KISAH SUKSES HAJI AKIP DAN PESATNYA PERKEMBANGAN DAERAH KARENA SAWIT

Buah Primadona, Penyulap Belantara

Feature | Jumat, 28 Februari 2020 - 15:35 WIB

Buah Primadona, Penyulap Belantara
HM Bachid Madjid didampingi istrinya Hj Sukini menceritakan perjuangannya memulai berkebun sawit sampai pengembangan usaha dan pembangunan pesantren yang dilakukan pada saat ini, di kediamannya di Bagan Batu, pekan lalu. (ZULFADHLI/RIAUPOS.CO)

Hutan belantara itu telah menjelma menjadi kota, daerah yang dulunya sunyi senyap terus  tumbuh berkembang pesat dengan hunian yang padat. Itu semua tidak terlepas dari berkah tanaman sawit. Sawit menyulap dari sebuah lingkungan setingkat RT yang kecil bernama Bagan Batu menjadi kota paling atraktif dan berkembang di Rokan Hilir, Riau dewasa ini.

Laporan  ZULFADHLI, Rokan Hilir

Haji M Bachid Madjid yang akrab disapa Haji Akip merasakan betul bagaimana tuah sawit dalam hidupnya. Pemilik pesantren Al Majidiyah Bagan Batu ini memulai langkahnya dari menekuni bertanam sawit. Sulitnya bukan main memang untuk di awal, bagaimana membuka lahan yang sepenuhya masih asli, berupa semak belukar dengan kayu-kayu besar. Perjuangan membersihan lahan dengan peralatan seadanya, dan dilakukan manual, sangat melelahkan. Ditambah dengan cemoohan orang yang tidak percaya akan pentingnya menanam sawit.

"Ada yang mengatakan bodoh menanam sawit, tak ada gunanya. Belum lagi memikirkan kemana sawit itu nanti dijual, sementara tidak ada penampung atau pabrik di daerah waktu itu," kata H Akip berkisah.

Namun cemoohan itu terangnya tidak membuat patah arang, ia membulatkan tekad untuk dapat menanami sawit dengan baik dan yakin dengan pertolongan Allah bahwa setiap usaha yang dijalani dengan bersungguh-sungguh pasti akan diberikan jalan keluar yang terbaik.

Gayung besambut, dimana sekitar tahun 1982 pemerintah tengah mengalakkan program pengembangan komoditi non migas.

Di Riau, dikomandoi Gubernur Imam Munandar yang menyebutkan bahwa sawit adalah buah primadona, komoditi non migas. Dan Saat itu telah ditetapkan adanya posko yang secara khusus dibawahi oleh pemimpin daerah, mulai dari posko I sampai V.

Untuk posko V dipimpin Gubernur, posko IV Bupati, Posko III Camat, Posko II Kepala Desa dan Posko I oleh Kelompok Tani (Poktan).

Tidak ingin melewatkan kesempatan emas, H Akip turut ikut serta dengan membentuk Poktan Restu Keluarga Posko Opsus Riau Makmur pada tahun 1982.

Berbagai kemudahan diberikan pemerintah, siapa saja yang mau mengelola lahan dipersilahkan selagi sanggup banting tulang.

Jika tak memiliki surat, dokumen yang diperlukan maka akan difasilitasi. Rata-rata pelopor pertama yang ikut dalam poktan itu belakangan hari kata H Akip menjadi jutawan, yang hidup makmur sampai saat ini.

Ia menyebutkan sejumlah nama rekannya seperti Samsul, Ustad Bangiran dan lain-lain. "Artinya mereka yang ulet, bersabar pada waktu itu rata-rata berhasil, namun ada yang tak sabaran, artinya memilih menjual lahan ya tak menjadi (berhasil-red) juga," ucapnya, pekan lalu di kediaman.

Lahan yang luas, dimanfaatkan para peminat dengan ulet. Sistemnya memang benar-benar loss, artinya siapa yang kuat bekerja tak ada masalah. Asalkan tidak saling berselisih atau ada saling klaim antar petani.

Kondisi itu membuat setiap orang dapat mengelola lahan yang luas, seberapa sanggup. Ada yang punya lahan 30 hektare (ha), bahkan lebih.

Untuk surat pun terang H Akip dibantu, salah satunya dukungan dokumen dari camat Kubu (Waktu itu Bagan Batu di bawah Kecamatan Kubu -red).

