Berjuang demi Nyawa di Negeri Seribu Parit

Feature | Sabtu, 28 Desember 2019 - 11:17 WIB

Berjuang demi Nyawa di Negeri Seribu Parit
PERIKSA LANSIA: Rosmiati memeriksa lansia yang berobat kepadanya, beberapa waktu lalu.(MUHAMMAD AMIN/RIAUPOS)

Mereka harus bertaruh nyawa saat bersalin. Apalagi di kawasan-kawasan terpencil dan tertinggal. Salah satunya di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Kawasan berpulau dengan julukan Negeri Seribu Parit ini masih minim infrastruktur dasar dan kesehatan. Untunglah hadir pejuang dan penyelamat nyawa ibu dan anak di sana dengan sejumlah ide dan inovasinya.

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) -- Harmi (30) harus ditandu selama setengah jam sebelum sampai ke ambulans desa berupa pompon (sampan bermesin tempel). Ibu hamil yang mengalami pendarahan (retensio plasenta) ini harus dirujuk ke RS Raja Musa Guntung, yang kemudian dirujuk lagi ke RS Puri Husada Tembilahan dengan waktu tempuh tiga jam. Tandu yang membawanya benar-benar darurat, yakni beberapa kain panjang yang dikaitkan dengan bambu. Di dalam kain panjang itulah sang ibu hamil tergolek. Beberapa pria membawa tandu darurat itu, plus perlengkapan medis seperti tabung infus. Jalan becek, berlumpur, penuh ilalang dan semak jadi jalur pengangkutan tandu itu. Harmi masih beruntung karena ada ambulans desa yang bisa dipakai. Sebab, jika tidak, nyawanya mungkin tak tertolong. Sebab, kondisinya tak mungkin bisa ditangani oleh bidan desa karena peralatan medis yang tidak memadai. Setelah sampai di RS Puri Husada Tembilahan, dia mendapatkan pelayanan lebih baik dan melahirkan bayi kembar perempuan. Ibu dan bayinya pun selamat.

Kisah Harmi terjadi di Parit Satria Jaya Desa Gembaran, Kecamatan Teluk Belengkong, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Rosmiati, Bidan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Tunggal Rahayu Jaya, Kecamatan Teluk Belengkong, tetangga desa itu, turut membantu. Di desanya memang sudah ada program ambulans desa yang digagasnya.

Rosmiati menyebutkan, ketika pertama kali bertugas di Desa Tunggal Rahayu Jaya, pada 2008, angka kematian ibu dan bayi relatif tinggi. Dalam setahun, terdapat rata-rata dua ibu dan atau dua bayi yang meninggal saat proses persalinan.

"Angka ini relatif tinggi dan sangat mencemaskan," ujar Rosmiati kepada Riau Pos, Rabu (25/12).

Rosmiati mengidentifikasi, salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu dan bayi saat proses persalinan adalah faktor jarak dan waktu. Beberapa kondisi ibu melahirkan memang tidak bisa ditangani bidan saja, tapi harus dirujuk ke rumah sakit.




Beberapa alasan yang paling sering ditemukan pada ibu hamil (bumil) berisiko tinggi (risti) saat melahirkan adalah anemia. Jika anemia, maka risiko pendarahan cukup tinggi dan perlu dirujuk ke rumah sakit. Angkanya mencapai sekitar 25 persen. Berikutnya adalah keracunan dalam kehamilan atau preeklamsia. Risiko bumil ini mencapai 20 persen. Yang lainnya adalah sungsang. Tapi kondisi sungsang relatif jarang, hanya sekitar satu orang per tahun. Itu pun belum tentu.

"Kalau kondisi itu terjadi, dan terlambat dirujuk, maka risiko kematian sangat tinggi," ujar Rosmiati.

Masalahnya, rumah sakit jaraknya relatif jauh. Yang terdekat adalah Rumah Sakit (RS) Raja Musa di Guntung, Kecamatan Kateman. Jarak dan waktu tempuh ke sana mencapai dua jam menggunakan jalan darat, plus penyeberangan pompong (sampan mesin) sekitar sepuluh menit. Jika menggunakan kendaraan roda dua, kendaraan dapat dibawa ikut ke atas pompong dan dibawa ikut menyeberang.

Ketika kondisi hujan, maka tidak bisa dibawa menggunakan sepeda motor. Sebab, jalan yang becek tidak memungkinkan untuk membawa bumil ke rumah sakit. Kondisi jalan sebagai infrastruktur dasar memang belum benar-benar merata karena banyaknya desa-desa terpencil dan terisolasi di sana. Belum lagi banyaknya parit, lahan gambut yang basah, dan kontur tanah yang labil. Dalam kondisi itu, pasien harus dibawa menggunakan kapal cepat (speedboat). Waktu tempuh memang lebih cepat, yakni sekitar satu jam, tapi biayanya lebih mahal.

Jika kondisi pasien sudah parah dan hanya dapat berbaring, maka pasien harus dibawa menggunakan pompong yang harus dicarter (disewa). Pasien juga harus dirujuk ke RS Puri Husada Tembilahan karena peralatannya lebih lengkap. Begitu juga dokter dan tenaga medisnya. Tapi biayanya tentu lebih mahal. Mencarter pompong ke Tembilahan di siang hari diperlukan dana Rp2,5 juta. Jika kondisinya memaksa bumil dibawa pada malam hari, maka ongkos carter lebih mahal lagi, yakni Rp3 juta. Padahal, jika menggunakan angkutan reguler, hanya diperlukan Rp150 ribu untuk satu orang dengan waktu tempuh tiga jam perjalanan.

"Kadang ketiadaan biaya, keterlambatan, dan kurang antisipasi lainnya menyebabkan pasien dan bayinya meninggal," ujar Rosmiati.

 




Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

TERBARU



EPAPER RIAU POS  2020-03-28.jpg

PT. Riau Multimedia Corporindo
Graha Pena Riau, 3th floor
Jl. HR Soebrantas KM 10.5 Tampan
Pekanbaru - Riau
E-mail:riaupos.maya@gmail.com