Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Bencana Banjir Bandang dan Tanah Longsor Sumut: 13 Korban Meninggal di Tapteng dan Tapsel

Redaksi • Rabu, 26 November 2025 | 19:29 WIB

 

Tanah longsor yang menutup sejumlah akses jalan warga di Kabupatem Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Selasa (25/11/2025).
Tanah longsor yang menutup sejumlah akses jalan warga di Kabupatem Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Selasa (25/11/2025).

MEDAN (RIAUPOS.CO) - Bencana alam yang terjadi di wilayah Provinsi Sumatera Utara (Sumut), mengakibatkan 13 orang meninggal dunia tertimbun tanah longsor dan banjir bandang. 13 korban meninggal ini merupakan korban banjir bandang dan tanah longsor di Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Tapanuli Selatan (Tapsel).

Selain korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di beberapa kabupaten di Sumut tersebut, ribuan warga harus mengungsi, rumah hancur dan sarana prasarana juga luluh lantas.  

Menurut Kepala Bidang Penanggulangan Bencana dan Logistik BPBD Sumatera Utara, Sri Wahyuni Pancasila Wati, menyebut hingga 26 November 2025, BPBD Sumut korban di berbagai wilayah yang mengalami bencana banjir dan longsor terus bertambah.

Hingga kini, pihaknya masih terus melakukan penanganan dan pendataan.

Di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga, dijelaskannya, bencana yang terjadi pada 25 November 2025, dengan jenis bencana longsor.

Di Tapanuli Tengah tercatat 4 orang meninggal dunia, sementara data luka-luka serta kerusakan rumah dan infrastruktur masih dalam pendataan.

"Upaya evakuasi terus dilakukan, dengan kebutuhan mendesak berupa personel, logistik, peralatan, alat komunikasi, dan pasokan listrik," ucap Sri saat dikonfirmasi Sumut Pos (RPG), Rabu (26/11/2025).

Kemudian Di Kota Sibolga, seluruh data korban dan kerusakan masih dalam pendataan. Tim BPBD tetap mengevakuasi warga dan melakukan kajian cepat di lapangan.

Di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), bencana terjadi lebih awal pada 21 November 2025, menyebabkan 561 KK atau 2.244 jiwa mengungsi. Sebanyak 13 rumah rusak berat, lahan pertanian seluas 85 hektare terdampak, dan satu unit sekolah mengalami kerusakan.

"Sampai saat ini tidak ada korban jiwa, namun kebutuhan bantuan masih mendesak, terutama personel, logistik, dan peralatan," ucapnya.

 

Sementara itu, Kabupaten Tapanuli Selatan yang dilanda bencana pada 24 November 2025 mengalami dampak paling berat, dengan 9 orang meninggal dunia, 37 luka-luka, dan 3 orang hilang.

Kerusakan tercatat pada 12 rumah rusak berat, 6 rusak sedang, dan 312 rusak ringan, serta satu sekolah terdampak.

Di Kabupaten Tapanuli Utara, peristiwa pada 25 November 2025 menyebabkan 19 KK mengungsi, dengan kerusakan 5 rumah rusak berat dan 64 rusak ringan. Infrastruktur turut terdampak, termasuk empat ruas jalan dan satu jembatan terputus.

Kabupaten Nias Selatan, yang terdampak pada 24 November 2025, melaporkan satu rumah rusak berat dan gangguan pada satu ruas jalan, tanpa korban jiwa maupun luka-luka.

Terakhir, Kota Padang Sidempuan mencatat satu warga hilang dan 220 jiwa mengungsi akibat banjir bandang dan tanah longsor pada 25 November 2025, dengan pendataan kerusakan yang masih berlangsung.

"BPBD Sumut memastikan seluruh tim di daerah terdampak terus melakukan evakuasi, pendataan, dan penanganan darurat, sembari menekankan kebutuhan bantuan segera berupa personel tambahan, logistik, peralatan, serta fasilitas komunikasi dan listrik," ucap Sri.

Sumber: Sumutpos.jawapos.com/RPG

Editor : Eka G Putra
#Tanah longsor sumut #banjir sumut #Banjir bandang sumut #Banjir tapteng #Longsor Taput #Korban banjir bandang tapsel #banjir madina #Longsor Tapsel