
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) semakin optimistis terhadap prospek penyaluran kredit hingga akhir 2026. Bank pelat merah tersebut menaikkan target pertumbuhan kredit dari sebelumnya 8–10 persen menjadi 10–13 persen. Revisi itu didukung kapasitas permodalan yang memadai serta prospek bisnis nasabah, terutama di sektor sumber daya alam dan infrastruktur strategis.
“Revisi ke atas ini mencerminkan adanya perbedaan kondisi antara perekonomian domestik secara umum dengan segmen-segmen spesifik yang kami layani,” ujar Direktur Keuangan dan Strategi BNI Hussein Paolo Kartadjoemena di Jakarta, Rabu (4/11).
Paolo menjelaskan, pertumbuhan kredit BNI tidak terlalu bergantung pada siklus konsumsi domestik. Ekspansi lebih banyak ditopang sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan tersendiri. Permintaan pembiayaan dari sektor sumber daya alam dan infrastruktur strategis, misalnya, masih kuat seiring dukungan permintaan global. Selain itu, BNI turut mendukung sejumlah program strategis pemerintah.
Baca Juga: Inflasi Pekanbaru di Bawah Nasional, Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi di Indonesia
Paolo memastikan risiko kredit tersebut telah dikelola dengan baik. Bahkan, BNI telah menerima pembayaran angsuran pertama dari fasilitas kredit yang disalurkan.
Secara keseluruhan, penyaluran kredit BNI hingga September tumbuh 22,2 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp 992,5 triliun. Pertumbuhan terutama ditopang segmen , dengan kontribusi yang relatif berimbang dari korporasi besar dan menengah.
Menariknya, pertumbuhan kredit BNI tidak hanya terjadi pada pembiayaan modal kerja, tetapi juga investasi. Di tengah perlambatan ekonomi domestik yang umumnya membuat perusahaan lebih berhati-hati melakukan ekspansi, permintaan pembiayaan investasi di BNI justru tetap kuat.
“Kami melihat adanya permintaan investasi yang nyata dan didorong oleh pasar global, bukan semata-mata pembiayaan untuk mengatasi kesulitan keuangan,” katanya.(mim/dio/jpg)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




