Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Melihat Tradisi Pacu Jalur di Kuantan Singingi: Simbol Marwah atau Kehormatan Desa Itu Bernama Jalur

Helfizon • Senin, 8 Juli 2024 | 08:48 WIB
Khaerun (63 , seorang tukang pembuat jalur yang andal sedang membuat jalur bernama Pangeran Keramat Tangan Biso, Desa Kampung Baru Sentajo Kec. Sentajo Raya Kuantan Singingi, Sabtu (7/6/2024).
Khaerun (63 , seorang tukang pembuat jalur yang andal sedang membuat jalur bernama Pangeran Keramat Tangan Biso, Desa Kampung Baru Sentajo Kec. Sentajo Raya Kuantan Singingi, Sabtu (7/6/2024).

Jalur adalah salah satu alat transportasi air masyarakat Kuantan Singingi. Perahu yang terbuat dari kayu gelondongan ini dulu biasa digunakan sebagai alat perhubungan dan perdagangan, akan tetapi seiring waktu jalur berubah fungsi menjadi sarana lomba sejak sebelum Indonesia merdeka. Sekarang dilakukan untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Jadi, Pacu Jalur adalah sebuah perlombaan mendayung di Sungai Kuantan menggunakan perahu panjang yang terbuat dari pohon kayu.

Laporan HELFIZON ASSYAFEI, Telukkuantan

KHAIRUN (63 tahun) mengayunkan kapaknya. Membersihkan sisa-sisa kulit kayu Meranti yang belum lama diambil dari hutan lindung desa. Irun bersama 4 pekerja lainnya sedang mendapat ‘proyek’ pembuatan jalur baru Desa Kampung Baru Sentajo Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi. Jalur yang lama sudah banyak rusak dan dianggap tak layak lagi berpacu di arena tepian Narosa Telukkuantan.

Irun tukang jalur yang sudah terkenal dari Inuman, sebuah kecamatan di Kuansing. Dari tangan dinginnya telah lahir sejumlah jalur yang pernah menjadi juara di Tepian Narosa yang merupakan event puncak pacu jalur di Kuansing. Antara lain Siposan Rimbo, Sialang Soko dan lain-lain. Memulai karier tahun 1999 setelah sebelumnya hanya membuat perahu bermuatan 9 orang.Baca Juga: Bawang Bombai Mengandung Vitamin B6, Vitamin B9, Vitamin C, Folat, dan Potasium, Simak 7 Manfaatnya

Berbekal pengalaman itu Irun mengikut Rusli pamannya yang sudah biasa membuat jalur pacu. Seiring berjalannya waktu Irun menjadi mahir dalam pembuatan jalur. Ia menjadi kepala pembuatan jalur yang membawahi beberapa anggotanya. Sejak beberapa jalur buatannya bisa merajai sejumlah arena pacu jalur di Kuansing, Irul semakin terkenal dan kerap dipakai jasanya untuk pembuatan jalur baru.

Kepada Riau Pos, Irun menjelaskan bahwa panjang perahu jalur ini bisa mencapai 25 hingga 40 meter dengan garis tengah 1-2 meter dan diisi 40-60 orang. Untuk mencari kayu dengan ciri-ciri di atas memanglah sangat sulit, karena tidak hanya besar dan panjang, kayu untuk pembuatan jalur juga tidak sembarangan, kayu harus memiliki batang yang padat tidak memiliki batang yang busuk.

Selain itu kayu jalur tidak boleh memiliki tekstur terlalu keras dan terlalu lunak, karena jika jalur keras maka jalur yang akan digunakan tidak akan laju dan jika terlalu lunak, maka jalur akan cepat lapuk. Pembuatan jalur paling cemat memakan waktu dua minggu. Saat ditanya apa nama jalur baru yang dibuat itu, Irun lalu mengisahkan sejarahnya. Nama jalur baru itu tetap nama sebelumnya yakni Pangeran Keramat Tangan Biso.Baca Juga: Jelang Semifinal, Ini Kandidat Kuat Peraih Sepatu Emas Euro 2024 Jerman

Dulunya nama jalur Desa Kampung Baru Sentajo ini adalah Somuik Api dan bukan dia yang membuatnya. Namun kenyataannya setelah berpacu hampir tiga tahun di berbagai event pacu jalur mulai dari kecamatan hingga tingkat kabupaten tak pernah sekalipun menang. Hal ini membuat Kades dan warga bersepakat membuat jalur baru dan juga nama baru.