Sebagai perpanjangan tangan pemerintahan tingkat kecamatan Kubu, terdapat perwakilan di Bagan Batu.

Selain kemudahan dalam pengelolaan lahan, Haji Akip menuturkan, para petani yang tergabung poktan mendapatkan bantuan penyuluhan juga dari PTPN IV.

Bagi yang antusias menyambut program itu rela menumbangkan tanaman lain seperti sayuran untuk memberikan pertumbuhan yang baik bagi sawit.

H Akip tak kalah semangat, saban hari terangnya urusan ke lahan. Membersihkan lahan, menebang, untuk bolak-balik mengunakan motor trail. Motor yang butut, dengan busi bisa dilepas, itu tak pernah bersih, selalu lusuh dan berlumpur karena dipakai. Ia tak hirau jika motor tersebut bakal diembat maling karena parkir di luar.

"Pokoknya setiap pulang ke rumah, saya letakkan di samping kandang ayam, tak pernah masuk karena kotor terus," katanya terkekeh.

Sebagai orang pertama yang menanami sawit di daerah itu dengan penuh tunak, perlahan memperlihatkan hasil yang mengembirakan Sehingga lokasi kebunnya yang dulu merupakan paling jauh untuk diakses sekarang bisa dikatakan sebagai kebun yang paling dekat seiring pesatnya pemukiman penduduk.

Pada 1984, program transmigrasi menyasar daerah itu. Dengan pembagian sistem paket A, B, dan C. Masyarakat memang masih sedikit, untuk sekelas RT seperti sekarang pun masih terlalu kecil karena diperkirakan hanya 20-30 KK saja.

Kehadiran transmigran disambut baik masyarakat setempat, dan bersatu padu dengan pendatang dalam mengelola lahan sesuai dengan peruntukan masing-masing.

Dukungan Pemerintah Gelorakan Sawit
Selain dari dukungan sarana prasarana, pelatihan atau penyuluhan, bebasnya kepemilikan lahan tanpa batasan pada waktu itu membuat peminat program penanaman sawit banyak.

Prinsipnya adalah siapa yang sanggup membuka lahan, asalkan kuat dan memang dirawat maka berapa luas tak menjadi masalah. Tak heran jika petani yang bergelut pada masa itu mendapatkan lahan sekian-sekian hektar, di tambah dengan lahan dari kelompok tani maka bisa mencapai puluhan hektare (ha).

Istilah kata Haji Akip modal dengkul, selagi kuat mengurus lahan maka harus dapat bertanggung jawab menjaga kebun sebaik mungkin.

Disamping sebagai daerah yang baru dibuka, Bagan Batu bak kumpulan gula yang menarik semut, karena tanahnya sangat subur dan gembur. Penuh dengan unsur hara. Apapun yang ditanam tumbuh dengan baik.

"Ubi di tanam subur, memanennya pakai truk. Malahan tak sanggup orang memanen lagi saking banyaknya, semangka besar-besar. Menanam padi pun istilahnya main lempar saja bibit sambil dibawa berlari, tinggal di siram, menjadi juga. Saya ingat, Dullah (Abdullah-anggota DPRD Rohil kini), kecil ikut menanam padi di ladang bapaknya, begitu juga sumber air bersih dan jernih," Haji Akip mengenangkan.  

Begitu juga papaya dan semangka, bahkan rata-rata berukuran jumbo. Pada masa itulah ia pernah mengetahui adanya klaim dari pemerintah pusat bahwa perkebunan di Bengkalis,saat itu Rohil belum terbentuk, merupakan daerah yang terbaik untuk perkebunan sawit.

"Luar biasa, perkembangannya. Karea kondisi tanah sangat bagus, apapun ditanam menjadi, maka banyak daerah orang begitu juga yang dari program transmigrasi mengantungkan hidup di sini (mengolah lahan-red)," katanya.

Tahun 1985 lanjutnya sudah nampak kebunnya, buah sawit yang besar.

"Saya lakukan panen bersama Hasan, dengan membawa hiluk lama, buah panen yang besar saya bawa balik ke rumah dan oh Tuhan….besar hati saya, bukan main…" cetus Haji Akip.

Ia sempat masygul memikirkan ke mana buah sawit yang siap panen itu akan dijual?, akhirnya dengan membulatkan tekad ia membawa Tandan Buah Segar (TBS) Sawit itu menuju ke kota Pinang, di Labuhan Batu Selatan, Sumut.

