Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Sumbar, Sumut, dan Aceh Dilanda Bencana: Galodo Hantam Malalak Timur, Jalur Bukittinggi Maninjau Longsor

Redaksi • Kamis, 27 November 2025 | 14:06 WIB
Galodo melanda Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Rabu (26/11/2025).
Galodo melanda Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Rabu (26/11/2025).

PADANG (RIAUPOS.CO) - Bencana hidrometeorologi basah melanda Sumatera Barat (Sumbar), Sumatera Utara (Sumut), dan Aceh akibat cuaca ekstrem tak kunjung berhenti dalam beberapa hari terakhir. Banjir, tanah longsor hingga banjir bandang terjadi di beberapa wilayah ketiga provinsi yang bertetangga dengan Riau tersebut, Rabu (26/11).

Di Sumbar, bencana terparah melanda Kabupaten Agam. Hujan deras memicu galodo menghantam Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Rabu (26/11) sore. Material lumpur dan bebatuan dilaporkan meluncur dari tebing Gunung Singgalang menuju permukiman warga, setelah sebelumnya terekam runtuhan tebing yang memicu aliran deras dari hulu sungai.

Peristiwa itu pertama kali terpantau dari unggahan warga di media sosial. Rekaman video memperlihatkan arus galodo membawa lumpur pekat dan bongkahan batu menuruni aliran sungai di Jorong Toboh dan Subarang Pakan Usang.

Hingga kemarin malam, belum ada data pasti mengenai dampak kerusakan maupun potensi korban jiwa. Komunikasi ke sejumlah titik dilaporkan terputus-putus akibat kondisi cuaca dan medan yang menyulitkan tim merangsek ke lokasi.

Kepala Markas PMI Agam Ade Alfani membenarkan kejadian tersebut. ”Malalak Timur, bang. Tadi sore (kemarin, red),” ujarnya lewat pesan singkat kepada Padang Ekspres.  Ia menambahkan, pendataan masih berlangsung dan relawan kesulitan berkoordinasi. ”Untuk saat ini data masih proses. Komunikasi dengan relawan di lokasi terputus-putus,” katanya.

Informasi awal dari Camat Malalak Ulya Satar menyebut, aliran material diduga berasal dari longsoran tebing Gunung Singgalang yang turun melalui sungai dan memicu banjir bandang. Hingga berita ini ditulis, belum dapat dipastikan apakah aliran tersebut mengenai rumah warga.

Sebagai langkah antisipasi, masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai telah dievakuasi ke lokasi aman di Pasar Chimpago. Sementara itu, warga terus mengirimkan video kondisi lapangan melalui media sosial, memperlihatkan aliran lumpur yang masih deras hingga malam. Pemerintah kecamatan dan BPBD Agam masih menghimpun data rinci terkait dampak bencana dan perkembangan situasi di lapangan.

Jalan Terban

Terpisah, tapi masih di Agam, jalan provinsi penghubung Kota Bukittinggi dengan Maninjau di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, mengalami kerusakan parah setelah bahu jalan di Nagari Sungailandia terban sekitar pukul 11.00 WIB, kemarin.

”Arus lalu lintas dari arah Bukittinggi menuju Maninjau, dan sebaliknya, mengalami gangguan karena bahu jalan telah terban,” ujar Kasatlantas Polresta Bukittinggi AKP M Irsyad Fathur Rachman, kemarin.

Untuk mengantisipasi potensi bahaya lebih lanjut dan mencegah kemacetan total, Satlantas Polresta Bukittinggi segera menerjunkan personelnya ke lokasi. Skema pengaturan lalu lintas sistem buka tutup jalur pun diberlakukan. Meski demikian, tidak semua jenis kendaraan diizinkan melintas di jalur yang dikenal berliku tersebut. Hanya kendaraan pribadi roda dua dan roda empat (kendaraan kecil) yang diperbolehkan melintas secara bergantian.

”Kami sampaikan, kendaraan roda enam tidak dapat melintasi jalur ini demi keamanan,” ujarnnya. Pembatasan ini dilakukan mengingat kondisi bahu jalan yang rawan amblas.

