
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Guncangan perdagangan global belum mampu menggoyang ekspor Indonesia. Hingga Juli 2026, nilai ekspor nasional menembus 167,03 miliar dolar AS atau tumbuh 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Industri pengolahan menjadi bantalan utama, menyumbang lebih dari 82 persen total ekspor.
Sepanjang Januari–Juli 2026, ekspor industri pengolahan tumbuh 7,16 persen secara tahunan. Kontribusinya mencapai 82,18 persen dari total ekspor Indonesia.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai capaian tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia masih mampu bertahan di tengah perubahan kondisi ekonomi dan perdagangan global. ”Surplus perdagangan pada Juli 2026 menunjukkan kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga,” ujar Budi di Jakarta, Kamis (3/8).
Baca Juga: New Vario Evo Night Ride Vol 2 Diikuti 170 Bikers
Pada Juli saja, nilai ekspor Indonesia mencapai 26,22 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 26,09 miliar dolar AS.
Ekspor nonmigas menjadi penyumbang terbesar dengan nilai 25,43 miliar dolar AS. Kinerjanya tumbuh 4,25 persen secara bulanan dan 6,84 persen secara tahunan. Jika dihitung sepanjang tujuh bulan pertama 2026, ekspor nonmigas mencapai 160,01 miliar dolar AS atau tumbuh 5,21 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Dominasi industri pengolahan menjadi salah satu penopang utama struktur ekspor tersebut. Kontribusinya jauh melampaui sektor pertambangan dan lainnya yang menyumbang 11,73 persen, migas 4,20 persen, serta pertanian 1,89 persen.
”Sejumlah produk industri bahkan mencatat lonjakan ekspor cukup tinggi. Ekspor aluminium meningkat 85,78 persen sepanjang Januari–Juli 2026. Ekspor nikel tumbuh 49,84 persen. Sementara ekspor tembaga meningkat 36,14 persen,” tuturnya.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan semakin besarnya peran produk bernilai tambah dalam menopang kinerja ekspor nasional. Pemerintah pun terus mendorong hilirisasi agar Indonesia tidak sekadar mengandalkan penjualan bahan mentah. ”Industri pengolahan menjadi salah satu kekuatan utama ekspor Indonesia,” kata Budi.
Negara Tujuan Makin Beragam
Selain memperkuat produk, pemerintah juga mendorong diversifikasi pasar ekspor nonmigas. Cina masih menjadi tujuan utama, disusul Amerika Serikat dan India.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