Ada sebuah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di sebuah tempat yang mengarah ke daerah yang sekarang sudah berpisah menjadi daerah Torgamba.

Akses jalan lintas masih terbatas, membuat perjalanan membawa TBS berlangsung lama.

Untunglah Haji Akip bersyukur, ada pabrik yang buka dan bersedia membeli.

"Waktu itu kalau tak salah harganya Rp150 – Rp200 rupiah perkilo," katanya mengingat. Bukan main gembira dan bersyukurnya Haji Akip karena dari penjualan itu mengantongi uang yang tak sedikit, di masa itu sekitar Rp.1.5 Juta. "Membawa duit sebanyak itu rasanya melonjak-lonjak saat jalan pulang ke Bagan Batu," serunya.

Selanjutnya pada tahun 1992, harga sawit terus meroket. Bahkan pernah mencapai Rp1.800. Pada masa ingatnya, betapa para petani sawit seolah berlomba membangun rumah.

Mengisi rumah dengan perabotan yang serba wah, bahkan pernah satu truk sepeda motor yang baru sampai di tempat pengusaha motor langsung habis diserbu petani sawit.

"Ada pengusaha namanya Ationg, pernah laku Honda sebanyak 320 unit dalam jangka waktu satu bulan," bebernya.

Saat terjadi Krisis Moneter (Krismon) tahun 1998, harga sawit di daerah bergeming. Malahan cenderung naik.

Makanya terang Haji Akip dirinya agak heran mengapa sekarang tren harga sawit tidak lagi mengikuti dollar, padahal pada masa 98 harga sawit tinggi mengikuti nilai tukar yang ada.

Kenyataan tentang mulai berjayanya petani-petani sawit di Bagan Batu menjadi buah bibir yang menarik minat bagi banyak orang untuk mencoba peruntungan di kota sawit tersebut.

Banyak orang yang akhirnya memutuskan pindah ke Bagan Batu, baik dari daerah Rohil sendiri maupun dari luar daerah terutama dari Sumut dan Jawa.

"Ada orang yang rela menjual rumah yang ditempati demi mendapatkan lahan atau membuka kebun di Bagan Batu," kata Haji Akip.

Keberhasilan Berawal dari Bibit yang Baik
Pria yang pernah menjadi Ketua LKMD ini menambahkan seiring dengan mengeliatnya sektor perkebunan itu membuat program pembangunan infrastruktur terpacu. Jalan dua jalur mulai di bangun, penduduk meningkat, pusat pertokoan dan perbelanjaan hadir. Sampai saat ini di Rohil hanya di Bagan Batu terdapat pusat perbelanjaan sekelas plaza.

Menyikapi perkembangan yang ada Haji Akip membangun rumah makan yang cukup maju pada masanya, RM Restu Keluarga.

Dari sebuah desa, nama Bagan Sinembah berganti menjadi kecamatan sementara Bagan Batu yang awalnya sebuah RT perlahan-lahan tumbuh menjadi sebuah kota baru.

Camat Wan A Syaiful dipercaya memimpin Bagan Sinembah, salah seorang putra daerah Kubu.

Kendati tidak memiliki pendidikan khusus berkaitan dengan bidang pertanian/perkebunan, Haji Akip piawai menentukan bibit yang bagus dan kemampuan inilah membuat keberhasilan kebunnya.

Mendapatkan penyuluhan singkat, serta ditempa pengalaman bergelut langsung dengan kenyataan di lapangan membuat Haji Akip paham bagaimana mulai membibit, menyeleksi bibit yang baik, cara menanam yang tepat, panen sampai pemeliharaan sawit secara berkelanjutan.

"Tanda bibit bagus, untuk bakal akar berwarna coklat dan daunnya runcing," kata Haji Akip berbagi resep.

Matang dalam tempaan pengalaman itulah membuat dirinya menjadi tempat bertanya banyak orang, bahkan ada seorang professor yang menimba pengalaman dirinya mengenai bercocok tanam sawit tersebut.

Proses seleksi terangnya dilakukan setelah bibit berumur tiga bulan. Dari seluruh bibit yang ada, dilihat mana daun yang terlalu tinggi dan yang terlalu pendek, maka untuk bibit dengan dua tipikal ini dibuang. Yang diambil adalah yang berdaun sama panjang.

Kendati terlihat sepele, namun ketelitian dalam proses pembibitan ini merupakan tolok ukur penting yang mempengaruhi akan keberhasilan tanam sawit.