Terseret Arus saat Seberangkan Sapi

Deretan bencana di Kabupaten Agam juga terjadi Lubukbasung. Seorang warga hilang terseret arus saat menyeberangkan sapi. Di Palupuah, satu keluarga masih mencari harapan di balik timbunan longsor yang belum juga bisa dibuka. Cuaca ekstrem sejak akhir pekan terus memaksa petugas berjibaku tanpa jeda.

Musibah di Lubukbasung terjadi Rabu (26/11) siang. Joni Candra, 32, buruh harian lepas asal Kampung Bakuang, Jorong II Sikabu, hilang setelah terseret arus deras Lubuk Kubang Alahan Kasai saat menyeberangkan sapi sekitar pukul 13.00.

Dua rekannya, Hendra, 34, dan Madi, 32, menyebut peristiwa terjadi begitu cepat. Sapi yang lebih dulu menyeberang berhasil mencapai seberang, namun tali pengikatnya terlepas. Saat Joni mencoba meraihnya, ia terpeleset dan langsung diseret arus dalam yang tengah mengganas.

Upaya pertolongan tak berhasil karena derasnya air. Hingga petang, Joni belum ditemukan. Tim gabungan Basarnas Sumbar, BPBD Agam, Polsek Lubukbasung, serta warga masih menyisir aliran sungai.

”Arus sangat deras. Penyisiran tetap dilakukan maksimal,” ujar Waka Polsek Lubukbasung IPDA Riqul Mukhtadi.

Pencarian dilanjutkan malam hari dengan metode terbatas, dan kembali penuh hari ini bila korban belum ditemukan. Polisi mengingatkan warga agar ekstra waspada di pinggir sungai saat musim hujan.

Di saat bersamaan, bencana lebih berat menimpa Kecamatan Palupuah. Longsor besar di Jorong Paninggiran Bawah, Nagari Nanlimo, Selasa (25/11), menimbun total rumah milik Muhammad Daud, 35. Hingga kini, ia belum ditemukan.

”Korban diduga tertimbun. Proses pencarian masih berlangsung,” kata Camat Palupuah, Nong Rianto Dt. Maruhun.

Hujan yang tak henti membuat longsor susulan mengancam tim yang bekerja. Tebing runtuh tak hanya meratakan rumah, tetapi juga memutus total akses Bukittinggi–Medan. Material masih menggunung di banyak titik.

Kalaksa BPBD Agam Rahmad Lasmono membenarkan proses pencarian belum membuahkan hasil. ”Tim terus bekerja meski cuaca menyulitkan,” kata Rahmad kemarin sore.

Bupati Agam Turun ke Lokasi

Kemarin siang, Bupati Agam Benni Warlis Dt Tan Batuah turun langsung ke Jorong Lurahdalam, Pasielaweh, salah satu titik terparah di Palupuah. Ia memastikan seluruh sumber daya dikerahkan, BPBD, alat berat, chainsaw, armada pendukung, hingga jalur alternatif dibuka agar evakuasi tak terhambat. ”Keselamatan warga prioritas utama,” tegas Bupati.

Sedangkan di Sumatera Utara. Banjir dan tanah longsor terjadi di Kabupaten Tapanuli Utara pada Selasa (25/11). Sebanyak 50 unit rumah yang berada di Desa Simangumban Julu, Kecamatan Simangumban dan Desa Siopat Bahal Kecamatan Purbatua terdampak.

Peristiwa ini juga menyebabkan dua jembatan penghubung rusak dan tidak bisa dilalui warga. BPBD Kabupaten Tapanuli Utara telah berada di lokasi dan melakukan asesmen. Peristiwa banjir juga terjadi di Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Banjir terjadi pada Selasa (25/11) pagi hari.

Hasil kaji cepat menyatakan sekitar 220 jiwa dan 17 unit rumah terdampak. Satu orang dilaporkan hilang karena hanyut terbawa arus sungai. Lokasi kejadian di Kelurahan Hamopan Sibatu, Kecamatan Padang Sidempuan Selatan. BPBD Kabupaten Padang Sidempuan bersama tim gabungan melakukan operasi pencarian.

Selanjutnya wilayah Tapanuli Tengah, hujan dengan intensitas tinggi sebabkan tanah longsor yang menimpa pemukiman warga pada Selasa (25/11). Sebanyak 1.902 unit rumah terdampak banjir di 9 kecamatan, antara lain Kecamatan Pandan, Sarudik, Badiri, Kolang, Tukka, Lumut, Barus, Sorkam dan Pinangsori. Dilaporkan 1.902 kepala keluarga terdampak.

BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah beserta tim gabungan melakukan pemantauan dan pembersihan material longsor serta bantuan permakanan bagi warga terdampak.

Hingga Rabu (26/11) siang, tercatat 19 orang meninggal dunia dan ribuan mengungsi. Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Penanggulangan Bencana dan Logistik pada BPBD Sumatera Utara, Sri Wahyuni Pancasila Wati melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalop), Rabu (26/11).

Bencana dipicu oleh curah hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari dan berdampak di delapan kabupaten/kota dengan total korban meninggal dunia (MD) mencapai 19 jiwa, 6 orang dinyatakan hilang, serta 7.254 Kepala Keluarga (KK) mengungsi.

BPBD Sumut saat ini masih memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota dan mengoptimalkan proses pencarian korban hilang, evakuasi, serta pendataan kerusakan. “Kondisi di beberapa daerah masih belum stabil. Fokus utama kami saat ini adalah penyelamatan warga, pencarian korban hilang, dan pemenuhan kebutuhan darurat,” ungkap Sri Wahyuni.

Kebutuhan mendesak di seluruh wilayah terdampak hampir seragam, meliputi Tambahan personel SAR dan relawan, Logistik dasar bagi pengungsi, Peralatan evakuasi, Alat komunikasi dan instalasi listrik darurat. “Pemerintah Provinsi Sumut dan BPBD terus mengimbau warga untuk tetap waspada mengingat potensi hujan ekstrem yang masih berlangsung di sebagian wilayah Sumatera Utara,” ucap Sri.

Di Aceh, banjir terjadi di Kota Langsa. Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi selama beberapa hari terakhir, mengakibatkan banjir pada Selasa (25/11) pukul 10.20 WIB. Sebanyak 420 warga dari 150 kepala keluarga yang tinggal di Gampong Paya Bujok Seulemak, Kecamatan Langsa Baro terdampak dari kejadian ini. Ketinggian muka air berkisar antara 20 sampai 40 sentimeter. BPBD Kota Langsa masih melakukan penanganan dan pendataan di lokasi terdampak.

Tak hanya di Langsa, sembilan warga dilaporkan meninggal dunia akibat bencana longsor yang melanda permukiman penduduk di dua kecamatan, yakni Bebesen dan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah. Peristiwa tersebut dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut hampir sepekan terakhir.

Korban berasal dari beberapa desa, masing-masing Desa Tami Delem, Kebayakan, Desa Paya Tumpi Baru (dua orang), Kampung Daling (tiga orang), dan Desa Bukit Sama (dua orang), sehingga total korban mencapai sembilan jiwa.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalika, Rabu (26/11) mengatakan seluruh korban telah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Mereka tertimbun material longsor berupa tanah kuning bersama rumah yang berada di kawasan lereng perkebunan kopi dekat tebing gunung.

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, turun langsung ke lokasi dan meninjau penanganan darurat serta kondisi keluarga korban. Selain longsor, sejumlah titik di Takengon juga mengalami banjir genangan dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa.

Bupati Haili Yoga mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah sementara waktu, mengingat kondisi cuaca ekstrem masih terjadi di Aceh Tengah dan sebagian wilayah Aceh lainnya.

Akibat Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B

BNPB mengimbau kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi basah yaitu banjir, tanah longsor dan angin kencang yang disebabkan adanya Siklon Tropis KOTO di perairan Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B yang terdeteksi di Selat Melaka.

Bibit Siklon 95B dapat memicu hujan sedang hingga lebat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau, disertai angin kencang di Aceh dan Sumatera Utara. Sementara itu, Siklon Tropis KOTO berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat di Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau, serta gelombang tinggi 1,25–2,5 meter di perairan Sangihe–Talaud, Laut Sulawesi, Laut Maluku, perairan Halmahera, Papua Barat Daya hingga Papua, dan Samudra Pasifik utara Maluku–Papua.(ptn/san/das)

Editor : Bayu Saputra
#cuaca ekstrem #bnpb #banjir sumut #banjir aceh #siaga bencana #banjir sumbar #Galodo #banjir bandang #siklon tropis #bpbd