Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Sekolah Hancur, Ujian Semester di Tenda Darurat

Redaksi • Sabtu, 6 Desember 2025 | 12:40 WIB
Kondisi bangunan SDN 5 Batanganai, Kabupaten Padangpariaman, Sumbar rusak parah akibat terdampak banjir dan longsor. Foto diambil Jumat (5/12/2025).
Kondisi bangunan SDN 5 Batanganai, Kabupaten Padangpariaman, Sumbar rusak parah akibat terdampak banjir dan longsor. Foto diambil Jumat (5/12/2025).

AGAM (RIAUPOS.CO) - Pascabencana hidrometeorologi basah di sejumlah daerah di Sumbar, sektor pendidikan berdampak cukup serius. Selain menimbulkan kerusakan terhadap bangunan sekolah, tak sedikit pula guru-guru yang menjadi korban. Padahal Senin (8/12) lusa, ujian semester akan digelar.

Data terbaru di Kabupaten Agam menunjukkan, 102 unit satuan pendidikan rusak. Dari TK hingga SMP. Di balik angka itu, tragedi yang lebih pahit mencuat, 26 jiwa dari lingkungan sekolah meninggal, sementara sejumlah guru masih hilang dan terisolasi. Kerusakan yang begitu masif membuat sebagian besar sekolah tidak bisa digunakan.

Banyak ruang kelas hanyut, peralatan belajar rusak, dan sebagian gedung retak serta tertimbun material longsor. Ribuan siswa kehilangan tempat belajar, sementara guru harus menghadapi duka dan tekanan psikologis di tengah tanggung jawab membimbing siswa.

Di tengah kondisi itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, turun langsung ke Agam melihat langsung skala kerusakan, Jumat (5/12). Mu’ti menyampaikan duka mendalam atas musibah yang merenggut banyak jiwa, termasuk guru dan pelajar.

Ia juga memberi dukungan moral kepada guru dan siswa agar tetap kuat di tengah kondisi berat pascabencana. ”Kami melihat proses pembersihan sekolah sudah berjalan dan berharap aktivitas belajar dapat segera pulih. Pemulihan layanan pendidikan menjadi prioritas utama kami,” tegas Mu’ti saat berada di SMPN 1 Tanjungraya.

Data Pemkab Agam menunjukkan bencana menghantam 102 unit sekolah. Terdiri dari 22 unit TK/PAUD, 65 sekolah dasar dan 15 unit SMP. Total kerugian yang di timbulkan diperkirakan mencapai Rp 11,466 miliar.

Di balik kerusakan fisik itu, dunia pendidikan Agam juga menanggung duka mendalam, karena tercatat enam guru dan 20 siswa meninggal dunia, sementara beberapa lainnya dirawat akibat luka-luka. Tiga guru masih dinyatakan hilang dan sepuluh guru terisolasi pada hari-hari awal bencana.

Untuk merespons kerusakan luas ini, Kemendikdasmen menyalurkan bantuan pemulihan sarana, santunan bagi siswa yang meninggal, serta bantuan bagi guru yang rumahnya terdampak. School kit dibagikan kepada pelajar, sementara family kit diserahkan kepada keluarga terdampak.

Mu’ti memastikan layanan psikososial diberikan untuk siswa TK hingga SMP, mengingat sebagian anak menyaksikan langsung rumah hancur, keluarga hilang, hingga teman sekelas yang tidak kembali.

Wakil Bupati Agam Muhammad Iqbal menyebut bencana ini meninggalkan ”beban berat” bagi dunia pendidikan Agam. ”Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri atas bantuan yang diberikan. Ini dukungan penting untuk mempercepat pemulihan sekolah dan keluarga terdampak,” ujarnya.

SDN 05 Batanganai Bangun Kelas Darurat

Terpisah, guru hingga murid SD Negeri 05 Batanganai, hingga kini masih diliputi kesedihan setelah bencana hidrometeorologi melanda wilayah mereka. Sebab ruang kelas, ruang guru, serta ruang kepala sekolahnya hancur total diterjang longsor dan banjir setinggi dua meter.


