BANGKOK (RIAUPOS.CO) - Meskipun tahun fiskal 2025 terasa berat, Epson Indonesia memilih untuk melihat ke depan dengan penuh optimisme. Tantangan ekonomi dan perubahan regulasi dianggap sebagai batu loncatan untuk berinovasi, bukan sebagai penghalang. Pasar mungkin sedang melambat, namun semangat perusahaan teknologi ini justru semakin menyala untuk menyongsong tahun fiskal 2026.
Salah satu ganjalan terbesar di tahun lalu adalah lambatnya realisasi proyek dari pemerintah. Banyak pengadaan yang semula direncanakan namun tertunda, sehingga kontribusi dari sektor institusi atau government tidak semaksimal biasanya. Hal ini langsung terasa dampaknya pada distribusi perangkat Epson di jalur tersebut.
Belum lagi soal regulasi. Perubahan kebijakan terkait persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang kini lebih fleksibel, turut mengocok ulang peta persaingan industri teknologi. Meskipun aturan ini bertujuan menarik investor asing, bagi Epson yang selama ini menjadikan TKDN tinggi sebagai nilai jual utama, situasinya menjadi tantangan tersendiri.
Managing Director Epson Indonesia Ng Ngee Khiang mengatakan, Indonesia menjadi salah satu pasar prioritas pihaknya. “Kami melihat peluang pertumbuhan yang kuat di Indonesia. Roadmap 2026 kami fokus pada kepatuhan TKDN, ekspansi B2B, dan inovasi teknologi hemat energi,” katanya di sela-sela FGD bersama awak media di Bangkok 11-13 Februari 2026.
Dikatakannya, dulu memiliki kandungan lokal tinggi adalah “senjata rahasia” Epson dalam setiap tender. Kini, dengan lapangan bermain yang lebih setara karena aturan dilonggarkan, persaingan pun kian terbuka dan sengit. Epson harus berhadapan dengan lebih banyak pemain di ranah yang sama.
Namun, Epson tidak lantas kecil hati. Perusahaan berprinsip bahwa komitmen pada TKDN tinggi adalah investasi jangka panjang untuk Indonesia, bukan sekadar strategi menang tender.
Lebih dari itu, memproduksi printer dan proyektor secara lokal membuat Epson memiliki nilai kebanggaan tersendiri. Produk-produk ini bukan sekadar barang impor, melainkan perangkat teknologi “Made in Indonesia” yang kualitasnya mendunia.
Sadar proyek pemerintah sedang lesu, Epson dengan sigap memutar setir. Fokus utama kini diarahkan ke dua jalur besar yang sedang panas segmen konsumen langsung dan bisnis antar perusahaan. Strategi ini seperti mencari harta karun di tempat yang berbeda ketika satu pulau mulai surut.
Untuk pasar konsumen, Epson mengandalkan lini proyektor. Tren nonton bareng konten streaming dan bermain game di layar lebar menjadi peluang emas yang terus digarap. Proyektor portabel dan berkualitas tinggi pun disiapkan untuk menyasar kaum urban yang ingin bioskop di rumah sendiri.
Sementara di lini bisnis, Epson membidik UMKM serta para kreator konten. Pertumbuhan pesat sektor ini membuka ceruk baru untuk printer berkualitas tinggi dengan biaya operasional rendah. Efisiensi tinta menjadi kata kunci untuk memenangkan hati para pebisnis rumahan yang mulai naik kelas.(lim)
Editor : Arif Oktafian