Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Cerita Korban yang Selamat ketika Galodo Merenggut Segalanya di Kabupaten Agam, Setiap Ada Suara Keras Langsung Gemetar

Redaksi • Sabtu, 6 Desember 2025 | 12:34 WIB

Yuni Efnita (kanan) bersama anak-anaknya tinggal di pengungsian di ruang kelas SDN 05 Kayupasak, Nagari Salarehaia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumbar, pascagalodo, Rabu (3/12/2025).
Yuni Efnita (kanan) bersama anak-anaknya tinggal di pengungsian di ruang kelas SDN 05 Kayupasak, Nagari Salarehaia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumbar, pascagalodo, Rabu (3/12/2025).

Bencana di Agam, Sumatera Barat bukan hanya memutus jalan, merobohkan rumah, atau merenggut nyawa. Di balik itu, ada kisah para penyintas yang duduk memeluk lutut, mencoba merangkai kembali keberanian. Salah satunya adalah Ef dan keluarganya yang selamat, namun harus memulai dari nol di tengah duka yang belum selesai.

AGAM (RIAUPOS.CO) - TAK ada yang benar-benar siap ketika alam membuka pintu murkanya. Banjir bandang, longsor, dan kerusakan yang merentang di banyak nagari di Kabupaten Agam kembali menyisakan duka yang tak mudah diurai. Ratusan nyawa terenggut, ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah.

Namun di balik hiruk-pikuk evakuasi dan tumpukan material bencana, ada gemuruh lain yang lebih sunyi. Luka batin para penyintas. Trauma yang tak berdarah, tetapi terus berdenyut. Guncangan yang tak terlihat, namun menggantung lama di dada.

Di antara mereka, ada satu keluarga yang selamat, namun kehilangan hampir seluruh hidup yang telah mereka bangun. Kisah mereka menjadi pengingat betapa cepat hidup dapat berubah. Betapa rapuhnya segala hal yang dikira kokoh.

Kamis (27/11) lalu, menjadi sore yang mengubah segalanya. Langit di Sawahlaweh, Nagari Salarehaia, Palembayan, turun lebih gelap dari biasanya. Hujan yang tak berhenti sedari pagi mengguyur tanah seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi manusia jarang benar-benar mengerti bahasa alam.

Yuni Efnita (40) berdiri di depan rumah sambil membawa sate yang baru ia beli. Seharusnya itu menjadi sore biasa. Tempat makan bersama keluarga, waktu ringan untuk bercengkerama. Namun takdir memilih arah lain.

Dari arah sungai, telinganya menangkap suara berat, bergulung, seperti batu-batu besar dijatuhkan dari ketinggian. Suara yang membuat bulu kuduknya meremang. ”Saya tahu itu bukan suara air biasa,” kenang ibu tiga anak itu.

Tubuhnya langsung kaku. Jantungnya berdegup kencang. Detik berikutnya, ia berlari sambil berteriak, memanggil ketiga anaknya. ”Lari! Ke Kampung Pinang! Cepat!”. Sebuah kampung dengan dataran lebih tinggi.

”Peringatan tentang potensi galodo sebenarnya sudah beredar. Tapi siapa yang bisa mempersiapkan hati untuk bencana sebesar itu,” kata wanita yang akrab disapa Ef itu.

Hanya beberapa detik setelah teriakan itu, kampung mereka diremukkan. Gemuruh berubah menjadi hantaman. Air coklat pekat menabrak pemukiman. Menyeret apa pun. papan, kayu, batu, bahkan manusia.

Ef menggenggam tangan putri sulungnya, Adelin (12) mencoba melawan arus. Tapi derasnya galodo tak mengenal belas kasihan. Dalam satu hentakan, pegangan itu terlepas. Adelin terseret, sementara Ef terpental dan memanjat kandang sapi dengan sisa tenaga.

”Waktu itu saya hanya bisa teriak nama anak-anak,” bisiknya, menahan getar di suaranya.

Adelin, tubuh kecilnya penuh memar berhasil bertahan dengan mencengkeram tonggak kayu di rumah kerabat yang tak jauh dari rumahnya saat terpisah hanyut dari sang ibu. Sementara dua adiknya, Zeo (11), dan Sakura (8) berlari menuju bukit dan ditolong warga menuju Maurhilir.

