
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Nilai tukar rupiah diperkirakan akan kembali melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan terakhir Oktober 2026.
Pengamat ekonomi dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah berpotensi menyentuh angka Rp18.200 per dolar AS.
”Rupiah sendiri kemungkinan besar akan kembali mengalami pelemahan kalau dilihat dari indeks dolar yang menguat, kemudian harga minyak mentah yang menguat. Sehingga rupiah melemah kemungkinan pekan depan ini ada di Rp18.200,” ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima, Ahad (25/10).
Baca Juga: Gandeng Petani Sawit Rakyat, PTPN IV PalmCo Galang Kekuatan Industri Sawit Nasional
Ibrahim mengatakan, salah satu faktor melemahnya nilai tukar mata uang Indonesia adalah masih menguatnya nilai tukar dolar AS di hadapan mata uang di dunia.
Ia menyebut pada perdagangan pekan keempat Oktober 2026 indeks dolar AS diperkirakan berada pada kisaran 100.90 hingga 103.010 atau melanjutkan penguatannya.
”Artinya bahwa di minggu terakhir di bulan Oktober kemungkinan indek dolar ini masih akan terus menguat menuju level 103.10,” ujarnya.
Ia menjelaskan salah satu faktor yang mengerek indeks dolar AS dan berdampak terhadap nilai tukar rupiah adalah melonjaknya harga minyak mentah dunia sehingga membuat angka inflasi di AS cukup tinggi.
Akibatnya untuk menjaga inflasi tetap terjaga membuka peluang bank sentral AS yaitu The Fed berpeluang untuk kembali menaikkan suku bunga acuan.
”Walaupun bukan di bulan Oktober tetapi di bulan November-Desember kemungkinan akan menaikkan suku bunga,” ucapnya.(jpg)
Laporan JPG, Jakarta
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




