alung lainnya, menilai proses pembangunan tol di Sumatra Barat berjalan lamban.
Ia menyoroti proyek Tol Padang-Sicincin yang telah diuji coba namun pengerjaannya memakan waktu sangat lama.
“Tol kita ini sudah terlambat untuk dibanggakan. Seharusnya ini menjadi bahan evaluasi, bukan malah dijadikan kebanggaan. Saya lihat banyak pemberitaan yang mengagung-agungkan proyek ini, padahal realitanya pengerjaannya lamban,” ungkap Yudi –sapaan akrabnya.
Baca Juga: Diberi Diskon 50 Persen, Hutama Karya Ajak UMKM Berusaha di Rest Area Tol Trans Sumatera
Ia juga meragukan percepatan pembangunan tol lainnya di Sumatra Barat jika proses pengerjaan masih merujuk pada pola yang sama seperti proyek Tol Padang-Sicincin.
Menurutnya, jika tidak ada perubahan dalam sistem pengerjaan, sisa pembangunan tol di Ranah Minang akan memakan waktu yang lebih panjang.
“Tol Padang-Sicincin mulai dibangun sejak 2018. Hingga saat ini, masih ada yang belum selesai, termasuk akses masuk di Lubuakalung. Namun, proyek ini sudah dikabarkan akan segera difungsikan. Ini seolah hanya menjadi ajang kebanggaan, padahal belum layak karena belum rampung 100 persen,” kritiknya.
Yudi menekankan pentingnya evaluasi mendalam terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan tol di Sumatra Barat.
Ia juga menegaskan perlunya pengawasan ketat, terutama dalam hal pembebasan lahan yang masih menjadi kendala utama.
“Sebaiknya kita tidak terlalu banyak berbicara soal rencana Tol Sicincin-Bukittinggi atau proyek lanjutan lainnya, jika Padang-Sicincin saja masih belum selesai sepenuhnya,” tutupnya.
Sumber: Padek.jawapos.com
Editor : Eka G Putra