
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia masih terjaga. Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, realisasi investasi mencapai Rp3.923,2 triliun. Angka tersebut nyaris menembus Rp4.000 triliun, di tengah gejolak pasar keuangan dan ketidakpastian ekonomi global.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyebutkan, angka tersebut merupakan investasi yang benar-benar telah dibelanjakan di dalam negeri. Bukan sekadar komitmen bisnis, penandatanganan nota kesepahaman (MoU), atau kesepakatan investasi yang belum terealisasi.
”Realisasi investasi yang kita catatkan adalah angka investasi yang sudah dikeluarkan, yang sudah di-spending di Indonesia. Jadi angka-angka ini adalah angka-angka yang riil, yang bisa dipertanggungjawabkan 100 persen,” kata Rosan di Jakarta, Kamis (29/10).
Baca Juga: PLN UIP Sumbagteng Utamakan Aspek K3 Pelaksanaan Pekerjaan Soil Investigasi di Lingkungan Proyek
Menurut dia, investasi di sektor riil memiliki karakter berbeda dibandingkan investasi di pasar modal. Investor pasar modal dapat masuk dan keluar sewaktu-waktu. Sebaliknya, investasi di sektor riil membutuhkan komitmen jangka panjang, modal besar, serta perencanaan yang matang. Pembangunan pabrik, smelter, hingga fasilitas produksi juga membutuhkan waktu sebelum beroperasi.
Karena itu, stabilitas politik dan keamanan serta kepastian iklim usaha menjadi pertimbangan penting bagi investor. Mereka membutuhkan lingkungan bisnis yang terukur agar risiko investasi dapat diperhitungkan sejak awal.
”Kita tidak suka ada hal-hal yang sifatnya tanpa kita bisa prediksi. Semua inginnya terukur, terstruktur, dan penuh dengan certainty (kepastian),” tuturnya.
Besarnya realisasi investasi tersebut menjadi modal penting untuk mengejar target jangka menengah pemerintah. Sebagai perbandingan, total investasi yang masuk ke Indonesia selama satu dekade pemerintahan 2014–2024 mencapai sekitar Rp9.100 triliun. Kini, pemerintah membidik realisasi investasi Rp13.032,8 triliun dalam lima tahun mendatang.
Sementara itu, sepanjang Januari–September 2026, realisasi investasi tercatat Rp1.539,2 triliun atau 75,4 persen dari target yang ditetapkan. Investasi tersebut menyerap 2.194.496 tenaga kerja, menunjukkan peran penanaman modal dalam menopang aktivitas ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Di sisi lain, hilirisasi semakin memperbesar kontribusinya terhadap investasi nasional. Rosan menyebutkan, kontribusi hilirisasi terhadap total investasi meningkat dari sekitar 25 persen pada 2024 menjadi 31 persen pada 2026. Bahkan, pada kuartal III 2026, porsinya mencapai 34 persen. (mim/dio/jpg)
Laporan JPG, Jakarta
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




