Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Suka Duka Warga Terdampak Keluar Wilayah Bencana Pada Sebentang Tali Baja: Mereka Melintasi Antarkabupaten

Redaksi • Kamis, 4 Desember 2025 | 10:59 WIB

Warga desa meng­gunakan kereta gantung darurat untuk menyeberangi sungai setelah jembatan hancur akibat banjir bandang di Bireuen, Aceh, Selasa (2/12/2025).
Warga desa meng­gunakan kereta gantung darurat untuk menyeberangi sungai setelah jembatan hancur akibat banjir bandang di Bireuen, Aceh, Selasa (2/12/2025).

Di antara gemuruh Sungai Peusangan yang mengalir deras pascabencana, sebuah tali baja membentang sepanjang hampir 80 meter. Di bentangan itulah ratusan warga menggantungkan harapan setelah Jembatan Juli, penghubung utama Kabupaten Bener Meriah ke Kabupaten Bireuen, Aceh, ambruk diterjang banjir bandang.


BIREUEN (RIAUPOS.CO) - RISKI, contohnya. War­ga Matang Glumpang Dua, Kabupaten Bireuen itu terisolasi di Takengon, ibu kota Aceh Tengah, saat banjir bandang menerjang pada Selasa (25/11) lalu. Ketika air surut dan jalur mulai bisa dilalui, ia memutuskan berjalan kaki menembus rute panjang dari Takengon menuju Bener Meriah hingga akhirnya sampai di perbatasan dengan Kecamatan Juli, Bireuen.

Namun, perjalanannya kembali terhenti ketika mendapati jembatan penghubung di kawasan tersebut telah hilang disapu arus sungai sepekan sebelumnya. “Waktu saya tiba sudah tidak bisa nyebrang lagi karena hampir malam. Jadi, saya menginap di dekat jembatan, menunggu besoknya supaya bisa menyeberang,” tutur Riski saat ditemui (Rakyat Aceh, RPG), Rabu (3/12).

Mereka yang hendak menuju Bireuen atau Bener Meriah diwajibkan mendaftar terlebih dahulu di pos yang dijaga relawan. Ketika tiba giliran, nama mereka dipanggil dengan pengeras suara.

Lalu, masuklah mereka ke keranjang besi yang digantung pada tali baja. Terlihat ringkih, tapi tak ada pilihan. Itu satu-satunya harapan untuk berpindah sisi.

Bayar Rp 25 Ribu Keranjang itu ditarik secara manual oleh tim pengelola di kedua sisi sungai, membawa manusia, barang, dan logistik. “Saya bayar Rp 25.000 untuk naik kabel baja ini,” kata Riski.

Tali baja tersebut dipasang secara swadaya oleh masyarakat sekitar. Tanpa menunggu bantuan pemerintah, warga bahu-membahu mencari solusi agar suplai logistik dan mobilitas penduduk tetap berjalan.

Beras, obat-obatan, kebutuhan bayi, hingga barang kebutuhan harian juga ditarik menyeberangi sungai melalui keranjang besi yang sama. Menurut Babinsa Koramil Juli Hasanuddin, tali baja itu sudah diperhitungkan kekuatannya untuk menjamin keselamatan warga.

“Kekuatan tali baja ini sekitar 3 ton, tapi barang yang kita muat maksimal hanya 100 kilogram. Insya Allah aman,” jelasnya.

Dalam sehari, ia mencatat, barang logistik yang diangkut bisa mencapai 15 hingga 20 ton. Sementara jumlah warga yang menyeberang dapat menyentuh angka 200 orang per hari, angka yang menggambarkan betapa vitalnya jalur alternatif ini.

Meski demikian, Hasanuddin mengingatkan pengelola agar tidak memberatkan warga dalam menentukan biaya penyeberangan. “Jangan ada harga wajib. Kalau ada warga yang sudah kehabisan uang, tolong digratiskan. Mereka ini korban bencana, bukan penumpang biasa,” ujarnya.

Sewa Sampan

Di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara, warga juga berdaya sendiri untuk mengatasi keterbatasan akses akibat banjir bandang. Di saat pemerintah gagal menyediakan perahu karet dalam jumlah memadai, sampan pun hilir mudik menjawab kebutuhan.
Seperti dilaporkan Sumut Pos/RPG, alat transportasi air itu disewakan untuk mengangkut orang dan kendaraan. Sewanya tak murah, mencapai ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Namun, karena tak ada pilihan lain, warga ramai menyewanya.

Hidayat, misalnya. Warga Jakarta itu datang ke Tanjung Pura untuk mengevakuasi keluarga besarnya yang terjebak banjir pada Selasa (2/12) lalu, ketika debit air setinggi paha hingga seleher orang dewasa. “Saya heran, kenapa pemerintah tidak menyediakan perahu karet. Ini sangat aneh sekali,” ungkap Hidayat.

Pria yang karib disapa Dayat itu mengeluarkan uang hampir Rp1 juta untuk biaya evakuasi keluarga. “Begitu tiba di tempat pengungsian, saya gendong ibu saya agar keluar dari lokasi. Memang tak ada perahu karet, kacau Kabupaten Langkat ini,” ujar Dayat.(rif/ted/ttg/rpg)

Editor : Bayu Saputra
#banjir sumatera #bireuen #banjir aceh #bencana Sumatera #bireuen aceh