Menentukan bibit yang baik menurutnya adalah langkah pertama dan menentukan keberhasilan, jika bibit tak bagus seperti apapun cara penanaman dan pemupukan takkan membuahkan hasil yang maksimal.

"Untuk panen sebenarnya dalam hitungan 32 bulan sudah ready perdana, tapi sekarang sekitar 4-5 tahun, tentunya itu karena proses perawatan yang tak optimal. Padahal dalam menanam sawit harus diperhatikan bagaimana penanggulangan hama, kemudian terkait dengan pupuk dan yang terpenting ya itu tadi, soal bibit yang harus baik, jangan ambil bibit yang tidak diseleksi," katanya.

Tanpa ekstra teliti, maka penanaman sawit berpotensi setengah gagal. Artinya walaupun tanaman tumbuh dan berbuah, namun produksi yang dihasilkan sangat minim. "Orang dapat satu ton, awak bisa hanya 200 kilo, kalau asal-asalan," ucapnya.

Berkebun sawit bukan tanpa tantangan lanjutnya, tantangan berat adalah pada periode dimana mulai marak terjadi aksi Pembakaran Hutan atau Lahan (Karhutla).

Aksi instan untuk membuka dan membersihkan lahan dengan cara dibakar itu membuat petani sawit yang sedang dalam periode perawatan, panen menjadi kelimpungan.

Mereka harus berjaga-jaga agar apa segala jerih payah yang sudah dilakukan selama ini tidak binasa di lalap si jago merah. Dalam kejadian kebakaran lahan, biasanya memakan luasan yang tak sedikit apalagi penanggulangan yang masih seadanya. Kebakaran lahan bisa berlangsung selama berhari-hari, menunggu turun hujan atau api mati dengan sendirinya.

Pada musim marak pembakaran lahan katanya, hampir setiap hari terdengar ada lahan orang yang terbakar maupun sengaja dibakar pemiliknya sendiri.

"Kecuali pada 17 Agustus saja, tak ada api. Begitu selesai hari penting itu, ada lagi kejadian," katanya mengenangkan. Masa yang gawat itu dilewati haji Akip dengan menunggu lahannya agar tak menjadi korban.

"Pernah saya dua pekan tak balik-balik, menjaga api di tanah orang. Jangan sampai merangsek ke kebun kami, tanah di perbatasannya pernah kami korek membuat embung air, agar api tidak lewat," ucapnya.

Pernah juga tambahnya sebagian lahan kebun terkena api, namun ia bersyukur hal itu tidak sampai membesar dan tanaman sawit, tidak sampai mati.


Tommy Sihombing (Ketua Apkasindo Rohil)

Berazam Meninggikan Syiar Agama
Nikmat rezeki yang diperolehnya, membuat pria tamatan SMEA ini ingin berbuat lebih banyak, sebagai pribadi muslim yang bermanfaat lebih luas bagi masyarakat, termasuk berupaya meninggikan syiar agama Islam.

Dalam bidang politik, ia berkecimpung dan sempat mengemban kepercayaan dari masyarakat dengan duduk sebagai Anggota DPRD Rohil beberapa periode. Namun pada, pada pileg serentak 2019, Haji Akip tidak terpilih saat mencalon sebagai anggota DPRD Tingkat Propinsi Riau.

Selain itu dia menjadi Ketua DPC Partai Persatuan Pembanguna (PPP) Rohil, dan saat ini masih menjadi ketua untuk periode kedua, secara berturut-turut.

Berpadulah dalam diri Haji Akip akan kegigihan seorang petani, kelasakkan sebagai perantauan. Politikus lokal dan konsen pula dalam bidang agama.

Ia membangun pesantren di lahan yang sebelumya berisi tanaman karet. Kini di atas lahan yang mencapai 14 hektare lebih berdiri pesantren, tidak hanya dilengkapi ruang kelas, fasilitas penunjang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), termasuk asrama lengkap putra dan putri.

Setiap gedung diberi nama untuk mengenang orang tuanya, ada gedung Siti Mariam sebanyak 32 lokal untuk pendidikan tingkat MTs dan Aliyah. Ada gedung Majid terdiri atas 60 lokal. Nama tersebut mengacu pada nama ayahnya H Abdul Majid dan ibunya Hj Siti Mariam.

