JAKARTA (RIAUPOS.CO) - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) memasuki usia operasional ke delapan tahun. Masuk usia hampir satu dekade, KPI mengklaim gencar melakukan modernisasi kilang untuk ketahanan energi nasional.
Sejak dibentuk pada 2017 dan ditetapkan sebagai Subholding Refining & Petrochemical pada 2020, KPI mengelola enam kilang strategis Pertamina yang menyuplai sebagian besar kebutuhan energi dalam negeri.
Dalam periode delapan tahun, KPI menjalankan sejumlah proyek besar. Mulai dari pengembangan Blue Sky dan Green Refinery Cilacap, revitalisasi unit pengolah residu (RCC) di Balongan, proyek Ultra Low Sulfur Diesel (ULSD), peningkatan kapasitas CDU di Balikpapan, hingga pembangunan infrastruktur penunjang seperti pipa, tangki, dan relokasi fasilitas SPM.
Namun proyek-proyek tersebut juga menandai tantangan klasik industri migas, kebutuhan investasi besar, penyelesaian yang rumit, serta tuntutan agar kilang Indonesia mampu memproduksi bahan bakar rendah emisi sesuai standar internasional.
Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman menilai, modernisasi kilang merupakan kunci menjaga suplai energi nasional. “Pembangunan infrastruktur ini berperan langsung pada ketahanan energi Indonesia,” ujarnya.
Selama 2019-2024, KPI mencatat pengolahan bahan baku rata-rata 320 juta barel per tahun dengan produksi BBM sekitar 250 juta barel. Tingkat keandalan kilang (Plant Availability Factor/PAF) diklaim mencapai 99 persen, sementara Yield Valuable Product berada di angka 81 persen.
Meski begitu, indeks intensitas energi (Energy Intensity Index/EII) KPI masih berada di angka 107 persen. Angka ini menunjukkan masih adanya ruang untuk efisiensi, terutama dalam konteks komitmen pengurangan emisi dan penghematan energi di fasilitas kilang.
Tuntutan global terhadap energi bersih mendorong KPI menghasilkan produk rendah emisi seperti PertaminaSAF, PertaminaRD, Biosolar Low Sulphur, hingga Breezon.(jpg)
Editor : Arif Oktafian