Hampir seluruh fasilitas belajar lenyap. Tidak ada satu pun peralatan sekolah yang bisa diselamatkan. ”Tidak ada yang tersisa. Semua perlengkapan habis tersapu banjir,” kenang salah satu guru, Nelvi Harlina Sari, menggambarkan betapa dahsyatnya kerusakan tersebut.

Di Nagari Sungai Buluh Timur, sekolah yang sejak lama menjadi sandaran pendidikan itu kini berhenti beroperasi. Aktivitas belajar mengajar terpaksa terhenti dan berganti dengan kegiatan trauma healing yang dipandu puluhan personel Polres Padangpariaman. Mereka berupaya memulihkan psikologis para siswa melalui permainan dan sesi bercerita yang digelar di halaman sekolah.


Dalam situasi sulit menjelang ujian semester, PLT Kepala Sekolah Lisa Rifendi tidak tinggal diam. Ia mencari berbagai cara agar kegiatan akademik tetap berjalan, meski sekolah kehilangan seluruh ruang belajar. ”Senin besok (lusa, red) siswa harus mulai ujian semester, sementara tidak ada satu pun ruang kelas yang bisa dipakai,” ujar Lisa, Jumat (5/11).

Upaya mencari lokasi darurat sempat dilakukan, namun belum memberikan hasil. Harapan baru muncul ketika Kamis (4/12), Lisa memberanikan diri menemui Kapolres Padang Pariaman AKBP Ahmad Faisol Amir untuk meminta bantuan.

 

”Alhamdulillah, Kapolres langsung merespons dan memutuskan mendirikan kelas darurat di sekolah. Besok (hari ini, red) mungkin tenda darurat itu mulai dipasang,” ucap Lisa dengan suara bergetar menahan haru.

Tenda kelas darurat yang dibangun di halaman sekolah itu memberi napas segar bagi para guru dan siswa. Dengan adanya fasilitas tersebut, ujian semester dipastikan tetap berlangsung di lingkungan sekolah mereka sendiri. ”Ujian akan digelar Senin sampai Kamis. Kami tidak lagi sibuk mencari tempat lain,” tegasnya.

Meski bersifat sementara, keberadaan kelas darurat itu kembali menumbuhkan semangat Lisa untuk terus memperjuangkan pemulihan sekolah. Ia berharap keyakinan dan kerja keras itu kelak membuka jalan bagi pembangunan sekolah permanen.

Harapan serupa disampaikan guru kelas Yeli Nengsih. Ia yang telah lama mengabdi di sekolah tersebut berharap berbagai pihak dapat membantu mempercepat pembangunan kembali.

”Keinginan kami hanya satu, sekolah ini bisa segera dibangun kembali. Orang tua dan anak-anak sangat berharap, dan itu juga yang menjadi energi bagi kami untuk terus berjuang,” tuturnya.

Santunan Korban

Menurut data Kemendikdasmen, jumlah sekolah terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hingga kemarin naik dua kali lipat dibanding data awal. Pada awal Desember, tercatat ada 1.009 satuan pendidikan yang terdampak di tiga provinsi tersebut.

Dalam empat hari (4/12), jumlahnya naik drastis menjadi 2.185 satuan pendidikan. Jumlah siswa terdampak mencapai 180.717 anak dan guru terdampak mencapai 17.049 orang.

Di Sumatera Barat saja, kata Mu’ti, banjir dan longsor telah menyebabkan 73 PAUD, 210 SD, 78 SMP, 37 SMA, 3 SMK, 2 PUBM, dan 9 SLB rusak. Dari jumlah tersebut, 102 di antaranya merupakan satuan pendidikan di Kabupaten Agam.

Mu’ti menyebut pihaknya menyediakan bantuan operasional tanggap darurat sebesar Rp 6,4 miliar dan santunan murid serta guru yang meninggal dan dirawat sebesar Rp 293 juta.

Selain itu, Kemendikdasmen menyalurkan perlengkapan sekolah 10.000 paket, 74 tenda sekolah darurat, 700 paket perlengkapan keluarga, 1.300 paket sembako, tiga paket peminjaman Starlink, hingga 1.500 paket makanan ringan.