Ada pula gedung Sakinah, untuk asrama putri 60 lokal, nama ini mengacu pada nama istrinya Sukini. Dan terkakhir gedung Muhammad terdiri atas 48 lokal. Nama ini mengacu pada nama panggilan M Bachid Madjid sewaktu kecil.

Di bagian depan yang berdekatan dengan gerbang masuk pesantren dibangun masjid beberapa tingkat, yang dalam desainnya akan dilengkapi lift.

Sementara di sebelah belakang pesantren, terdapat juga gedung bertingkat yang dikhususkan menjadi tempat mendaras, menghafal al quran.

Para santri yang masuk dalam program ini menjalani proses ‘karantina’ selama jangka waktu tertentu. Sesuai dengan tahapan yang ingin dicapai, mulai dari satu juz, maupun hingga lengkap 30 juz.

"Saya lillahi taala untuk pendidikan dan Islam, tidak ada lagi keraguan. Kalau dulu mungkin masih menimbang-nimbang, kalau sekarang sudah tidak. Insya Allah apa yang diperjuangkan di jalan Allah saya serahkan," kata Haji Akip.

Dalam upaya syiar itulah selain menyelenggarkan aktifitas pendidikan, kini pondok pesantren Al Majidiyah Bagan Batu mengelar MTQ Se-Sumatera, yang diikuti pesantren dari wilayah sumatera seperti Sumut, Sumbar, Aceh, Riau dan Jambi. Tercatat 1000 lebih peserta sudah terdaftar pada ajang yang akan dimulai pada pertengahan Maret ini.

Sementara, jika menyasar ke luar, dari belakang areal pesantren, lewat jalan yang sedikit menanjak, akan ditemukan ruko bertingkat yang terdiri atas beberapa pintu.

Di dalamnya terdapat berbagai unit usaha mart, mulai makanan, barang-barang, pangkas dan sebagainya. Ini merupakan salah satu sayap usaha yang dikembangkan Haji Akip melibakan peran serta anak-anaknya. Mengusung brand, Majid atau Majidiyah, sejumlah unit usaha milik Haji Akip mudah dilihat di Kota Bagan Batu.

Selain itu, terdapat sebuah bangunan masjid yang masih dalam tahap pengerjaan persis di pinggiran jalan Lintas Sumatera. Tak cukup disitu, dirinya jauh hari telah membangun hotel di jantung kota yang diberinya nama Hotel Fauziah, mengacu pada nama salah satu anaknya.

Sukses di luar, ia juga sukses membina keluarga, anaknya sebanyak delapan orang. Satu orang wafat dan tujuh lainnya ada yang sudah sarjana, strata dua dan yang terkecil masih kuliah. Salah satu anaknya kini mengabdi di tengah masyarakat sebagai Kepala Puskesmas di Bagan Sinembah Raya.  

Menyadari akan tuah sawit yang tak terhingga, Haji Akip getol mengupayakan program bantuan bibit sawit bagi masyarakat. Hal itu dia canangkan sewaktu menjadi anggota DPRD Rohil dari PPP, program bantuan bibit sawit tersebar kepada masyarakat yang diberikan secara cuma-cuma. Banyak orang yang terbantu dengan program itu.  

Ia mengaku hanya focus untuk pengembangan yang berkaitan dengan sawit saja dibandingkan potensi perkebunan atau pertanian dari jenis lain, disamping karena merupakan pengalaman hidup yang dirasakan sendiri, juga karena menyaksikan betapa banyak orang yang sukses besar karena bertanam sawit.

"Ada namanya Ratin, yang saat datang hanya membawa celana dan baju sepasang, dan yang dipakai di badan. Sekarang menjadi toke besar, ada Daman yang asalnya tukang babat, setelah dibantu bibit sawit dan berkebun menjadi sukses, dan banyak lagi," kata H Akip. Menurutnya asalkan kuat tenaga, lalu memiliki ketahanan dan kesabaran tinggi maka tak ada jalan apa yang di tanam tidak menjadi.

"Saat ini perkembangan di Bagan Batu atau Bagan Sinembah, pertumbuhan yang pesat, pembangunannya tidak bisa ditampik karena sawit," cetusnya.

Roda perekonomian yang bergerak kencang itu membuat dalam hitungan 10 tahun lebih, daerah setingkat RT tersebut diajukan menjadi kecamatan.

Tahun 1992 usulan peningkatan status diajukan dan pada 1993 resmi menjadi Kecamatan Bagan Sinembah.

