AGAM (RIAUPOS.CO) - Banjir bandang susulan terus menghantui warga Jorong Pasa Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam. Aliran Sungai Muaro Pisang kembali meluap sejak Rabu (31/12) malam hingga Jumat (2/1) pagi, memaksa ratusan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam mencatat, sebanyak 469 jiwa dari 167 Kepala Keluarga (KK) terpaksa meninggalkan rumah akibat ancaman banjir bandang yang terjadi berulang. Warga mengungsi ke rumah ibadah, kantor pemerintahan, hingga ke rumah sanak saudara, bahkan ke luar daerah.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam Abdul Ghafur mengatakan, banjir bandang dipicu longsor di tepi bukit Kelok 25, Jorong Kuok Tigokoto, Nagari Matuamudiak, Kecamatan Matur, sekitar pukul 21.00, Rabu (31/12) malam.
“Material longsor berupa lumpur, kayu dan bebatuan menutupi badan jalan sepanjang sekitar 30 meter dengan ketinggian satu meter. Akses jalan putus total dan hingga kini belum bisa dilewati kendaraan,” ujar Abdul Ghafur, Jumat (2/1).
Selain memutus akses vital Lubukbasung-Bukittinggi, bencana ini juga menyebabkan kerusakan serius. BPBD mencatat empat unit rumah warga, tiga unit kedai, dan dua unit vila rusak berat hingga hancur. Ratusan rumah lainnya, termasuk fasilitas umum seperti sekolah dan perkantoran, terendam dan dipenuhi material lumpur.
Banjir bandang juga sempat mengurung satu unit alat berat jenis ekskavator serta membentuk aliran air baru dari depan BRI lama Pasar Maninjau menuju Rutan Kelas IIB Maninjau. “Hasil pantauan udara dari Kelok 9 sampai Kelok 25 tidak ditemukan material yang menutup aliran sungai Batang Muaro Pisang. Debit air memang tidak besar, namun arus cukup deras. Saat ini satu unit beko loader PUTR Agam siaga untuk pembersihan material di jalan,” jelasnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan, tumpukan material banjir bandang di depan BRI lama Jorong Pasa Maninjau mencapai panjang sekitar 70 meter dengan ketebalan lebih dari satu meter. Sejak dini hari sekitar pukul 02.45 WIB, arus lalu lintas lumpuh total. Kondisi cuaca masih hujan ringan, sementara aliran sungai terpantau deras.
Sementara itu, Wali Jorong Pasa Maninjau Dedy Febriyanto mengatakan, warga yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Muaro Pisang memilih mengungsi karena trauma dan kekhawatiran banjir bandang susulan.
“Pengungsi tersebar di beberapa titik. Di Musala SMA Negeri 1 Tanjungraya ada 6 KK atau 14 jiwa, Masjid Raya Kubu Baru 28 KK atau 78 jiwa, Kantor Camat Tanjungraya 7 KK atau 24 jiwa, Masjid Gasang 4 KK atau 12 jiwa, dan Masjid SMP Negeri 1 Tanjungraya 44 KK atau 135 jiwa,” ungkap Dedy.
Selain itu, sebagian warga mengungsi ke rumah kerabat di sekitar Maninjau dan Lubukbasung. Bahkan, ada yang memilih mengungsi ke luar daerah seperti Batusangkar, Sawahlunto, Batam, hingga Jakarta.
Data Pusdalops BPBD Agam mencatat, sejak 27 November 2025 hingga 2 Januari 2026, banjir bandang telah berulang kali terjadi di kawasan tersebut. Dalam kurun waktu dua hari terakhir, banjir bandang susulan tercatat lebih dari 10 kali, meski volumenya tidak sebesar kejadian di Palembayan dan Jorong Labuah, Sungaibatang.
BPBD Agam mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama yang bermukim di bantaran sungai dan daerah rawan longsor, mengingat potensi hujan masih tinggi dan kondisi tanah labil.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Padangpariaman mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul tingginya curah hujan yang mengguyur hampir seluruh wilayah daerah itu sejak Kamis malam (1/1) hingga Jumat (2/1).
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Padangpariaman Emri Nurman, mengatakan kondisi cuaca dengan intensitas hujan yang tinggi dan merata berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah rawan.
“Sehubungan dengan tingginya curah hujan dan merata di seluruh wilayah Padangpariaman sejak Kamis malam hingga Jumat, kami meminta seluruh camat dan wali nagari untuk menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar tetap waspada,” kata Emri Nurman, Jumat (2/1).
Ia menegaskan, masyarakat yang bermukim di daerah rawan banjir dan longsor diminta untuk terus memantau kondisi lingkungan sekitar, termasuk perubahan debit air sungai, retakan tanah, maupun tanda-tanda longsor lainnya.
“Apabila situasi dinilai membahayakan, masyarakat kami sarankan segera melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman guna menghindari risiko korban jiwa,” ujarnya.
