PEKANBARU (RIAUPOS.CO)- Di tengah tekanan kenaikan harga pakan ternak dan gangguan distribusi akibat bencana alam, peran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor peternakan unggas semakin krusial dalam menjaga ketahanan pangan lokal. Hal tersebut dirasakan langsung Khairul Anhar, peternak ayam petelur skala rumahan asal Desa Pandau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar.
Selama hampir satu tahun menekuni usaha ayam petelur, Khairul mengandalkan sekitar 200 ekor ayam untuk memasok kebutuhan telur di pasar lokal, khususnya wilayah Pekanbaru dan sekitarnya. Meski berskala kecil, usaha tersebut menjadi bagian penting dari rantai pasok pangan masyarakat.
“Permintaan telur di Pekanbaru sebenarnya masih cukup baik. Namun tantangan terbesar kami saat ini adalah biaya pakan yang terus naik,” kata Khairul saat ditemui di Region Office PTPN IV Regional III, Pekanbaru, Riau, belum lama ini.
Ia menjelaskan, dalam enam bulan terakhir harga pakan ternak tidak menunjukkan penurunan, bahkan cenderung meningkat. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan terhambatnya pasokan bahan baku pakan dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat akibat bencana banjir di sejumlah wilayah.
PTPNBaca Juga: PTPN IV Regional III Bantu Pemkab Kampar Hadapi Status Siaga Hidrometeorologi
“Distribusi tersendat, bahan baku jadi sulit, dan harga semakin mahal. Ini sangat terasa bagi peternak kecil seperti kami,” katanya.
Khairul mengakui telah berupaya menekan biaya produksi dengan meracik pakan secara mandiri. Namun keterbatasan bahan dan formulasi membuat upaya tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan nutrisi ayam secara optimal.
“Kalau pakan kurang, produksi telur ikut turun. Ini yang paling kami khawatirkan, karena berpengaruh langsung pada pasokan pangan,” jelasnya.
Dalam situasi tersebut, bantuan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PTPN IV Regional III menjadi penopang penting bagi keberlangsungan usaha sekaligus upaya menjaga ketahanan pangan lokal. Bantuan tersebut diberikan sebagai modal usaha agar peternak tetap mampu berproduksi di tengah tekanan biaya. “Dengan bantuan ini, kami bisa bertahan. Usaha tidak berhenti dan pasokan telur ke pasar tetap jalan,” ujar Khairul.