Lalu Kades menghubungi Irun beberapa tahun yang lalu sekitar tahun 2014. Bersama tiga orang rekannya Irun bekerja membuat jalur baru dan sekaligus juga memberi nama baru pada jalur desa itu. Nama jalur yang semula Somuik Api ditukar menjadi Pangeran Keramat Tangan Biso. Sejak itu dalam berbagai iven pacu jalur, Pangeran Keramat Tangan Biso beberapakali meraih kemenangan.

“Monang lai tapi juara olun,” ujar Irun terkekeh. Maksudnya dalam event pacu tiga hari misalnya hari pertama dan kedua Pangeran Tangan Biso menang melawan jalur-jalur lain. Namun di hari ketiga baru kalah sehingga belum pernah juga mencapai puncak juara. Meski begitu hal ini sudah mengangkat marwah Desa Kampung Baru Sentajo yang sebelumnya selalu kalah di hari pertama.

Irun selalu dipanggil untuk menservis jalur-jalur yang dibuatnya di mana-mana. Termasuk di Kampung Baru Sentajo ini.

“Karena sudah banyak servis dan warga ingin jalur baru ya mereka bermusyawarah dan lalu masih memanggil saya untuk pembuatan jalur baru di desa ini,” ujarnya kepada Riau Pos, Jumat (7/6/2024).

Sementara itu di lokasi pembuatan jalur juga hadir Pj Kades Kampung Baru Sentajo Mashuri, Ninik Mamak Datuk Panghulu Bonsu, Menti Malin Asbar dan Ketua Jalur Syamsuri seorang pensiunan TNI. Pj Kades Mashuri bercerita baru dua bulan jadi Pj pemuda dan warga mendesaknya agar desa mereka memubat jalur baru saja.Baca Juga: Banjir dan Longsor Landa Gorontalo, Ribuan Warga Terdampak Banjir

“Lalu saya adakan musyawarah,” ujarnya.

Alasan pembuatan jalur baru karena jalur lama kalau diperbaiki lebih besar biayanya daripada membuat jalur baru. Lagi pula kayu lama sudah lapuk dan penuh tambalan bocor di sana-sini. Mashuri menjelaskan Pemdes saat itu tidak punya kas untuk mewujudkan keinginan itu. Apalagi dana pembuatan jalur bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta. Namun tekad warga tak bisa dibendung. Lewat pengumpulan dana proyek besar itu dimulai.

Ketua Jalur Syamsuri bersama anggotanya lalu mencari kayu ke hutan lindung desa mereka setelah mendapat izin dari pihak kehutanan setempat. Jarak hutan lindung dari desa mereka sekitar 7 Km. Namanya Hutan Kanagarian Sentajo yang luasnya mencapai 350 hektare. Mulanya tim pencari kayu menemukan dua jenis kayu yang dinilai cocok yakni Meranti Bungo dan Marsawa atau bahasa kampungnya Tonam. Lalu diputuskan bersama memilih Meranti Bungo.

Pada hari penarikan kayu dari hutan tidak kurang dari total warga 3.000 jiwa tidak kurang dari 2.000 warga tumpah ruah bersama-sama turun pada kegiatan itu.

“Sungguh terasa kekompakan dan kebersamaannya,” kenang Syamsuri.

Semua, lanjut Syamsuri, diputuskan bersama. Mulai dari penarikan kayu, membawanya ke tempat pembuatan dan memutuskan siapa tukang yang akan dipanggil mengerjakannya. Semua sepakat memutuskan Khairun kembali dipanggil membuatnya.

Meningkatkan Ekonomi Daerah

Di tempat terpisah saat menyambut rombongan ekspedisi wartawan Riau yang tergabung di PWI, Bupati Kuansing Suhardiman Amby Dt Panglimo Dalam mengatakan bahwa tradisi pacu jalur ini telah dikenal dunia lewat berbagai eskpose yang dilakukan wartawan maupun pemerintah.

Bupati menjelaskan pada pacu jalur hari pertama tahun 2023 terdata jumlah penonton di Tepian Narosa Telukkuantan berkisar 600-700 orang. Sedangkan per harinya menjelang puncak final pacu jalur jumlah penonton tercatat berkisar 400-500 orang setiap harinya.

“Data BPS menyebutkan perputaran uang selama kegiatan itu berlangsung mencapai Rp97 miliar,” ujar Bupati.

Bupati memberikan contoh sederhana bahwa dalam event yang belangsung lima hari itu terdata total jumlah penonton mencapai 1 juta orang.

“Bayangkan bila mereka belanja per orang saja Rp50.000 pada kegiatan itu maka ada Rp50 miliar dana berputar di event itu,” ujar Bupati.