BPBD Padangpariaman juga terus melakukan pemantauan kondisi cuaca serta berkoordinasi dengan aparat kecamatan, pemerintah nagari, dan unsur terkait lainnya untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Emri mengimbau masyarakat agar tetap tenang namun tidak lengah, serta segera melaporkan kepada aparat setempat atau BPBD apabila terjadi kondisi darurat di wilayah masing-masing.
Salah satu wilayah yang masih rentan terhadap banjir dan longsor yaitu perbatasan Nagari Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayutanam, dan Nagari Pasie Laweh Lubuak Aluang. Kemarin, banjir kembali melanda kawasan Korong Tanahtaban, Nagari Pasie Laweh Lubuak Aluang. Peristiwa ini terjadi akibat meluapnya Batang Anai menyusul tingginya intensitas curah hujan sejak Kamis malam (1/1).
Informasi dari lokasi disampaikan oleh Bhabinkamtibmas Nagari Pasie Laweh Polsek Lubuk Alung, Aiptu Riki Candra. Katanya, peningkatan debit air Batang Anai menyebabkan air meluber dan memasuki rumah-rumah warga di sekitar bantaran sungai.
“Wilayah terdampak berada di Korong Tanahtaban, tepatnya di kawasan sebelum Jembatan Bendungan Anai pada persimpangan menuju Rimbo Kalam, Nagari Anduriang. Hingga Jumat (2/1) pukul 15.00, genangan air masih terpantau di sejumlah titik permukiman warga,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan bertambahnya debit air, warga terdampak telah dievakuasi ke lokasi yang dinilai lebih aman. Proses evakuasi dilakukan oleh petugas bersama perangkat nagari serta unsur terkait lainnya.
“Selain melakukan pemantauan langsung di lapangan, petugas juga membantu warga serta terus menyampaikan imbauan agar masyarakat tetap waspada dan mematuhi arahan yang diberikan demi keselamatan bersama,” ujarnya.
Sisir Dampak Banjir Susulan
Hujan deras di Sumatera beberapa hari belakangan menyebabkan terjadinya banjir dan longsor susulan. Termasuk di wilayah Kabupaten Agam, dan beberapa titik di Aceh. Merespons kondisi tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan penyisiran dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara intensif.
”Tadi pagi (kemarin, red) kepala BNPB menyampaikan kalau harus 24 jam dilakukan OMC, maka akan kami lakukan supaya yang sudah kami pulihkan bisa kami cegah dari potensi bencana banjir susulan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Jumat (2/1).
Menurut Abdul Muhari, pihaknya mengupayakan OMC secara optimal. Sebab, dua hari terakhir hujan terus turun. Padahal berdasar data yang ditunjukkan kepada awak media, area OMC di Sumatera sudah sangat luas. Bahkan di wilayah Aceh, riwayat pesawat OMC hampir menutup seluruh wilayah.
”Bisa kita lihat jalur dari OMC yang kami lakukan sudah sangat optimal, untuk mencegah awan-awan baik itu yang dari barat, yang dari Samudera Hindia maupun yang dari kawasan pegunungan atau di bagian darat di sebelah timur dan utara Sumatera Barat,” jelasnya.
Abdul Muhari menyampaikan bahwa ikhtiar itu dilakukan oleh instansinya untuk memutus dan mencegah intensitas hujan tinggi. Sehingga bila tetap turun hujan tidak terlalu deras. Namun demikian, beberapa kali hujan tetap turun dengan intensitas sedang hingga tinggi. ”Sehingga beberapa kali kemarin itu di Agam dan Maninjau sempat ada banjir (dan longsor) susulan,” ucap dia.
Saat ini, lanjut Abdul Muhari, tim BNPB di lapangan masih terus menyisir lokasi terdampak banjir susulan tersebut. Tujuannya untuk memastikan ada tambahan dampak bencana atau tidak. ”Tentu saja kami harapkan longsor susulan tidak menyebabkan dampak yang signifikan,” ujarnya.
Bukan hanya di Sumbar, di Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh juga dilakukan hal yang sama. OMC berlangsung intens. Namun demikian, sebagaimana telah disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), saat ini sedang puncak musim hujan.
”BMKG menyampaikan ada beberapa titik di Aceh yang akan mengalami kondisi hujan intensitas tinggi hingga ekstrem. Meskipun hujan intensitas tingginya tidak sampai ke ekstrem karena kami melakukan OMC, tetapi hujan intensitas sedang dan tinggi beberapa kali menyebabkan banjir dan longsor di beberapa kabupaten,” terang dia.
Karena itu, BNPB mengoptimalkan OMC dan terus mempercepat normalisasi sungai di beberapa titik. Khususnya di lokasi yang sudah diidentifikasi oleh BNPB sebagai titik luapan air. ”Kami terus percepat, kami harapkan memang melalui fase Januari atau 2 minggu pertama Januari ini OMC benar-benar bisa kami optimalkan,” ujarnya.(ptr/apg/rpg)
Editor : Bayu Saputra