SAWIT BERTUAH MEMBAWA BERKAH

Uluan Siregar, Tuah Petani Sawit Tanah Gulamo

Feature | Minggu, 02 Februari 2020 - 12:14 WIB

Uluan Siregar, Tuah Petani Sawit Tanah Gulamo
Uluan Siregar, petani sawit Tanah Gulamo saat dipakaikan baju koko oleh anak pertamanya, Ahmad Arifin Pahu. PANJI AHMAD SYUHADA/Riau Pos

Perjuangan Haji Uluan Siregar (US) bertani sawit dari nol hingga sekarang tidaklah mudah. Jerih payah dan keringat diteteskan untuk mensejahterakan keluarga. US adalah salah satu dari sekian banyak petani sawit yang terbilang sukses. Di usianya yang semakin senja kini, kebun sawit yang diperjuangkannya sejak muda hingga tua akhirnya membawa berkah.

(RIAUPOS.CO) -- CUACA sore hari itu masih terik oleh panas matahari, Ahad (26/01). Tapi hal itu tak mematahkan semangat Haji Uluan Siregar (US) menyirami bibit-bibit sawit muda di pekarangan rumahnya yang resik di bilangan Jalan Duri-Dumai Kilometer 16. Padahal dia baru saja tiba dari perjalanan pulang kampung. Api semangat yang sama itulah yang terus dipeliharanya untuk mensejahterakan keluarganya sejak masa muda dulu. Keringat yang mengucur deras dari pangkal dahi selalu menemani langkah kakinya siang maupun malam hari dalam kehidupannya bertani.

Kala itu, antara tahun 1986-1989, US menginjakkan kaki di tanah Melayu Riau. Mula-mula di daerah Balam Rokan Hilir bersama abang dan adik-adiknya, seterusnya dia lalu mendarat sendirian di wilayah Kulim, kini termasuk Kecamatan Bathin Solapan Kabupaten Bengkalis. Dalam kehidupannya sebelum ini dia biasa berpindah-pindah tempat, dari berbagai wilayah di Sumatera Utara hingga ke Panti, Pasaman, Sumatera Barat. Di tempat yang disebut terakhir ini dia menemukan jodohnya, menikah dan memiliki anak.

Tiba di Riau kala itu, usaha budidaya tani sawit bukanlah tujuan. Sebab, US tidak memiliki basik sama sekali dalam hal tersebut, apalagi modalnya pun ibarat jauh panggang dari api. Bekalnya merantau saat itu hanyalah selembar kaos di badan dan kesediaan bekerja keras. Keterampilan dan pengetahuan yang dikuasainya pun hanya bercocok tanam padi yang diketahuinya sejak dari leluhurnya.

Tapi, Uluan Siregar bukanlah sosok yang mudah patah arang. Saat itu kepalang merantau dia tak mau gagal total dan pulang hampa ke kampung halaman. Apalagi dia masih muda, energik, semangatnya berapi-api untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik. “Keadaan saat itu sangat sulit, semuanya serba merintis. Kalau semangat tak kuat pasti akan segera berhenti,” kenangnya sambil menyiram.

Kulim pada waktu itu masih berupa daerah bukaan seiring dengan pembangunan ruas jalan baru yang menghubungkan pusat Duri ke Duri XIII hingga Dumai. Jadi situasinya masih sangat sepi dan begitu menjanjikan, sesuai dengan kriteria lokasi yang diidamkannya: banyak tanah kosong, pusat pasar tidak terlalu jauh dan sudah ada persekolahan (SDN 27 kala itu, kini SDN 3).

Peluang tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh US. Dia paham semua tanaman bisa dijadikan uang asal bersedia menanamnya. Jadi sebelum dia memiliki modal yang cukup untuk membeli lahannya sendiri, US izin ke empunya tanah untuk merintis bercocok tanam aneka sayur-sayuran. Hasilnya dijual ke Pasar Duri dan duitnya ditabung untuk mengumpulkan modal.

“Saat itu istri dan anak masih ditinggal di Panti, tak mungkin membawa mereka kemari sebelum keadaan membaik,” ungkap US menambahkan.

Dia berkisah lagi, di Kulim itu dia awalnya hanya ingin bertanam padi seperti persawahan di Pasaman dulu. Tapi jenis tanah Kulim tak mendukung untuk maksud itu. Apalagi para perantau yang datang kebanyakan memang bertujuan hendak membuka perkebunan sawit sendiri. Maka demikianlah US juga akhirnya memiliki azam yang sama.

Hanya saja sebelum kebun sawit itu berhasil diwujudkan, US ternyata membutuhkan jalan berliku terlebih dahulu. Mula-mula dia menanam padi darat sebagaimana para perantau lainnya, US lalu melihat peluang baru dengan mendirikan kilang padi (merknya ARF, diambil dari inisial anak sulungnya). Modalnya hanya mesin heller dan dongfeng hasil beli seken. Dia juga menumpang tanah orang untuk tempatnya.

Perjuangannya tidak itu saja, saat siang hari dia melayani pelanggan di kilang, malamnya dia belajar bertanam semangka kepada salah seorang tetangganya yang sudah ahli. Saat itu tanah sangat luas untuk ditanami, meskipun bukan milik sendiri tapi tak ada yang keberatan diolah sepanjang bukan tanaman berat.

Setelah uang terkumpul cukup banyak, US akhirnya membeli tanah untuk menjadi tempat tinggal sekaligus tapak permanen usaha kilang padi miliknya. Sembari itu dia juga beternak ayam dan menanam pucuk ubi, semuanya dengan memanfaatkan ampas sisa penggilingan padi sebagai pakan ternak sekaligus pupuk tanaman. Tanamannya tumbuh subur dan ayamnya gemuk-gemuk, hasilnya laris manis dijual. “Setelah itulah anak dan istri dibawa kemari, dan karena anak-anak sudah masuk usia sekolah merekapun didaftarkan ke SDN 27,” jelasnya kepada Riau Pos.

Kesibukannya yang lain pada periode itu adalah berburu kulit Medang untuk disetor kepada tauke dan dijual ke Medan sebagai bahan anti nyamuk. Dia juga sempat membuka usaha pasir cuci, tapi rencana US masih tetap akan membuka kebun sawitnya sendiri.

Ladang Minyak Tak Menjamin Hidup Layak
Tinggal di areal ladang minyak tak membuat kehidupan US dan warga lainnya menjadi layak. Justru upaya dan usaha lain harus terus dilakukan demi menyambung hidup. Tiga puluh satu tahun keluarga Haji Uluan Siregar menetap di Riau. Sejak awal sampai US berada tak jauh dari ladang minyak Duri, lumbungnya minyak bumi di Kabupaten Bengkalis, Riau.
 

 




Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



EPAPER RIAU POS  2020-04-04.jpg

PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3th floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com