Edi Palue dan Black Ende Tewas dalam Bentrok Dua Kelompok di Jembatan III Barelang, 9 Luka-Luka

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 22:17 WIB
Bentrok antara dua kelompok yang diduga terkait persoalan lahan di Setokok, Jembatan III Barelang, Senin (14/9/2026) siang.(TANGKAPAN LAYAR VIDEO WAGS/CHATGPT/RPG)
Bentrok antara dua kelompok yang diduga terkait persoalan lahan di Setokok, Jembatan III Barelang, Senin (14/9/2026) siang.(TANGKAPAN LAYAR VIDEO WAGS/CHATGPT/RPG)

BATAM (RIAUPOS.CO) - Bentrok berdarah di Pulau Setokok, Jembatan III Barelang, Batam, Kepulauan Riau mengakibatkan dua korban tewas, dan sedikitnya 9 lainnya luka-luka. Bentrok terjadi antar dua kelompok pada Senin (14/9/2026) hingga akhirnya polisi mengamankan sekitar 6 orang.

Dua korban meninggal dunia, yakni Edi Palue dan Heri alias Black Ende, dibawa ke RS Bhayangkara Polda Kepri Batam.

Keduanya sempat menjalani proses pemeriksaan dan visum untuk membantu penyidik mengungkap penyebab kematian.

Baca Juga: Menang atas SMAN 8, Stella Gracia Amankan Tiket Semifinal

Setelah pemeriksaan medis selesai, jenazah telah dikembalikan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Atas bentrok dua kelompok ini, polisi bergerak cepat menangani bentrokan dua kelompok. Dimana enam orang yang diduga berkaitan dengan bentrokan hingga menyebabkan dua orang meninggal dunia telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan.

Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono mengatakan, keenam orang tersebut diamankan karena diduga memiliki kaitan dengan peristiwa yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Baca Juga: Sejumlah Daerah Diselimuti Kabut Asap Kiriman, Hotspot Riau Tersisa 40 Titik 

Namun, polisi masih melakukan pendalaman untuk memastikan peran masing-masing orang yang diamankan.

“Total diamankan ada enam orang yang untuk diposisikan korban. Ini masih kita kembangkan lagi, kami mohon waktu. Ini juga akan dikembangkan keseluruhan,” kata Anggoro dikutip riaupos.jawapos.com dari batampos.co.id (Riau Pos Group).

Ia menegaskan, dari enam orang tersebut terdapat pihak yang diduga berkaitan langsung dengan penyebab kematian korban dan saat ini masih menjalani pemeriksaan.

 

“Beberapa orang telah diamankan dan sudah ada terduga pelaku yang sedang proses diambil keterangan,” ujarnya.

Polisi belum merinci identitas maupun peran masing-masing orang yang diamankan karena penyidik masih mencocokkan keterangan para pihak dengan bukti-bukti yang ditemukan di lapangan.

Terkait penyebab kematian dua korban, polisi menduga adanya penggunaan senjata angin. Namun, dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan medis.

Baca Juga: Kabut Asap Tebal Kiriman dari Palembang Selimuti Pelalawan, Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat

“Itu dugaan awal. Untuk proses visum dan otopsi masih berjalan. Nanti akan kami proses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Anggoro.

Selain dua korban meninggal dunia, bentrokan tersebut juga mengakibatkan sejumlah orang mengalami luka. Anggoro menyebut terdapat tujuh korban luka dari salah satu pihak, sementara tiga orang lainnya mengalami luka dari kelompok sebelah.

Para korban kemudian dibawa ke sejumlah rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Baca Juga: Arah Angin Bergerak dari Tenggara dan Barat Daya, Riau Terdampak Asap Kiriman 

Sementara itu, korban luka masih menjalani perawatan di beberapa rumah sakit. Alfosius dan M. Husni Huda dirawat di RS Awal Bros Batuaji, Komaruddin Koli di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, serta Bastian di RSUD Embung Fatimah.

Dua korban lainnya, Rusli Yamnani dan Stenly, mendapatkan perawatan di RS Bunda Halimah Batam.

Polisi memastikan situasi di kawasan Jembatan III Barelang saat ini telah aman dan kondusif. Tim gabungan masih disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bentrokan susulan.

Anggoro menegaskan proses hukum tetap berjalan dan penyidik masih mengembangkan kasus tersebut untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat, termasuk memastikan penyebab pasti kematian dua korban.

Editor : Eka G Putra
bentrok di setokok jembatan III barelang bentrok ormas di batam edi palue tewas black ende tewas