Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Waduk Tirta Terubuk Kembali Alami Krisis Air Baku, Pasokan ke Pelanggan Terancam

Abu Kasim • Rabu, 26 November 2025 | 09:23 WIB
Waduk air baku Perumda Tirta Terubuk Bengkalis mengalami kekeringan akibat kurangnya curah hujan dalam satu bulan terakhir di Pulau Bengkalis.
Waduk air baku Perumda Tirta Terubuk Bengkalis mengalami kekeringan akibat kurangnya curah hujan dalam satu bulan terakhir di Pulau Bengkalis.

BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Akibat intensitas hujan yang minim dalam satu bulan belakangan, membuat kondisi waduk Perumda Tirta Terubuk Bengkalis mengalami kekeringan alias krisis air baku. Kondisi ini mengancam pasokan air bersih ke pelanggan.

Bahkan di daerah yang jauh dari sumber air bersih, seperti di daerah kelapa pati darat karena sumber pengolahan air bersih di Desa Wonosari, membuat aliran air dibagian ujung penyaluran, airnya kosong dan menyisakan bunyi angin yang masuk ke meteran pelanggan.

Sedangkan dua waduk utama di Desa Wonosari, saat ini berada dalam kondisi krisis, bahkan dasar waduk sudah tampak jelas karena air surut hingga menyebabkan retakan besar di permukaan tanah.

Kondisi ini terpantau pada Selasa (25/11/2025) saat Wakil Bupati Bengkalis, Bagus Santoso bersama Direktur Perumda Tirta Terubuk serta tenaga ahli meninjau langsung waduk tersebut, untuk mencari solusi alternatif penyediaan air baku. Kekeringan ini bukan kali pertama terjadi, sebab setiap musim kemarau Perumda Tirta Terubuk kerap menghadapi krisis serupa, baik pada waduk lama maupun waduk yang dibangun BWS Sumatera III di belakang Lapangan Golf Bengkalis.

Tenaga Ahli Perumda Tirta Terubuk, Kasiyan mengungkapkan, penyebab utama kekeringan adalah bergantungnya waduk pada tadah hujan serta tidak optimalnya sumber air tambahan.

“Sebenarnya ini karena waduk kita hanya mengandalkan air hujan. Input air tidak ada, walaupun sempat direncanakan ada suplai dari PT Meskom, tetapi sampai sekarang belum berfungsi,” ujar Kasiyan.

Ia menambahkan, bahwa kebutuhan air pelanggan saat ini mencapai 4.000 hingga 5.000 pelanggan, maka air yang dibutuhkan per harinya sebanyak 1000 meter kubik per hari, atau sekitar 40.000 meter kubik per bulan. Kondisi itu membuat kebutuhan keandalan waduk harus kembali dibahas bersama BWS Sumatera III.

“Ya, kita akan kaji kembali bersama BWS tentang model waduk yang ideal agar pasokan air baku untuk Perumda bisa lebih terjamin ke depannya,” jelasnya.

Meski Perumda Tirta Terubuk telah menggunakan teknologi Nano Filter untuk pengolahan air, Kasiyan menegaskan bahwa biaya operasional tidak bisa dijadikan beban masyarakat sebagai pengguna layanan.

Ia menyebutkan, pemeliharaannya memang mahal, semestinya harga jual juga lebih tinggi. Namun karena ini layanan publik, kita tetap prioritaskan masyarakat.

Untuk jangka pendek, Perumda akan melakukan pencodetan dari parit di Jalan Bantan, serta membuat tali air untuk normalisasi guna menambah debit air, meski penambahan tersebut dinilai masih sangat terbatas.

“Kita tetap berharap turunnya hujan, karena penambahan air dari parit juga masih krisis,” ujar Kasiyan.

