
Proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Lapangan Minas Area A setahun lalu mulai dicanangkan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Ini proyek mercusuar yang digadang-gadang akan bisa meningkatkan produksi minyak mencapai 12 sampai 16 persen dari Original Oil in Place (OOIP). Proyek ini teramat penting bagi PHR, terutama karena semakin uzurnya sumur-sumur minyak yang ada dan secara otomatis produksi minyak turut serta menurun. Ini ikhtiar, kelak di sumur uzur itu ada harapan dan kedaulatan energi.
Laporan GEMA SETARA, Pekanbaru
LAPANGAN minyak Minas di Kabupaten Siak, Riau telah berproduksi sejak 1952. Lapangan ini merupakan kategori lapangan mature namun masih memiliki potensi cadangan besar di bawah permukaan. Lapangan ini merupakan salah satu aset paling penting dalam sejarah industri hulu migas Indonesia, yang selama puluhan tahun telah berkontribusi nyata terhadap pemenuhan kebutuhan energi nasional.
Lapangan Minas, dikenal sebagai penghasil Sumatra Light Crude memiliki luas wilayah 204,37 Km persegi, dengan 1.243 sumur aktif dan rata-rata produksi harian 29 ribu barel minyak per hari (bph). Seluruh hasil produksi Zona Rokan dialirkan melalui jaringan pipa ke Hydrocarbon Transportation (HCT) Crude Oil Terminal Operation Center di Dumai, sebelum didistribusikan ke kilang Pertamina.
Jenis minyak yang ada di zona Rokan masing-masing minyak berat dari Lapangan Duri. Luas lapangan ini mencapai 67,28 Km persegi ditemukan pada Maret 1941 dan produksi pertama tercapai pada Februari 1954. Jumlah sumur di lapangan ini sebanyak 10,724 dengan jumlah sumur aktif sebanyak 8.741 sumur. Sedangkan total produksinya mencapai 2,7 miliar barel dengan produksi puncak 296.000 barel per hari pada tahun 1995 dengan teknologi yang digunakan injeksi uap (steamflood).
Kemudian, minyak ringan dari Lapangan Minas. Luas lapangan ini mencapai 204,37 Km persegi dan ditemukan pada Desember 1944 dan produksi pertama tercata pada April 1952. Jumlah sumur yang terdapat di lapangan ini mencapai 1.982 dengan jumlah sumur aktif sebanyak 1.243 sumur dengan total produksi 4,8 miliar barel dengan produksi puncak 418.900 barel per hari (Mei 1973). Lapangan ini menggunakan teknologi injeksi air (waterflood)
Enhanced Oil Recocery adalah proses perolehan minyak yang tersisa di dalam reservoir yang tidak bisa diproduksikan secara primary dan secondary recovery dan kemungkinan jumlahnya masih sangat banyak. Sementara itu, metode Enhanced Oil Recocery dengan bahan kimia (alkali, surfaktan, polimer). Injeksi kimia pada pengursan minyak tahap lanjut dikenal juga dengan Chemical Enhanced Oil Recocery (CEOR) pada sumur-sumur mature di lapangan Minas guna meningkatkan produksi.
Secara global, teknologi CEOR telah diterapkan oleh perusahaan-perusahaan energi terkemuka dunia. Keberhasilan CEOR, khususnya pada lapangan mature, membuktikan bahwa inovasi teknologi mampu memperpanjang umur lapangan, meningkatkan recovery factor, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
CEOR dilaksanakan bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan teknis, melainkan manifestasi nyata komitmen negara dalam melaksanakan Asta Cita dan kemandirian energi dalam mengejar target 1 juta barel di tahun 2030.
Baca Juga: Besok PSPS Pekanbaru Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Bidik Kemenangan Beruntun Minta Pemain Tetap Fokus
Kombinasi Tiga Bahan Kimia
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