Perlu Regulasi Lindung Petani
Potensi luar biasa sawit, berarti menyangkut hajat hidup orang banyak. Haji Akip mengharapkan pemerintah memberikan perhatian terhadap sawit dari hulu hingga ke hilir. Mulai dari perlunya campur tangan pemerintah dalam hal standarisasi harga TBS, agar melindungi petani sawit tidak menjadi korban spekulan atau tengkulak.

"Perlu ada standarnya, kalau tidak petani tidak akan berdaya menghadapi mafia buah, harga ditentukan secara sepihak," katanya.

Disisi lain masih banyak yang dapat dikembangkan terkait dengan sawit, untuk turunan industri hilir diperkirakan terdapat 33 yang dapat dikembangkan seperti sabun cuci, sabun mandi, mentega, bio solar dan seterusnya. Cangkang sawit juga memiliki nilai ekonomis.


Rohil Suwandi SSos (Kepala DLH)

Berkembang Pesat Karena Sawit
Jika melihat kota Bagan Batu pada saat ini, sulit dibayangkan dulunya terbentuk dari sebuah lingkungan setingkat Rukun Tetangga (RT) saja. Namanya adalah RT 07 Bagan Batu dengan ketua RT Syahrudin, desa Bagan Sinembah Kecamatan Kubu, Kabupaten Bengkalis. Selaku kepala desa Wan M Noor.

Kini daerah asal itu berada di wilayah Bagan Sinembah Raya, yang merupakan kecamatan pemekaran dari induk, Bagan Sinembah.

Pesatnya pembangunan yang ada di Bagan Sinembah pada masa telah terbentuknya Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) memaksa dilakukannya pemekaran baru-baru ini, sehingga di wilayah yang sama yang dulunya hanya satu kecamatan menjadi tiga kecamatan yakni Bagan SInembah, Bagan Sinembah Raya dan Kecamatan Balai Jaya.

Dalam berbagai hal Bagan Sinembah secara khusus, maupun mencakup tiga wilayah ini adalah barometer di Negeri Seribu Kubah.

Berdasarkan data publikasi BPS Rohil, (Rohil Dalam Angka 2018), secara luas wilayah Bagan Sinembah berada di bawah Tanah Putih.

Luas wilayah kecamatan tahun 2017, Bagan Sinembah 847,35 atau sekitar 9,54 persen. Di bawah Tanah Putih 1915,25 atau 21,56 persen, Pujud 984,90 setara. 11,09 persen.

Pada jumlah desa/kelurahan berdasarkan pada klasifikasi wilayah perkotaan dan perdesaan menurut kecamatan di Rohil 2017, Bagan Sinembah memperlihatkan pesatnya kemajuan dimana untuk perkotaan/urban sebanyak 12, sedangkan tanah Putih hanya 1, Basira 1, palika 2 sementara Bangko sebagai tempat di mana terdapat Ibu Kota Rohil hanya 6 saja.

Untuk jumlah penduduk pun Bagan Sinembah terbesar, namun menyusul pemekaran yang mengakibatnya pecahnya menjadi tiga kecamatan maka tingkat kepadatan ini otomatis menurun.

"Kepadatan penduduk perkilometer menunjukkan Bangko diposisi pertama 176 jiwa per-KM2, dimana untuk jumlah jiwa di Bangko 83,679 jiwa sedangkan Bagan SInembah 77,125 jiwa, Tanah Putih 70,933 jiwa, dan Bangko Pusako 64, 713 jiwa," terang Kepala BPS Rohil Encep Wagan.

Sementara masih mengacu pada publikasi BPS, untuk produksi tanaman perkebunan menurut jenis tanam dan kecamatan di Rohil 2017, untuk produksi sawit dalam ton, maka Tanah Putih sebanyak 53,903,08, Bagan Sinembah 48,900, Basira 44,882,26, dan Balai Jaya, 28,303,92.

Eksistensi sawit tersebut menarik perhatian pusat, dan pada 2018, presiden RI Joko Widodo hadir di Rohil untuk mendukung program peremajaan/replanting.

Jokowi tiba pada Rabu (9/2), kunjungan itu mendapatkan respon yang luar biasa dari masyarakat khususnya pengiat sawit karena dalam sepanjang keberadaan daerah baru pada saat itu hadir orang nomor satu Indonesia.