Sementara itu, untuk jangka menengah akan dilakukan kerja sama dengan PT Meskom Agrosari Mas melalui pembangunan saluran tertutup dan pemasangan pipa bawah tanah guna memperkuat suplai sumber air. Dalam jangka panjang, pihaknya berencana melakukan penghijauan di kawasan waduk.

“Penanaman pohon sangat penting untuk menjaga cadangan air saat kemarau. Ini PR kita bersama,” jelasnya.

Ia berharap, pemerintah daerah dan pemerintah pusat terus mendukung investasi infrastruktur air baku, sementara Perumda Tirta Terubuk akan fokus pada pengelolaan operasional. Masyarakat juga diminta menjaga lingkungan sekitar waduk, termasuk melakukan penghijauan untuk keberlanjutan sumber air di masa mendatang.

Sedangkan Wakil Bupati Bengkalis, Bagus Santoso menegaskan, bahwa kekeringan akan terus berulang bila tidak ada penambahan kapasitas waduk.

“Persoalannya kebutuhan air kita murni dari tadah hujan, sementara kapasitas waduk dari dulu sampai sekarang tidak bertambah. Situasi seperti ini akan terjadi secara berulang,” ujarnya.

 Baca Juga: Manajemen PHR Sampaikan Keprihatinan terkait Kecelakaan Kerja di Area Duri Field

Menurutnya, tenaga ahli telah mulai menghitung kebutuhan air ideal untuk melayani sekitar 5.000 pelanggan, yang diperkirakan mencapai 45.000 hingga 50.000 meter kubik per bulan.

“Dengan semakin luasnya wilayah dan meningkatnya jumlah pelanggan, jelas kapasitas waduk saat ini tidak akan pernah mencukupi. Pemerintah sadar bahwa harus ada penambahan waduk. Setelah kapasitas cukup, barulah dilakukan penghijauan di sekelilingnya,” jelas Bagus.

Untuk jangka pendek, pemerintah dan Perumda Tirta Terubuk telah menyiapkan dua langkah darurat, yaitu pembuatan kanal dari arah jalan Bantan menuju waduk, serta membuka kembali aliran air dari kanal PT Meskom yang selama ini tertutup.

Sementara itu, Direktur Perumda Tirta Terubuk Bengkalis, Abel Iqbal, menjelaskan bahwa situasi darurat air baku terjadi bukan karena kegagalan produksi melainkan keterbatasan sumber air.

“Air minum tidak bisa dijual kalau air bakunya bermasalah. Semua kebutuhan produksi sudah kita siapkan. Pompa yang rusak sudah diganti dan kini normal kembali,” ungkap Abel.

Namun Abel menegaskan, bahwa tantangan utama justru terletak pada karakteristik tanah gambut di lokasi waduk.

“Waduk kita berada di tanah gambut. Digali dua sampai dua setengah meter saja sudah lembek dan penuh lumpur. Sistemnya berbeda dengan daerah lain. Bahkan tim dari Jepang kemarin menilai idealnya kita butuh hingga 20 waduk,” jelasnya.

 Baca Juga: SMBC Indonesia Tech Connect Jadi Gelombang Baru Finacial AI yang Merubah Segalanya

Abel juga menekankan pentingnya menjaga kontinuitas air dari daratan agar tidak terbuang ke laut. Banyak air darat yang terbuang ke laut. Dengan program pencodetan dan pengaturan pintu air, kita bisa menahan sebagian agar tidak hilang semuanya.

Selain itu, Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) juga direncanakan membantu penambahan suplai air melalui jalur pengelolaan sumber daya air.

Dengan berbagai rencana jangka pendek, menengah, dan panjang tersebut, Pemkab Bengkalis berharap krisis air baku dapat ditangani secara bertahap dan keberlanjutan pasokan air kepada masyarakat dapat kembali terjamin.(ksm)

 

Editor : Edwar Yaman
#Perumda Tirta Terubuk Bengkalis #Waduk Tirta Terubuk Bengkalis #krisis air baku