Ketika senja turun, Adelin merangkak keluar dari tumpukan kayu dan lumpur, mengikuti samar suara manusia yang entah datang dari mana. Suara yang menuntunnya menuju hidup.

Saat arus mereda, Ef mulai mencari siapa pun yang mungkin masih tersisa. Di tengah tumpukan puing dan lumpur, matanya menangkap sesuatu. Sebuah kaki kecil terjepit di bawah atap rumah yang sudah berputar posisinya.

Dengan tangan gemetar, ia mengorek lumpur itu. Sedikit demi sedikit, tubuh mungil itu tampak utuh, diam… sangat diam. ”Itu keponakan saya…” ucapnya, suaranya nyaris pecah.

Ia mencoba memberi napas buatan, memeluk tubuh kecil itu kuat-kuat. Tapi beberapa menit kemudian, ia harus menerima kenyataan paling pahit. Balita itu telah kembali kepada-Nya.

Tak lama setelah itu, jeritan lain terdengar. Bocah perempuan lain. Muti namanya, terjebak lumpur hingga pinggang. Meski tubuhnya sendiri penuh luka, Ef kembali berlari, kembali menolong, kembali berharap. Seolah sejak bencana datang, ia tidak diizinkan berhenti.

Dalam kelelahan yang hampir membuatnya tumbang, Ef akhirnya bertemu suaminya, Thomas (44) yang selamat dengan memanjat batang pinang. Mereka hanya berpelukan beberapa detik, cukup untuk mengumpulkan tenaga kembali.

Pukul 19.00, Adelin ditemukan. Kuning kecoklatan oleh lumpur, tapi hidup. Pukul 21.00, kabar Zeo dan Sakura menyusul. Mereka berada di Maurhilir. Juga hidup. Untuk pertama kalinya sejak galodo menerjang, keluarga itu kembali lengkap. Tak ada pelukan atau tangis panjang, hanya helaan napas yang terasa paling bermakna di dunia.

Ruang Kelas Jadi Rumah Sementara

Rabu (3/12), di SD 05 Kayupasak yang kini berubah menjadi pengungsian, Ef duduk di sudut ruang kelas yang dinginnya merayap ke dalam tulang. Tikar digelar rapat-rapat, selimut tipis bergulung, aroma minyak gosok memenuhi udara.

Anak-anaknya duduk di dekatnya. Luka-luka di tubuh mereka masih menghitam. Tatapan mereka sering kosong, seolah masih terjebak antara gelombang pertama dan terakhir dari bencana itu. ”Setiap ada suara keras, apalagi helikopter, saya langsung gemetar,” ucap Ef, menggenggam tangan Sakura.

Beberapa pengungsi menunduk, sebagian meneteskan air mata. Kata-katanya merambat ke ruang hati siapa pun yang mendengarnya. Di pagi setelah bencana, keluarga ini mendapati rumahnya hilang. Toko serbaada lenyap, mobil hancur, empat motor ikut terseret. Uang tabungan hasil berjualan pun tak ada yang tersisa.

Hanya tiga ponsel anak-anak yang berhasil ditemukan di antara lumpur dan serpihan kayu. ”Tapi kami masih lengkap, itu saja yang membuat saya kuat,” katanya.

Meski seluruh harta benda mereka hilang, Ef menggenggam sesuatu yang tak mampu dihanyutkan galodo. Harapan. ”Selama kami masih diberi kesempatan untuk tetap bersama,” ucapnya, menatap anak-anaknya, ”Kami bisa memulai lagi. Perlahan, tak apa,” ujarnya.

Di ruang kelas yang dingin itu, keluarga ini mencoba berdiri kembali. Luka mereka belum pulih, masa depan masih kabur, tetapi mereka tak lagi sendiri. Mereka bersama. Dan itu cukup untuk mulai menjahit kembali hidup yang tercerai-berai. Setapak demi setapak melangkah. Karena bagi para penyintas, bertahan saja sudah merupakan sebuah kemenangan.***

Editor : Bayu Saputra
#banjir sumut #banjir aceh #bencana Sumatera #banjir sumbar #Galodo #Bencana Aceh