Rohil secara umum menjadi daerah dengan luasan sawit yang luar biasa, dari 2 Juta Ha lebih kebun sawit di Riau, 11,62 persen atau 281.793 ha ada di Rohil.

Untuk replanting salah satunya di Kepenghuluan Suka Maju dan Pelita, dengan sasaran seluas keseluruhan di tingkat kecamatan 420 Ha.

Bupati Rohil H Suyatno AMp menyambut baik kepedulian presiden terhadap pemberdayaan sawit masyarakat.

"Terimakasih banyak dengan adanya kepedulian bagi masyarakat," kata Suyatno kala itu.

Hermanto SSos, yang waktu itu menjabat Kabag Humas Pemda Rohil menerangkan pada 2019, melalui Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, pusat telah memprogramkan peremajaan dan penanaman perdana Sawit rakyat seluas 2.677 Ha, pada empat kecamatan yaitu Balai Jaya seluas 500 Ha, Bagan Sinembah 327 Ha, Tanah Putih 1.250 Ha dan Kecamatan Sinaboi seluas 600 Ha.

Pembinaan dan Pengawasan Berkelanjutan
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Rohil Tommy Sihombing mengaku tepat jika kota Bagan Batu dijuluki kota sawit, mengingat perkembangan yang ada tak terlepas dari pengelolaan buah primadona tersebut. Dirinya berharap agar pemerintah dapat menjembatani pengelolaan sawit dengan tepat.

Apkasindo turut mendorong hal itu dengan mengiatkan peningkatan kemampuan bagi anggota baik secara langsung maupun kegiatan organisasi.

"Selain itu penting pengawasan lahan terutama yang berupa gambut agar tidak terjadi kebakaran," katanya.

Apkasindo yang memiliki anggota sekitar 3000 orang ini berupaya menjadi pihak yang memberikan kontribusi nyata bagi khususnya petani sawit sehingga apa yang menjadi kendala akan diperjuangkan lewat organisasi. Termasuk untuk program replanting.

"Ya untuk Rohil, hampir 40 persen merupakan tanaman tua yang berusia diatas 25 tahun, perlu pemerintah sosialisasikan peremajaan khusus pada lahan masyarakat yang swakelola untuk diremajakan dengan pemanfaatan bibit unggul," kata Tommy.

Ia menambahkan disamping itu perlunya terobosan baru agar pemerintah lebih menguatkan kelembagaan petani untuk mendorong pembangunan pengolahan sawit agar dapat wujud sebagai bahan jadi.

Program Replanting terangnya merupakan salah satu sektor yang tepat untuk mendongkrak sawit berkelanjutan. Namun yg harus diketahui juga, program ini harus mempunyai sasaran yang tepat. Tepat lahan, administrasi.kelembagaan, spefikasi tehnis pengelolaan dan tidak dalam kawasan.

"Untuk petani swadaya ini ada beberapa point yang  menjadi kendala, dan untuk untuk anggota Apkasindo sejauh ini yang telah mengikuti program PSR ada sekitar 680 ha, dan sedang dalam tahapan pengajuan 240 ha," pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rohil Suwandi SSos membenarkan penting pengawasan terkait dengan hal yang bisa berdampak lingkungan terutama kegiatan yang dilakukan Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

"Untuk pengawasan, setiap tahun dilakukan. Pengawasan secara berkala," katanya.

Dicontohkan beberapa waktu lalu terdapat sejumlah PKS yang sempat mendapatkan sanksi administrasi, dan sampai penghentian operasional selama beberapa hari.

Langkah itu terangnya dilakukan sebagai upaya memastikan tidak ada lingkungan yang rusak atau tercemar karena aktifitas yang tak tepat.

Besarnya potensi sawit di Rohil tercermin dari jumlah pabrik yang ada, saat ini jumlah PKS yang telah beroperasi mencapai 28 buah dan yang akan beroperasi lagi ada tiga buah.

Dengan jumlah sebanyak itu dan tersebar di berbagai lokasi, ia mengajak masyarakat turut mengawasi dengan menyampaikan informasi kepada dinas jika ada kegiatan yang diduga berpotensi pada terjadinya pencemaran lingkungan.Sehingga kualitas lingkungan dapat terjaga dengan baik sesuai dengan baku mutu yang ada.***






Tuliskan Komentar anda dari account Facebook


Achmad - Idul Fitri

UIR PMB Berbasis Rapor

Pelita Indonesia

EPAPER RIAU POS  2020-06-02.jpg

PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3rd floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com