
Jarum jam menunjukkan pukul 12.30 WIB. Matahari di atas Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalankerinci, Kabupaten Pelalawan cukup terik. Di tengah lahan gambut yang retak-retak, 22 petugas gabungan masih berjalan untuk memadamkan api.
PELALAWAN (RIAUPOS.CO) -Sebanyak 8 personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, 6 personel Polres Pelalawan, 4 anggota Manggala Agni, dan 4 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) sudah lebih dua pekan stand by di Desa Rantau Baru ini.
Di tengah terik matahari serta hembusan angin yang bertiup kencang, mereka terlihat sibuk mondar-mondir di pinggir kanal. Mereka kompak berbagi tugas, ada yang menyambungkan selang dan ada pula yang menyemprotkan air.
Meski saat ini seluruh titik api telah berhasil terkendali, namun bara api di dalam lahan gambut itu belum sepenuhnya padam total. Kepulan asap putih yang menusuk hidung dan kerongkongan serta juga membuat mata perih, seolah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka.
Cuaca panas dan kering bercampur asap karhutla sudah menjadi teman para petugas pemadam. Mereka tak kenal lelah, terus berjibaku memadamkan api. Suka dan duka pun berkecamuk menyelimuti mereka. Di bawah langit yang menguning karena sinar matahari terhalang asap, satu di antara petugas damkar (pemadam kebakaran) bercerita soal suka dukanya memadamkan api.
Rudi, 38 tahun. Anggota BPBD Pelalawan ini sudah 10 tahun menangani karhutla. Baju oranye yang menempel di tubuhnya telah memudar. Bahkan sepatu boot-nya sudah bolong sebelah.
Dia mengakui pekerjaan memadamkan kebakaran hutan dan lahan itu memang penuh risiko dan harus rela meninggalkan anak dan istri demi tugas. Pekerjaan itu dia lakukan bersama timnya sedari pagi hingga matahari terbenam.
Menjadi hal yang lumrah selama dua pekan tidak bertemu istri dan keluarga tercinta di rumah. Hal itu, lantaran kondisi api yang membakar lahan gambut belum dapat dipadamkan totalnsehingga mereka harus bersiaga di lokasi.
“Ya, kemarin anak saya video call. Umur 5 tahun. Dia bertanya aayah kapan pulang? Rumah kok asap?. Saya jawab ayah lagi jaga kampung orang biar nggak asap juga ya nak,” tutur Rudi sambil mengisi air ke mesin pompa saat ditemui Riau Pos, Kamis (3/9) kemarin.
Bagi pria berperawakan tinggi berbadan kurus ini, lahan gambut itu musuh yang licik. “Atas sudah padam, gali sedikit asap mengepul lagi. Menang harus sabar. Satu titik bisa 1 jam kami kerjain,” bebernya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