Menurut Bupati kerja keras semua pihak menggaungkan tradisi pacu jalur ini membuat event ini masuk 10 besar event pariwisata di Sumatera dan masuk jadi agenda event wisata nasional. Menurut Bupati tradisi ini telah membantu meningkatkan ekonomi UMKM di daerah.

Ditambahkan oleh Kadis Pariwisata Kabupaten Kuantan Singingi Drs Azar MM bahwa tradisi pacu jalur memang kini telah menjadi perhatian luas. Menurutnya tercatat saat puncak event pacu jalur di Tepian Narosa Telukkuantan penonton tidak langsung melalui live streaming mencapai 24,7 juta view.

“Artinya selain sudah dikenal luas ternyata juga digemari,” ujar Azar.

Kadispar menjelaskan dari 15 kecamatan dan 218 desa di Kuansing hanya tiga desa yang tak memiliki jalur. Semua desa yang berada di pinggir Sungai Kuantan memiliki jalur.

“Jalur itu simbol marwah sebuah desa, khususnya di tepian sungai. Jalur bisa jadi pengangkat marwah desa bila menang apalagi jadi juara. Desa yang tak memiliki jalur dianggap desa yang tak ada lelakinya,” ujar Kadispar. Menurut Kadispar selama event pacu jalur berlangsung 472 kamar hotel, wisma dan homestay yang ada dipenuhi pengunjung.

“Juga kita siapkan sebanyak 70 unit rumah warga menampung tamu yang berkunjung. Kekurangan kita sampai sekarang belum ada hotel berbintang di kawasan ini sehingga untuk akomodasi masih memanfaatkan fasilitas yang ada. Kita berharap ke depan ada investor yang tergerak membangun hotel berbintang di sini,” ujarnya.

Lebih lanjut Kadispar menjelaskan bahwa tradisi pacu jalur Kuansing sejak 2015 telah masuk menjadi warisan budaya tidak benda. Warisan budaya tak benda seperti sastra lisan, mantra, nilai seni selembayung yang dipahat dijalur. “Artinya pacu jalur memberi kontribusi bagi warisan budaya tak benda yang lestari hingga saat ini,” ujarnya.

Potensi Wisata Kuansing Bisa Dimaksimalkan

Sementara itu Bupati juga menjelaskan potensi Kunasing bukan saja di bidang ini, tetapi juga banyak lagi. Luas Kabupaten Kuansing  mencapai 546 m3. 34 persennya merupakan wilayah penambangan emas. Di Kuansing juga ada kawasan Hutan Lindung Bukit Batabuh dengan luas mencapai 34 ribu hektare. Saat ini, lanjut Bupati, akibat perambahan liar dan alih fungsi lahan yang masih tersisa berupa hutan diperkirakan tinggal 9 ribu hektare saja lagi. 80 persen beralih jadi lahan perkebunan kelapa sawit. Masih di Kuansing juga ada berbatasan dengan Taman Nasional Teso Nilo (TNTN) yang memiliki luas 420 ribu hektare.

Menurut Bupati, bagian di Kuansing sekitar 40 persen dari total luasan TNTN sekitar 40 hingga 50 ribu hektare. Di dalam TNTN tersebut ada aneka flora dan fauna yang hidup di sana seperti beruang madu, harimau, gajah hingga buaya muara. Pesona wisata di TNTN cukup banyak seperti ada 43 air terjun. Di luar TNTN wilayah Kuansing tak kurang juga memiliki 7 air terjun seperti Batang Koban, Guruh Gemurai dan lainnya.

“Artinya penontotn pacu jalur tidak hanya selesai di event itu tetapi bisa berwisata dengan aneka potensi wisata yang Kuansing miliki,” ujarnya.

Oleh karena itu Bupati berharap event pacu jalur dan potensi pariwisata di Kuansing yang belum semuanya tergarap dengan maksimal perlu bantuan dan sentuhan pemerintah pusat agar meningkatkan semua potensi itu menjadi nyata.

“Kalau pemerintah pusat ambil bagian dalam iven ini mungkin dari segi promosi, pembiayaan atau juga membangun sarana dan prasarana yang ada maka potensi wisata pacu jalur Kuansing akan lebih berkembang dan durasi para wisatawan tinggal dan berwisata di Kuansing tentu lebih panjang,” ujarnya. Dengan demikian berefek positif bagi peningkatan ekonomi daerah.***

 

Editor : RP Edwar Yaman
#kuantan singingi #Jalur #marwah #Kehormatan #Tradisi Pacu Jalur #simbol