RIAUPOS.CO - Sitinjau Lauik yang terletak di ruas Padang–Solok Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) kerap viral di media sosial (medsos). Belakangan ini, jalur ikonik Sumbar yang juga terkenal sebagai jalur maut kembali menjadi sorotan setelah aksi rombongan pejabat yang menghentikan kendaraan di tengah jalur untuk berfoto.
Tindakan tersebut menuai kritik luas, bukan semata karena mengganggu lalu lintas, tetapi karena dilakukan di salah satu ruas jalan paling ekstrem di Indonesia.
Kejadian viral rombongan pejabat yang nekat mengambil foto di tengah jalur Sitinjau Lauik menjadi pengingat bahwa keselamatan harus selalu berada di atas segalanya, bahkan di atas keinginan untuk sekadar mengabadikan momen.
Baca Juga: JNE Raih Penghargaan Indonesia Digital Innovation Awards
Merangkum berbagai sumber, secara bahasa, Sitinjau Lauik berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti melihat laut. Nama ini bukan sekadar kiasan.
Jalur yang berada di kawasan perbukitan Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatera Barat, ini memang menawarkan pemandangan luas ke arah Kota Padang hingga garis laut di kejauhan.
Dari titik tertentu, hamparan kota yang berpadu dengan birunya Samudra Hindia menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang melintas. Namun keindahan itu justru beriringan dengan kondisi jalan yang menantang nyali. Lantas, apa yang membuat Sitinjau Lauik begitu ikonik?
Baca Juga: Pemprov Bentuk UPT Jaminan Produk Halal
1. Jalur Ekstrem
Sitinjau Lauik paling terkenal karena karakter jalannya yang ekstrem. Tikungan tajam seperti di titik Panorama 1 dan tanjakan curam membuat kendaraan, terutama truk dan bus, harus ekstra hati-hati.
Dalam banyak kasus, kendaraan besar terutama truk, harus menjaga momentum saat menanjak dan ekstra hati-hati saat menurun. Sedikit saja kesalahan, risikonya bisa fatal, membahayakan dirinya dan pengemudi lain.
Kendaraan berukuran jumbo seringkali harus bergantian saat berpapasan melewati tikungan sempit. Kombinasi ini menjadikan Sitinjau Lauik sebagai salah satu jalur paling menantang di Indonesia.
Baca Juga: Pertamina Lakukan Extra Dropping
2. Keindahan Alam yang Mengesankan
Di balik ekstremnya, Sitinjau Lauik justru menawarkan pemandangan yang luar biasa indah. Dari ketinggian, pengendara dapat melihat hamparan Kota Padang, perbukitan hijau, hingga laut di kejauhan.
Nama 'Sitinjau Lauik' sendiri berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti 'melihat laut', menggambarkan panorama khas yang menjadi daya tarik utama kawasan ini.
Baca Juga: Target Pencak Silat Tembus Olimpiade
3. Jalur Maut
Julukan 'jalur maut' untuk Sitinjau Lauik bukan tanpa alasan. Kasus kendaraan gagal menanjak, rem blong saat turunan, mobil terguling hingga kecelakaan lalu lintas kerap terjadi.
Kondisi semakin berisiko saat hujan turun, jarak pandang terbatas dan jalan menjadi licin dan potensi longsor meningkat. Kombinasi antara faktor geografis dan kepadatan lalu lintas membuat jalur ini menuntut disiplin tinggi dari setiap pengendara.
Faktor inilah yang membuat setiap gangguan di jalur ini, termasuk berhenti sembarangan, bisa berujung fatal.
Baca Juga: Terapkan Pendekatan Humanis, PTPN IV PalmCo Pulihkan 223,05 Ha Aset Negara
4. Jalur Vital Lintas Sumatera
Sitinjau Lauik memiliki peran yang sangat penting. Jalur ini merupakan bagian dari jalan nasional yang menghubungkan Kota Padang dengan Solok, serta menjadi akses utama menuju wilayah Sumatera bagian tengah.
Artinya, jalur ini selalu ramai dilalui kendaraan logistik dan masyarakat, menjadikannya salah satu urat nadi transportasi di Sumatera Barat.
5. Kerap Viral di Media Sosial
Popularitas Sitinjau Lauik semakin meningkat berkat media sosial. Banyak konten kreator merekam momen dramatis kendaraan besar yang berjuang menaklukkan tanjakan ekstrem.
Video-video ini kerap ditonton jutaan kali karena menghadirkan sensasi tegang sekaligus kagum. Tak sedikit pula yang sengaja datang hanya untuk menyaksikan langsung 'aksi' kendaraan di jalur tersebut.
Baca Juga: IMA Chapter Pekanbaru Taja Halalbihalal dan Realisasi Program Arisan
Di sisi lain, pemerintah mulai mengambil langkah untuk meningkatkan keselamatan di kawasan tersebut.
Di antara upaya yang tengah berjalan adalah pembangunan flyover Sitinjau Lauik, yang diharapkan dapat mengurangi risiko kecelakaan di jalur lama yang curam dan berkelok. Namun hingga kini, Sitinjau Lauik masih menjadi jalur utama yang tidak tergantikan.
Editor : M. Erizal