Untuk guru yang meninggal dunia, pihaknya memberikan santunan sebesar Rp10 juta. Guru yang luka dan dirawat inap mendapatkan Rp5 juta. Adapun bagi siswa yang meninggal, keluarga menerima santunan sebesar Rp5 juta per korban, sedangkan yang dirawat menerima Rp2,5 juta.


“Ada dalam data kami enam orang guru meninggal dunia, dan yang dirawat ada tiga guru. Sedangkan siswa yang meninggal ada 20 siswa,” paparnya seusai menyerahkan bantuan kepada para perwakilan korban secara simbolis di SMP Negeri 1 Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat, kemarin (5/12).

Sampai dengan Jumat (4/12) pukul 17.00, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 867 jiwa di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) meninggal. Yang masih hilang 521 orang.

Lewat Instagram, Pendiri Malaka Project Ferry Irwandi yang telah sampai ke Aceh Tamiang kemarin (5/12) menyebut kondisi di sana mengerikan. “Orang-orang nggak makan berhari-hari, mereka minum dari air banjir yang dikasih bubuk teh biar tidak bau. Mencekam,” kata Ferry yang datang untuk mendistribusikan bantuan dari penggalangan dana yang dia organisasi.

Di Sumatera Barat (Sumbar), Padang Ekspres melaporkan sampai dengan kemarin, akses Lembah Anai, jalur utama penghubung Padang–Bukittinggi—masih ditutup total untuk seluruh kendaraan setelah mengalami kerusakan parah akibat banjir dan longsor.

Di Aceh, sampai dengan kemarin (5/12), setidaknya masih ada sekitar 82 titik longsor di jalur menuju Kabupaten Bener Meriah. Hal ini membuat pendistribusian logistik menjadi sangat sulit. Adapun ruas jalan Bireuen–Aceh Utara, penghubung utama Banda Aceh–Medan, terus dikebut penanganannya.

Sekda Aceh M Nasir menjelaskan bahwa putusnya Jembatan Krueng Tingkeum/Kuta Blang kini ditangani dengan pembangunan Jembatan Bailey di Awe Geutah yang ditargetkan dapat difungsikan dalam dua hari ke depan. “Agar pendistribusian logistik pun jadi lebih mudah lewat jalur darat,” terangnya.

Berdasarkan data sementara Posko Tanggap Darurat per 4 Desember pukul 20.00 WIB, tercatat sebanyak 442 titik jalan dan 224 titik jembatan mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor. Kerusakan tersebut tersebar di 18 kabupaten/kota terdampak di Aceh.

Di tengah situasi yang masih sangat sulit itu, tersiar kabar Bupati Aceh Selatan Mirwan MS menjalani ibadah umrah bersama keluarga. Padahal, Aceh Selatan termasuk salah satu wilayah yang terdampak parah. Bahkan, pada 27 November lalu, Mirwan juga menulis surat resmi yang ditujukan ke Gubernur Aceh Muzakir Manag berisi ketidaksanggupan dirinya dalam menangani bencana yang melanda 11 kecamatan.

“Gubernur menegaskan, apabila hal tersebut benar adanya, maka beliau akan memberikan teguran kepada bupati Aceh Selatan,” ujar Juru Bicara Pemerintah Aceh Muhammad MTA, seperti dikutip dari Rakyat Aceh (RPG).

Sementara itu, di Sumatera Utara, dalam laporan Dinas Kesehatan Langkat, Sumatera Utara, ada tujuh rumah sakit mengalami kerusakan. Rumah Sakit Umum Daerah Tanjungpura termasuk yang rusak berat. Selain itu, mengutip Sumut Pos, ada 23 puskesmas juga terdampak, empat di antaranya rusak berat.

Kerusakan di RSUD Tanjungpura membuat seluruh pasien dipindahkan ke RSU Putri Bidadari. “Untuk sementara pelayanan RSUD Tanjung Pura dihentikan sampai proses pemulihan memungkinkan layanan kembali dibuka,” ungkap Bupati Langkat Syah Afandin dalam laporannya kepada Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Oktavianus.(ptr/apg/idr/sep/ted/han/ttg/ mia/das)

Editor : Bayu Saputra
#agam #bencana Sumatera #banjir sumbar #bencana sumbar